
...🍀🍀🍀...
Beberapa kali Bryan menelpon Maura namun tidak diangkat juga olehnya. Ya, Maura kesal dan Maura cemburu melihat foto Bryan yang dekat dengan seorang wanita dan wanita itu mencium pipi Bryan dengan mesra.
Sungguh! Hati Maura terbakar oleh api yang bernama cemburu. Ia sengaja mengabaikan panggilan telepon, memilih untuk tidak mengangkat ataupun menolak panggilan tersebut. "Huh dasar bule setengah nyebelin!"
Siapa sih perempuan itu? Kenapa aku sangat marah? Apa aku cemburu...
Maura pun beranjak dari tempat tidurnya, dia memilih mengabaikan panggilan dari Bryan dan berjalan pergi ke kamar ayahnya. "Pak Arya, bapak masih belum pulang?" Maura melihat Arya masih berada di kamar ayahnya. Padahal hari sudah malam.
"Hehe iya Bu, sebentar lagi saya pulang kok. Saya lagi cek dulu...obat yang akan diminum pak Samuel untuk besok." Arya tersenyum lebar tangannya memang sedang merapikan obat dan memilah-milahnya. Sementara Samuel matanya terpejam, dia berbaring di atas ranjang sepertinya dia tidur.
"Pak Arya, makasih ya pak sudah bantu merawat ayah saya. Kalau gak ada bapak, gak tau deh apa jadinya ayah saya." Jelasnya sambil tersenyum.
"Gak usah bilang makasih Bu, saya kerja di sini juga kan nggak gratis. Saya dibayar sama pak Bryan dan saya sangat senang bisa merawat pak Samuel." Arya lihat hangat dan ceria dari luar. Membuat Maura merasa lega karena menitipkan ayahnya kepada Arya.
Ya, aku senang sekali bisa merawat penjahat wanita ini. Karena aku bisa menyiksa dia sampai mati, sama seperti dia sudah membuat masa depan adikku hancur.
"Pokoknya terima kasih banyak ya pak Arya--semoga Bapak betah kerja di sini merawat ayah saya. Kalau ada yang Bapak perlukan atau bapak keluhkan, silakan Bapak katakan kepada saya." Dengan senang hati Maura akan membantu pria yang sudah merawat ayahnya.
Sejahat apapun perilaku seorang ayah, Maura tidak sampai membencinya karena status Samuel adalah ayah kandungnya. Namun, perilaku Samuel terhadap para wanita wanita itu tidak bisa dimaafkan begitu saja. Mungkin, stroke ringan yang kini dialaminya adalah salah satu hukum yang bernama karma.
Sesaat Arya menatap Maura dengan tatapan yang sayu. Dalam hati ia sangat menyayangkan karena gadis sebaik malaikat secantik bidadari, memiliki perasaan lemah lembut. Terlahir dari bapak bejat yang bernama Samuel Agradana, rasanya Arya tidak percaya. Ayahnya seorang penjahat, iblis yang memangsa wanita muda sedangkan anaknya adalah seorang malaikat tak bersayap.
"Pak? Apa bapak denger saya?" Tanya Maura bingung melihat Arya bengong.
"Maaf Bu, barusan saya ngantuk. Hehe." Alibinya sambil tersenyum.
"Ya sudah, bapak pulang saja sekarang. Biar saya yang menyiapkan obat untuk ayah saya dan menjaganya."
Arya mengambil tasnya, dia terpesona kagum dengan kebaikan hati Maura. Betapa beruntungnya Bryan mendapatkan gadis sebaik Maura, meski statusnya hanyalah janda.
"Oke kalau begitu saya pamit ya Bu, kalau ada apa-apa dengan Pak Samuel. Ibu Maura bisa hubungi saya."
"Baik pak, sekali lagi terima kasih ya Pak!" Maura berterima kasih dari lubuk hatinya yang terdalam pada Arya.
Arya pun pergi meninggalkan rumah keluarga Agradana. Kini Maura berada di kamar ayahnya, dia menatap Samuel yang tengah tertidur lelap. "Ayah... mengapa ayah begitu kejam pada seorang wanita? Ayah... Aku ingin ayah sembuh, lalu mempertanggungjawabkan semua perbuatan ayah. Aku ingin ayah menyesali semua perbuatan yang telah ayah lakukan sebelum semuanya terlambat." Gumam Maura sambil menghela nafas menatap ayahnya itu.
*****
Di dalam restoran hotel Xander. Bryan memang sedang bersama seorang wanita, tapi dia tidak hanya berdua dengan wanita itu. Ada satu orang pria lagi disana yang menemani.
