Terjebak Dendam Suamiku

Terjebak Dendam Suamiku
Bab 45. Tetap pada keputusan


__ADS_3

...πŸ€πŸ€πŸ€...


Maura terdiam ketika Bryan menatapnya dalam, melontarkan pertanyaan yang membuat jantungnya berdegup kencang. Entah apa yang wanita itu rasakan, rasanya tidak karuan.


Perasaan apa ini? Kenapa aku merasa hatiku tidak tenang?


"Apa setelah semua yang kulakukan kamu hanya menganggapku teman?" Bryan mengulang lagi pertanyaannya, kali ini dia menggenggam tangan Maura semakin erat.


Maura semakin berdebar disentuh oleh Bryan, dia tak dapat menjelaskan perasannya yang sudah dia rasakan ketika dia berada di pesta ulang tahun Xander grup..


Tangan Maura gemetar, Bryan juga melihat ada rasa khawatir didalam wajah Maura. Dia pun akhirnya melepaskan tangan Maura.


Oh my God! Sepertinya aku memang terlalu terburu-buru. Dia baru saja melalui kejadian buruk dan aku malah mendorongnya, ini bukan saatnya Bryan. Little girl butuh waktu untuk menyelesaikan hatinya, menata perasaannya.


"Maaf, apa kamu-"


KLAK!


Bryan tidak menyelesaikan ucapannya saat seseorang membuka pintu ruangan itu. Terlihatlah Alya dan Ghea berada disana, Maura dan Bryan menatap dua orang itu dengan tajam.


"Pantas saja kamu bersikeras ingin bercerai dengan kakakku, ternyata kakak sudah punya cadangan yang baru." Kata Ghea sarkas pada Bryan dan Maura.


"Keep your mouth! Sebelum aku merobeknya," tunjuk Bryan pada gadis yang baru saja akan berkuliah itu.


Apa dia selalu bersikap seperti ini pada Maura? Awas saja, aku akan balas dia!


"Hem," Ghea memalingkan wajahnya ketika dia di nasehati oleh orang yang lebih tua.


"Ghea, tolong jaga bicara kamu nak! Jangan lupa tujuan kita datang kemari," ucap Alya pada anaknya itu. Ghea terlihat malas dan sinis didepan Bryan dan Maura.


Bryan naik pitam, dia tidak suka dengan sikap Ghea yang tidak sopan padanya dan juga Maura. "Anak ini benar-benar tidak tahu-"


Maura memegang tangan Bryan, meminta pria itu untuk diam. "Pak, apa bapak bisa tinggalkan kami bertiga? Ada yang harus saya bicarakan dengan ibu dan anak ini." Pinta Maura pada Bryan. Dia sudah paham kedatangan Alya dan Ghea pasti ada maksud lain, yang pasti maksud lain itu bukanlah untuk menjenguknya.


"Baiklah, aku akan keluar sebentar. Kalau mereka macam-macam, kamu teriak saja." ucap Bryan sambil menghela nafas.


"Bapak tenang saja," Maura tersenyum.


Sebenarnya Bryan enggan meninggalkan Maura bersama dua orang yang pernah menyiksanya itu. Namun Bryan juga tak punya hak untuk melarang Maura bertemu dengan siapapun, dia dan Maura tidak memiliki hubungan lebih dari bisnis di mata Maura.


Usai melihat Bryan keluar dari ruangan itu, Maura langsung bicara pada Alya dan Ghea. "Apa saya harus tanya lagi kenapa kalian kesini?" tanya Maura sinis.


"Maura, tolong kamu jangan marah dulu. Kami kesini untuk menjengukmu," ucap Alya sambil menyimpan buah tangan yang dia bawa ke atas meja.


"Tolong jangan pura-pura baik didepan saya karena itu tak berguna. Serahkan saja surat pemindahan kekuasaan harta dan surat cerai itu," ucap Maura pada Alya tanpa basa-basi, sudah terlalu sakit hatinya berbuat baik pada orang yang malah menggigitnya.


"Heh! Kamu gak sopan ya sama ibuku, ibu udah niat baik mau jenguk kamu...dan kamu malah bersikap arogan?" Ghea memarahi Maura yang dianggapnya tidak sopan pada ibunya.


"Heh! Kamu mau bicara tentang kesopanan denganku? Kamu tidak pantas untuk itu! Seharusnya kamu berkaca sendiri, bagaimana akhlakmu!" Maura menatap tajam ke arah Ghea, dia semakin tidak suka saja dengan gadis itu yang notabennya masih berstatus adik ipar Maura.


"Ghea hentikan! Kita kemari untuk menjenguk kakak iparmu dan bicara dengannya," ucap Alya meminta Ghea untuk berhenti bersikap angkuh didepan Maura.


"Tapi ibu, wanita ini-"


"Ghea cukup!" Alya memotong ucapan Ghea.


Hanya Maura yang bisa melepaskan Bara, maka aku harus menundukkan kepala didepan Maura. Belum lagi dosa kami begitu besar padanya. Dalam hati Alya merasa bersalah pada Maura, dia menyesal telah membuat Maura dan keluarganya menderita.


