Terjebak Dendam Suamiku

Terjebak Dendam Suamiku
Bab 114. Bucinnya Bryan


__ADS_3

...🍀🍀🍀...


Maura tersungkur ke aspal, sementara pengendara motor itu melarikan diri setelah menyerempet Maura. "Ah... sudahlah, salahku sendiri kenapa aku melamun." gumamnya sambil melihat kaki kanannya yang terluka. Ketika dia mencoba berdiri dengan kedua kakinya, tiba-tiba saja tubuhnya kembali ambruk. "Aw...kakiku sakit," rintihnya sambil melihat ke arah kakinya.


Tak lama kemudian, ada mobil hitam berhenti di depan gerbang rumah Xander. Ada dua orang keluar dari sana dan mereka adalah Vera dan Bara.


Mereka menghampiri Maura di sebrang jalan dan gadis itu masih terduduk di aspal dengan kaki terluka. "Maura, kamu gak apa-apa? Ya ampun..." Vera memegang tangan Maura. Begitu pula dengan Bara, ia turut membantu kakak iparnya.


"Sialan tuh orang! Udah nabrak malah kabur," gerutu Bara sambil melihat plat nomor motor itu dan mengingat-ingatnya.


"Jangan salahkan dia Bara, aku yang salah...aku melamun." ucapnya sambil bergelayut di bahu Vera.


"Tapi tetap aja---ish itu orang benar-benar..." dengus Bara emosi.


"Uhh..."


"Kamu gak bisa jalan, Maura?" tanya Vera cemas.


"Aku bisa...ughh..." rintihnya kesakitan.


"Bar, kita bawa aja Maura ke rumah sakit. Kayaknya lukanya parah tuh," ucap Vera pada Maura.


"Gak usah kak Vera, aku gak apa-apa...nanti semua orang malah cemas dan panik." Maura membayangkan reaksi suaminya nanti kalau dia tau Maura terserempet motor.


"Kita bawa aja ke rumah sakit, kamu harus di obati itu.." Bara memegang Maura lalu dia menggendong kakak iparnya itu.


Entah kenapa hati Vera sakit melihat Bara menggendong Maura meski niat Bara hanya menolongnya. Ada rasa tidak nyaman di hatinya.


"Bara, gak usah! Kamu tau kan gimana kakak kamu, kalau dia tau aku terluka?" Maura masih menolak untuk diajak pergi ke rumah sakit.


"Biarin aja, kak Bryan kan suami kamu...dia berhak tau apa yang terjadi sama kamu. Udah ah kita ke rumah sakit! Daripada kaki kamu kenapa-napa." ucap Bara pada kakak iparnya.


"Iya Maura, lebih baik kamu ke rumah sakit aja. Biar lukanya di obati," ucap Vera memberi saran.


"Ya udah deh, tapi jangan bilangin Bryan dulu....soalnya dia lagi sibuk." kata Maura berpesan pada Bara dan Vera.


Bara dan Vera menganggukkan kepalanya. Saat Bara dan Vera akan membawa Maura ke rumah sakit, Clara melihat Maura di gendong oleh Bara yang akan masuk ke dalam mobil.


"Ya ampun! Apa yang terjadi? Sayang, kaki kamu kenapa? Bara, kakak ipar kamu kenapa?" tanya Clara heboh dan cemas melihat luka di kaki Maura.

__ADS_1


Maura hanya diam dan tidak fokus karena dia menahan rasa sakit di kakinya.


"Ma...tanyanya nanti aja ya, Bara mau bawa Maura dulu ke rumah sakit." Bara menggendong Maura ke kursi belakang.


"Oke! Mama ikut!" Kata Clara heboh.


"Gak usah ma. Kami buru-buru." ucap Bara lalu menutup pintu mobilnya. Bara pun menyalakan mesin mobil dan tancap gas ke rumah sakit.


"Tante, maaf ya kami buru-buru." Kata Vera pamit pada Clara yang bingung.


Mereka pun pergi meninggalkan Clara seorang diri yang panik dan kebingungan sendiri. "Aduh gimana ini kalau Maura kenapa-napa? Aku harus lapor Bryan, terus ke rumah sakit....pak Farhan! Cepat keluarkan mobil, antarkan saya ke rumah sakit!" teriak Clara panik pada kepala pelayan di rumahnya.


*****


Di kantor Xander grup, Bryan baru saja menyelesaikan meetingnya. Dia keluar dari ruang meeting, terlihat wajahnya yang lelah peluh dengan keringat. Dalam hatinya dia berharap kehadiran Maura yang membuatnya teduh di kala panas dan menyinari di kala gelap.


Jadwal Bryan pada hari ini mulai padat, setelah dia meninggalkan tugasnya 3 hari. Walau 3 hari, tapi pekerjaan begitu menumpuk.


"Seandainya aku bisa melihat istriku, pasti semua lelahku akan hilang. Ah ya lebih baik aku telpon dia dan ajak dia makan siang, dia pasti sudah bertemu dengan Nathan dan Jessica." Bryan hendak mengambil ponselnya yang ada pada Ferry. Setiap rapat, kadang Bryan menitipkan ponselnya pada Ferry atau memode getarkan ponselnya itu.