"Hey kak Bryan, what's wrong with you?" Tanya perempuan berambut pirang itu sambil memegang dagu Bryan.
"Damn! Hentikan itu Stella!" Bryan berujar dengan kesal, ia menampik tangan yang memegang dagunya itu. Lalu dia membersihkan dagunya dengan tisu. "Ish..."
"Kak Bryan, Kenapa sih dari tadi kamu kelihatan resah? What's wrong?" Tanya gadis bernama Stella itu. Sedari tadi Stella melihat wajah Bryan yang terlihat resah Setelah dia menerima pesan masuk dari seseorang.
Bryan beranjak dari tempat duduknya, ia terlihat buru-buru. "Sorry, kita bisa kan bicarain masalah proyek ini nanti lagi?"
"Kenapa buru-buru banget kak? Kakak juga belum menghabiskan makanannya!" Stella memegang tangan Bryan, menatapnya seolah tak rela pria itu pergi dari sana.
Pria itu kesal dan menepis tangan Stella. "Saya ada urusan penting, Bu Stella. Dan tolong jangan pegang-pegang tangan saya sembarangan, saya nggak suka." Bryan bergidik ngeri setelah tangannya disentuh oleh wanita selain kekasihnya.
Aku benar-benar tidak percaya, ternyata rekan bisnisku adalah Stella.
"Maaf kak, tapi kenapa kakak buru-buru begitu?" Stella memelas menatap pria tampan itu.
Hem, aku baru saja bertemu lagi dengan Kak Bryan dan dia sudah ingin pergi buru-buru begitu. Siapa sih orang yang mengirimkan pesan padanya?
"Saya ada urusan penting. Pak Wilan, Bu Stella saya minta maaf...kita akan buat janji di lain hari."
Little girl...aku gak tenang kalau kamu marah kayak gini. Jadi gak fokus. Tubuh pria itu berada disana, tapi hati dan perasaannya ada pada Maura.
"Bapak pak, saya akan buat janji temu lagi dengan bapak." Wilan langsung paham dengan apa yang dikatakan oleh Bryan.
"Urusan penting apa sih kak...?" Suara Stella merengek seperti anak kecil pada Bryan.
Bryan tidak menjawab pertanyaan Stella dan ia bersikap profesional layaknya sedang bekerja. Ia dan Stella memang sudah saling kenal sejak lama saat di luar negeri. Entah apa alasannya, Bryan terlihat sangat tidak suka pada Stella.
"Kak! Kak Bryan! Aku belum selesai bicara!" Stella memanggil Bryan yang sudah pergi darisana. Stella mendengus kesal melihat Bryan. "Wilan, apa tadi dia ada bicara di telpon selagi aku pergi ke kamar mandi?" Stella melirik ke arah Wilan, sekretarisnya.
"Ehm...itu..."
Haruskah memberitahu hal pribadi seperti ini?
"Jawab Wilan!"
__ADS_1
"Sepertinya pak Bryan sedang bicara dengan pacarnya." Ungkap Wilan tentang apa yang dilihatnya.
"What?" Stella terperangah tak percaya mendengar jawaban dari Wilan. "Kak Bryan punya pacar? Gak mungkin, dia tuh cuma deket sama aku doang!" Kata Stella percaya diri.
Wilan tidak bicara lagi, bos dan sekaligus temannya ini memang sangat narsis dan dia sangat terobsesi dengan Bryan. "Kalau dia punya pacar memangnya kenapa?"
"Ya gak boleh lah, kak Bryan cuma boleh sama aku."
"Haihh...ya sudahlah terserah. Stella, kita pulang saja...ini sudah malam."
"Kamu itu sekretaris ku! Gak usah sok ngatur deh!" Seru Stella sambil menyilangkan kedua tangannya di dada.
"Tapi kamu jangan lupa, aku ini sahabat kamu."
"Ya, kamu sahabat aku! Jadi jangan melewati batasan itu karena yang aku sukai itu kak Bryan dan aku hanya akan menikah sama dia!"
"Fine, terserahlah." Wilan hanya tersenyum saja menanggapinya.
Stella, masih saja kamu mengharapkan pria yang jelas-jelas tidak ada kamu di hatinya.
Stella dan Wilan pun pulang bersama setelah janji temu mereka dengan Bryan dibatalkan.
*****
Tak lama kemudian, Bryan sampai di rumah Maura. Mang Udin membukakan pintu gerbangnya dan mobil Bryan masuk ke sana.
"Makasih ya mang Udin,"
"Sama-sama pak." Sambut Mang Udin ramah.