Maura tersenyum sinis, saat mendengar kata kakak ipar dari mulut Alya yang tandanya masih mengakui dirinya sebagai menantu keluarga itu.


"Langsung saja katakan, apa yang mau kalian katakan? Ini sudah jam istirahat dan jam besuk sudah hampir selesai," ucap Maura tegas.

__ADS_1


Alya tidak bicara, dia mengeluarkan sesuatu dari tasnya, yaitu amplop berwarna coklat. Dia menyerahkan amplop coklat itu pada Maura, lalu Maura membuka apa yang ada didalamnya.


Dia melihat secarik kertas disana dan membacanya. Maura tersenyum melihat isi surat yang ada tanda-tangan Bara didalamnya.


Bagus, sekarang perusahaan Agradana sudah beralih lagi pada namaku. Semua aset Agradana juga sudah kembali pada tempatnya, ayah...tinggal ayah saja yang harus segera sehat, agar kebahagiaan ini lengkap.


"Bagus Bu, lalu dimana surat gugatan cerai saya?" Maura menanyakan surat gugatan cerai yang dibuatkan oleh pengacara Bryan dan diserahkan pada Alya untuk ditandatangani oleh Bara.


Alya dan Ghea terdiam, mereka saling melirik dengan wajah bingung dan tak tau mau jawab apa. "Sudahlah! Kamu sudah mendapatkan semua kekayaanmu, sekarang tinggal kamu yang bebaskan kakakku dari penjara. Cepat cabut tuntutanmu," ucap Ghea tidak sabar.


"Maaf, saya belum bisa melakukannya. Syaratnya belum lengkap, jadi mungkin terpaksa DIA harus mendekam di penjara lebih lama." Kata Maura tegas dan tajam, Maura bahkan tidak sudi mengucapkan nama Bara dan menggantinya dengan kata 'Dia.


Kenapa Bu Alya belum menyerahkan surat cerainya? Apa Bara tidak mau menandatanganinya? Tapi...mana mungkin.


"Maura maafkan ibu, tapi sebenernya Bara..." Alya ragu-ragu menjelaskan tentang Bara pada Maura.


"Katakan saja Bu? Kenapa surat cerai saya belum ibu serahkan?" Maura bertanya tanpa basa-basi, dia ingin segera mengakhiri pernikahannya dengan mudah.


"Bara menolak untuk menandatangani surat cerainya," jawab Alya meluncur jujur dari bibirnya.


Maura mengepalkan tangan, menggenggam erat selimut yang menutupi kakinya. Matanya membulat mendengar jawaban dari Alya.


Bara menolak? Kenapa?


"Apa maksud ibu? Kenapa dia menolak untuk TANDA TANGAN?!" Teriak Maura emosi.


Ghea dan Alya terkejut dengan kemarahan Maura, wanita yang selalu diam jika mereka tindas itu bahkan bisa berteriak dan emosi.


Pintu ruangan itu terbuka, tiba-tiba Bryan langsung masuk ke dalam ruangan. "Ada apa?"


Aku mendengarnya berteriak, kupikir mungkin terjadi sesuatu.


"Maura maafkan ibu, tapi Bara tidak mau mendatangani surat itu karena dia ingin memulai hidup baru denganmu dan dia menyesali semua perbuatannya." ucap Alya menjelaskan.


Bryan tercengang mendengarnya, bahwa Bara menolak menandatangani surat cerai dan ternyata tidak mudah untuk membuat Bara dan Maura berpisah.


Maura tiba-tiba tertawa getir, "PFut...hahaha, memulai hidup baru? Menyesal? Apa orang seperti dia bisa menyesal dan memulai hidup baru? Jangan konyol! Anak ibu melakukan ini karena dia ingin menyiksa saya lebih lama!" Maura marah dan emosinya meledak-ledak tidak bisa dikendalikan.


"Tidak Maura...Bara benar-benar menyesal, dia bilang seperti itu pada-" Alya berucap namun Maura memotongnya lagi.


"CUKUP! Itu pilihannya, kalau dia masih mau berada didalam penjara, ya sudah." kata Maura sambil memegang dadanya.


Sesak sekali dadaku ini.


Bryan menghampiri Maura, dia meminta pada Maura agar tetap tenang karena keadaannya masih belum benar-benar pulih.


"Maura...ibu mohon. Kasihan Bara, dia pasti akan menderita di penjara!" Alya memohon pada Maura untuk melepaskan Bara dari penjara.


"Jangan memohon pada saya bu, itu pilihan anak ibu sendiri! Saya tetap pada keputusan saya, saya ingin berpisah." Kata Maura tidak mau berubah.


Kamu tidak boleh mengikatku lagi seperti ini Bara, tidak boleh. Aku ingin hidup bebas, bahagia dan bahagiaku bukan denganmu.


"Ibu tidak pernah menentang keputusan kamu untuk berpisah dengan Bara, tapi Bara yang keras kepala dan tidak mau berpisah dengan kamu. Maura, apa kamu bisa memberikan dia kesempatan satu kali lagi? Allah sangat melarang perceraian..."