"Pak!" teriak Ferry dengan tergesa-gesa menghampiri bosnya itu.


"Ada ada Ferry? Kenapa kamu berteriak seperti itu?" tanya Bryan dengan kening berkerut. Tak biasanya si sekretaris serba bisa itu berteriak kepadanya.


Sontak saja Bryan tercengang mendengar berita bahwa istrinya masuk rumah sakit. "Rumah sakit mana?!" teriak Bryan seraya bertanya dengan wajah panik.


Bryan meninggalkan semua pekerjaannya dan mengalihkannya kepada Ferry. Dia pergi ke rumah sakit sendirian untuk menemui istrinya. Dia berlari melewati ruang UGD, tanpa peduli menabrak orang atau sebagainya. Dia seakan tidak peduli dengan keadaan di sekitarnya karena rasa panik itu.


"Bryan, kamu sudah datang?" sambut Clara melihat putranya ada di sana.


"Dimana istriku, Ma?" tanyanya tanpa menyapa Vera dan Bara yang juga ada di sana. Yang ada di pikirannya saat ini ya Maura saja.


"Istri kamu di dalam dia masih di--"


Belum sempat Clara menyelesaikan ucapannya, Bryan sudah menerobos masuk ke ruang UGD. Bara dan Vera melihat perhatian Bryan pada Maura.


"Sekarang aku paham kenapa Maura melarang kita untuk memberitahu kakakmu," ucap Vera seraya melirik ke arah Bara.


"Ya, dia sangat mencintai Maura dan bucin nya sudah maksimal." sahut Bara membenarkan, seraya tersenyum.

__ADS_1


Ya, Maura...kamu sudah bersama orang yang tepat.


#Ruang UGD#


Dokter terlihat sedang memasang gips pada kaki Maura. Bryan buru-buru menghampiri istrinya dengan cemas. "Sayang, kamu kenapa?"


"By? Kenapa kamu disini?!" gadis itu terlonjak kaget melihat Bryan berada disana


"Dok, bagaimana keadaan istri saya? Ya ampun...kakinya sampai seperti ini, dok apa yang terjadi? Kenapa istri saya--" Bryan mengoceh tanpa henti menanyakan keadaan istrinya. Akan tetapi Maura menutup mulut suaminya itu.


"By... Stop! Aku gak apa-apa, kamu gak usah cemas...lagian kenapa kamu kemari sih?"


Bryan menyingkirkan tangan Maura yang menutup mulutnya. "Kamu tanya aku kenapa aku kesini? Tentu saja untuk melihat istriku yang katanya terluka!"


Suami-istri itu malah berdebat didepan dokter, yang satunya cemas dan yang satunya lagi tak mau dicemaskan. Dokter pun akhirnya berdehem menghentikan perdebatan mereka.


"Maaf pak, Bu, apa saya bisa menjelaskan kepada Bu Maura?"


"Ya dok! Silahkan! Maaf saya sudah membuat keributan." Bryan sadar diri bahwa dirinya sudah membuat ribut di sana.


Hem, ternyata dia sadar diri sudah membuat ribut.


"Ehem baik, saya akan menjelaskan kondisi Bu Maura. Pergelangan kaki Bu Maura terluka, ada ligamennya yang robek juga, untuk sementara jangan biarkan Bu Maura berjalan banyak, tapi bapak jangan khawatir...istri bapak akan membaik dalam beberapa hari, nah..saya akan resepkan obat untuk istri bapak. Silahkan di tebus di apotik dan selesaikan administrasinya nya."


Presdir Xander grup itu manggut-manggut. "Oke dok, apa perlu istri saya di rawat? Saya takutnya terjadi sesuatu pada istri saya."


"Tidak usah pak, di rawat di rumah saja bisa kok." kata dokter.


"Tapi dok, luka istri saya--"


"By, udah ya! Kata dokter kan aku sudah boleh pulang, jadi ya udah. Aku mau pulang."


"Dok, tolong lakukan pemeriksaan ulang lagi.. takutnya terjadi sesuatu pada istri saya. Mungkin ada luka dalam atau--"


Maura kembali membekap mulut Bryan dengan tangannya. Dia menatap suaminya dengan kesal.


"Dokter, maafkan suami saya ya? Dia cerewet, hehe." Tidak enak Maura pada dokter itu karena suaminya yang begitu cerewet.


"Tidak apa, cerewet tandanya bucin Bu..." sahut dokter itu seraya tersenyum.

__ADS_1


Setelah itu Bryan membawa istrinya pulang ke rumah, tanpa membiarkan wanita itu berjalan. Dia masa bodoh dengan pekerjaannya, biarkan saja Ferry yang sibuk. Meski Maura memintanya pergi, pria itu tetap tinggal tak mau meninggalkannya walau sekejap.


...****...


__ADS_2