Bryan keluar dari mobil sambil membawa bingkisan buket coklat untuk kekasihnya itu. Dia memencet bel rumah Maura dan Evan yang membukakan pintunya. "Pak Bryan? Bapak ngapain kesini malam-malam begini?" Tanya Evan dengan kening berkerut. Matanya menatap buket coklat yang dibawa oleh Bryan.
"Saya mau bertemu dengan Maura."
"Hehe, rasanya saya menanyakan hal yang tidak perlu ditanyakan. Silahkan masuk pak!"
"Terima kasih pak Evan."
Evan mempersilahkan Bryan untuk masuk ke dalam rumah dan Brian pun mengikuti Evan masuk ke dalam rumah lalu dia duduk di sofa ruang tengah. "Saya akan panggil Maura dulu ya, tadi sih dia ada di kamar Om Samuel." Kata Evan sambil tersenyum.
"Baik pak."
"Eh?"
"Langsung ke atas aja pak, saya mau angkat telepon dulu." Evan langsung pergi begitu saja ke arah dapur, setelah dia memberitahu Bryan untuk langsung naik ke lantai atas saja menemui Maura.
Bryan ragu-ragu, tapi dia tidak bisa menunggu lebih lama lagi untuk bicara dengan kekasihnya. Akhirnya Dia memberikan diri untuk naik ke lantai atas dan menemui Maura. Ia melihat di kamar Samuel tidak ada Maura disana, hanya ada Samuel yang sedang tidur.
"Apa little girl ada di kamarnya ya?" Gumam Bryan mencari-cari keberadaan kekasihnya.
Ketika ia berjalan ke arah kamar Maura, sekilas ia melihat seseorang yang tertidur di kursi panjang dekat balkon. Bryan mendekati orang itu dan berjalan ke balkon.
"Little girl?" Bryan terpana melihat Maura yang memakai setelan piyama tidur tipis, sedang tidur di atas kursi panjang. "Apa dia tidak dingin tidur disini?"
Bryan menyingkirkan anak rambut Maura ke belakang, hingga membuat wajahnya terlihat indah di bawah sinar bulan. Sungguh! Maura sangat cantik, seperti bidadari yang turun dari kayangan. Itulah yang dilihat Bryan pada Maura saat ini.
Setiap melihat wajahnya, Bryan tak sabar ingin segera memasangkan cincin di jarinya dan mengikat wanita itu seumur hidup di sisinya. "Cantik,"
Si Bara benar-benar bodoh, wanita secantik dan sebaik ini dia sia-siakan. Ya, karena aku lah yang beruntung akan mempersuntingnya.
"Unghh..." Maura menggeram, ditengah tidurnya. Lalu dia membuka matanya perlahan-lahan dan melihat Bryan ada didepannya.
Huh? Bryan ada disini? Ah...aku pasti bermimpi. Tak mungkin dia ada disini.
"Tidurnya di dalam sayang, disini dingin." Ucap pria itu sambil menatap Maura dengan lembut.
"Dasar bule setengah, bule jadi-jadian! Bahkan ketika aku sedang tidur saja, kamu menganggukku!"
"Bule setengah? Jadi-jadian?"
"Heh! Kenapa kamu masih ada disini sih? Cepat pergi dari sini! Aku gak mau lihat kamu, aku sebel."
"Little girl...aku gak akan pergi sebelum kamu dengarkan penjelasanku dulu." Bryan duduk di samping Maura yang masih berbaring itu
"Bodo! Aku tak mau tau, apa yang terjadi sama kamu dan wanita itu," Maura memalingkan wajahnya dari Bryan.
"Jelas-jelas kamu cemburu dan kamu membutuhkan penjelasan dariku!" Bryan tersenyum terus.
__ADS_1
"Kenapa aku bisa bicara dengannya di dalam mimpi ya?" Gumam Maura pelan.
Pria itu terkekeh kecil mendengar gumam Maura. "Little girl..."
"Diam kamu! Aku tidak mengizinkan kamu bicara, ini adalah mimpiku. Jadi akulah yang harus bicara di sini dan kamu diam saja mendengarkanku!" Ujar Maura pada Bryan sambil menatapnya dengan tajam.
"Oke fine ak--"
"Ssstt....aku kan sudah bilang, kamu jangan ngomong aku aja yang ngomong!"
Bryan langsung menutup mulutnya, menggerakkan tangan seperti meresletingkan sesuatu tapi dibibirnya. "Bry, sebenarnya aku marah sama kamu. Tapi aku tau sebenernya aku gak berhak marah sama kamu walau aku adalah pacar kamu. Kamu tau kenapa? Karena aku merasa tidak percaya diri. Kenapa aku gak percaya diri? Itu karena aku merasa gak pantas buat kamu Bry. Aku kan pernah menikah, aku pernah hamil, sedangkan kamu...kamu masih lajang, kamu ganteng, kamu cerdas dan kamu sempurna. Kamu bisa mendapatkan wanita yang jauh lebih baik daripada aku... seharusnya--hmphh--"
Bryan membungkam bibir Maura dengan membenamkan bibirnya. Pertama hanya menyatukan bibir saja, lama kelamaan lidah mereka saling membelit dalam sana. Ciuman Bryan yang lembut, berubah menjadi lebih intens.