Maura menatap Alya dengan tajam. "Jangan bawa-bawa nama Allah dalam urusan ini Bu, ini urusan saya dan DIA. Ibu katakan saja padanya, kalau dia ingin keluar dari penjara...maka dia harus tandatangani surat cerai itu atau kasusnya yang KDRT terhadap saya akan sampai ke pengadilan." Wanita itu mengancam Alya.


Alya dan Ghea pun pergi dari sana setelah pembicaraan mereka tidak berjalan lancar dengan Maura. Alya sudah berupaya membujuk Bara, tapi Bara tetap menolak. "Ibu, kenapa sih kak Bara menolak menceraikan wanita itu? Bukankah Bara sangat membencinya?"


"Ghea kamu tidak mengerti dalamnya hati kakakmu, siapa tau yang benci di luar sebenarnya didalam itu sebaliknya." Kata Alya sambil menundukkan kepalanya.


"Apa maksud ibu dalam hati sebaliknya? Memangnya kak Bara dalam hatinya ada apa?" Ghea bertanya karena dia benar-benar tak paham dengan ucapan ibunya.

__ADS_1


Ibu dan anak itu berada dalam perjalanan pulang ke rumah Agradana sebelum mereka keluar dari rumah itu.


*****


Bryan menenangkan Maura, dia bahkan mengambilkan air minum dengan penuh perhatian pada Maura. "Kamu sudah tenang?" tanya Bryan pada Maura.


"Iya, sudah...terima kasih pak Bryan."


"Aku kaget loh, ternyata dengan tubuh kecil ini suaramu sangat besar!" Bryan tersenyum, dengan niat hati ingin mencairkan suasana.


"Apa bapak lagi mengejek saya?" Kening Maura berkerut menatap pria itu.


Tangan Bryan menyentuh kening Maura, "Jangan mengerutkan keningmu seperti itu, nanti kamu cepat tua... Rara gembul." Bryan tersenyum.


"A-apa? Lagi-lagi bapak begitu.." gumam Maura sebal.


Kenapa ya rasanya aneh saat berada didekat pak Bryan?


"Memang kok, kamu tambah tua kalau terus mengerutkan keningmu. Lebih baik kerutkan saja bibirmu dengan senyuman." Kata Bryan sambil menepuk-nepuk kepala Maura dan mengelusnya.


"Saya bukan anak kecil, tau!" Maura menepis tangan Bryan yang mengelus kepalanya.


"Oh ya, bagaimana dengan dia? Apa kamu akan diam saja dengan keputusannya? Apa kamu tidak mau bercerai juga?"


"Saya tetap pada keputusan saya, saya akan bercerai pak!"


Untuk memulai hidup yang baru, aku harus melepaskan semua kenangan lama yang buruk ini.


Bryan tersenyum senang mendengar keteguhan hati Maura, setidaknya dia bisa tenang meski Maura belum peka terhadap perasaannya karena dia sedang berusaha bangkit dari kenangan masa lalunya. Tidak apa baginya menunggu Maura, toh waktu pasti akan membuat wanita itu berpaling.


"Baiklah, aku akan siapkan pengacara terbaik untuk membantumu."


"Tidak perlu pak, ayah saya juga punya pengacara sendiri...saya tidak mau merepotkan bapak lagi," ucap Maura merasa tak enak.


"Tidak, sama sekali tidak merepotkan kok."


Dreett...


Dreett..


🎢🎢🎢


"Pak, ponsel bapak berdering tuh!" Kata Maura yang mendengar suara ponsel berbunyi.


"Iya, sebentar ya." Bryan berjalan ke dekat pintu dan dia mengangkat telponnya disana. "Ferry, ada apa?"


"Pak, saya sudah lakukan apa yang bapak minta." Kata Ferry melapor.


Bryan tersenyum smirk, "Bagus...pastikan penjara menjadi neraka jahanam baginya. Aku ingin dia tidak tahan berada di dalam penjara dan memohon untuk mati!"


"Baik pak, saya akan minta orang-orang kita untuk lebih kejam padanya!" Kata Ferry sambil tersenyum.


"Bagus," Bryan langsung menutup telponnya setelah itu.


Dia pun kembali menghampiri Maura yang ternyata sudah tertidur di atas ranjang dengan posisi duduk. "Dia sudah tidur, gemes banget sih..." ucap Bryan sambil memandang Maura yang tengah tertidur pulas.


Pelan-pelan Bryan memindahkan tubuh Maura agar lebih nyaman, yang tadinya duduk menjadi berbaring. Lalu dia menyelimuti Maura dengan selimut hangat. "Kamu tenang saja, aku akan membuatmu bahagia. I swear.." Bryan memberanikan dirinya untuk mengecup kening Maura.


Tanpa Bryan sadari dibelakangnya ada Evan dan Hanna yang melihat apa yang dilakukan Bryan kepada Maura.


...*****...

__ADS_1


__ADS_2