Tangan kekar Bryan meraih pinggul Maura dan secara otomatis mendekatkan tubuh mereka.
"Ungghh..." lenguh Maura ditengah ciuman intens yang diberikan oleh Bryan itu.
Ini kan cuma mimpi, tapi kenapa sentuhannya begitu nyata?
Tangan Maura mengalung dileher Bryan secara refleks, mereka berdua menikmati ciuman intens itu. Setelah beberapa detik, barulah Bryan melepaskan pagutan bibir mereka dan memberikan Maura kesempatan untuk bernafas.
Tangan Maura masih berada di bahu Bryan. "Haaahhh... haaahhh...kenapa mimpi saja bisa begitu nyata?" Tanya Maura dengan wajah polosnya, masih mengira bahwa dirinya yang berciuman dengan Bryan adalah mimpi.
Chu~
Sekilas, Bryan mengecup lagi bibir Maura dan membuat gadis itu tertegun. "Maura, my little girl... listen to me. Aku akan jelasin apa yang terjadi di restoran itu, kamu dengarkan aku baik-baik ya? Jangan marah dulu!" Bryan meletakkan tangannya pada wajah Maura.
"Bryan? Ini benar-benar kamu!" Gadis itu terbelalak bukan main, ternyata Bryan bukanlah mimpi.
"Iya ini aku. Jadi dengerin aku dulu bentar ya?"
Maura menganggukkan kepalanya.
"Good! Jadi tadi tuh aku janjian sama klien ku, cewek itu dia adalah klienku dan dia dari luar negeri." Bryan berusaha menjelaskan pada Maura apa yang terjadi.
"Terus kalian berduaan saja di sana?" Maura tak tahan untuk tidak bertanya.
"Nggak, aku bertiga sama sekretarisnya juga dan dia cowok."
"Hem...tapi kok gak ada di foto itu ya?"
"Oh ya! Soal foto, siapa yang kirim kamu foto itu?" Bryan yang sedang menjelaskan, balik bertanya siapa pengirimnya.
"Stop! Disini kita lagi bahas kamu dan kamu gak boleh balik nanya, aku yang boleh tanya. Jadi, teruskan penjelasan kamu sekarang. Siapa cewek itu, pasti bukan sekedar klien kan? Apa dia mantan pacar kamu?"
Bryan terkesiap mendengarnya. "Hah? Little girl, kamu tau aku kan gak pernah berhubungan dengan wanita selain kamu!"
"Oke, terus kenapa dia kamu ciuman sama dia kalau gak ada hubungan?" Maura menajamkan pandangannya pada Bryan.
"Ralat-- aku gak ciuman ya sama dia, tapi dia yang cium aku!" Bryan meralat ucapan Maura.
"Oke, maaf aku salah. Aku ganti pertanyaannya deh, kenapa kamu gak menghindar waktu dia cium kamu??"
Perasaan apa ini? Kenapa aku suka melihat Maura marah dan cemburu begini, ya?. Bryan terdiam sejenak.
"Bry!"
"Aku gak sempat menghindar, bahkan aku gatal-gatal saat dia nyentuh aku. Kalau kamu gak percaya, lihat nih..." Bryan menunjukkan pipinya yang ada bintik-bintik merah. Maura melihat bintik merah itu dan merasa kasihan pada Bryan.
"Ya ampun...ini--" Maura memegang pipi Bryan, menatap pria itu dengan cemas.
"Kasihan kan aku? Alergiku kambuh...aku kedinginan dan aku gak bohong sama kamu...benaran aku emang gak bisa nyentuh wanita lain selain kamu."
Maura mulai iba dengan Bryan yang memelas Dan terlihat kasihan itu. Ia sudah jauh-jauh datang kemari malam-malam dalam keadaan alergi mysophobia-nya kambuh. Maura jadi tidak tega untuk memarahinya lagi. "Aku obatin ya,"
"Tapi aku belum selesai jelasin."
"Obatin dulu, terus kita bicara." Ucap Maura lembut.
Ya Allah, amazing sekali...aku ingin diperhatikan seperti ini oleh Maura setiap hari.
...****...
...Bonus visual...
...Bryan Seager Xander, si bule setengah 😂...
__ADS_1