Terjebak Dendam Suamiku

Terjebak Dendam Suamiku
Bab 38. Persetujuan operasi


__ADS_3

...🍀🍀🍀...


Bryan langsung mengangkat telpon dari Evan. "Halo pak Bryan, maaf saya menelpon malam-malam begini...saya belum menemukan keberadaan Maura, mungkin saja bapak tau kabar tentang adik saya?" tanya Evan dengan suara rusuh dan cemas pada Maura.


"Aku sudah menemukannya, datanglah ke rumah sakit Buana." jawab Bryan tanpa panjang lebar.


"APA? Maura di rumah sakit?" Evan tercengang mendengar jawaban Bryan tentang Maura yang berada di rumah sakit.


"Cerita detailnya, nanti aku katakan ketika kamu sampai di rumah sakit." Kata Bryan sambil menghela nafas beratnya.


"Baik pak!" jawab Evan yang langsung menutup teleponnya.


Malam itu dia pergi bersama Hanna, memesan taksi online menuju ke rumah sakit. Sementara itu Bryan dan Ferry masih berada di rumah sakit menunggu dokter keluar dari ruangan Maura.


Pria itu mondar-mandir dengan gelisah menunggu dokter keluar, dia sangat mengkhawatirkan kondisi Maura yang masih ada didalam sana. "Kenapa dokter itu lama sekali?! Apa dia mau mati?!" Gerutu Bryan marah-marah.


"Sabar pak," ucap Ferry seraya menenangkan bosnya itu.


Selama hampir 9 tahun aku bekerja dengan pak Bryan, aku belum pernah melihat beliau mengkhawatirkan orang lain apalagi seorang wanita. Ini pertama kalinya pak presdir begini terhadap seseorang, dia sangat menyukai Bu Maura.


"Sabar.. sabar! Harus berapa lagi aku menunggunya?! Apakah terjadi sesuatu didalam sana? Aku bahkan tak tau apa-apa! Sial!" Bryan marah karena sangat mencemaskan wanita itu.


BRUGH!


Kaki Bryan menendang kursi dengan kesal karena dokter tak kunjung keluar dari ruangan Maura, setelah hampir 15 menit Maura berada disana.


Apa jangan-jangan terjadi hal yang serius padanya?


"Sabar pak, kita tunggu saja ya pak...semoga Bu Maura baik-baik saja. Pak Bara benar-benar keterlaluan!" Ferry ikut marah dan gemas pada Bara yang sudah menyakiti Maura dengan kejam.


"Ah... ngomong-ngomong soal bajingan itu, kamu pergilah ke kantor polisi! Katakan pada kepala polisi, dia tidak boleh bebas oleh jaminan, BARA RAHADIAN...dia harus merasakan penderitaan di PENJARA!" Tunjuk Bryan pada Ferry, matanya menaruh kemurkaan didalamnya. Bukan untuk Ferry, melainkan untuk Bara, suami Maura.


"Baik pak, saya akan segera pergi ke kantor polisi sekarang!"


Seberapa kuat pak Bara dan walaupun dia punya banyak uang, dia tidak akan bisa mengalahkan kekuasaan dan kekuatan pak Bryan. Karena Xander grup, sangatlah berkuasa.

__ADS_1


Ferry langsung pergi dengan patuh, melaksanakan perintah dari Bryan. Beberapa menit kemudian, dokter wanita keluar dari ruangan IGD tempat Maura di rawat. "Dokter!" Bryan beranjak dari tempat duduknya, dia menatap dokter itu dengan cemas. "Dokter, bagaimana keadaan Maura?"


"Pendarahannya cukup serius dan luka robek pada bagian xx nya harus melakukan operasi kecil. Saya membutuhkan persetujuan keluarga secepatnya untuk melakukan operasi kecil. Apa bapak adalah keluarganya?" tanya dokter itu pada Bryan.


"Saya...saya..." Bryan terlihat bingung.


"Saya keluarganya, dok! Saya kakak sepupunya!" Seru Evan sambil berlari menghampiri Bryan dan dokter wanita itu.


Bryan menoleh ke arah Evan dan Hanna yang baru saja datang. "Baik pak, tolong tandatangani surat persetujuan operasi ini dan juga urus administrasinya." Ucap dokter wanita itu sambil menyerahkan secarik kertas pada Evan dan ada bolpoin juga disana.


"Baik dok, Hanna tolong ya...kamu pergi ke bagian administrasi." Evan menyuruh Hanna untuk pergi ke bagian administrasi.


"Baik kak," Hanna hendak melangkah pergi darisana.


"Tidak perlu, saya sudah urus semuanya. Kamu hanya tinggal tanda tangan saja!" Seru Bryan pada Evan.


Evan pun menandatangani surat persetujuan operasi untuk Maura. Setelah itu dokter melakukan operasi diruangan tempat Maura berada. Hanna, Evan dan Bryan duduk di depan ruangan Maura, mereka bertiga menunggu Maura dengan cemas.


"Pak Bryan, sebenarnya kenapa adik saya bisa masuk rumah sakit? Apa yang terjadi?" Tanya Evan yang ingin tau kenapa Maura bisa masuk rumah sakit, padahal sebelumnya dia baik-baik saja ketika berpamitan dengannya untuk pergi ke pesta.


Bryan menoleh ke arah Evan, menatap pria itu dengan rasa bersalah. "Pak Evan...saya minta maaf, ini terjadi karena saya tidak bisa melindungi Maura. Seharusnya saya memastikan bahwa Maura baik-baik saja sebelum saya pulang ke rumah. Tapi saya...jika saja saya masih bersama Maura dan mengantarnya pulang. Hal ini pasti tidak akan terjadi!"


Presdir Xander grup itu menjelaskan semua yang terjadi pada Maura dan dirinya di pesta, kemudian Maura yang menghilang ditengah pesta ulang tahun Xander grup. Singkat cerita, Bryan menemukan Maura berada di kamar hotel bersama Bara dan kondisi Maura sudah penuh luka.


"Brengsek! Aku tau dia brengsek, tapi aku tidak menyangka bahwa dia akan seberengsek itu dan sampai menyakiti fisik Maura!" Evan menggerutu marah, dia merasa bersalah dan merasa tidak berguna sebagai keluarga Maura.


Hanna menghibur Evan dengan mengatakan bahwa semua ini bukanlah salahnya, tapi salah Bara. Bryan pun mengatakan pada Evan, bahwa dia membawa Bara ke penjara.


"Terima kasih pak, bapak sudah banyak membantu saya dan Maura, saya tidak tahu bagaimana saya membalas budi baik bapak..."


"Tidak apa-apa, saya ikhlas menolong pak Evan dan Maura." jawab Bryan tidak keberatan.


"Maaf pak, saya orangnya blak blakan...bapak membantu teman saya dan kak Evan, pasti ada maksud lain kan?" Tanya Hanna sambil urutkan kening menatap pria itu dengan curiga.


Evan langsung bicara pada Hanna. "Hanna, kamu jangan bicara seperti itu sama pak Bryan!"

__ADS_1


"Gak kak, aku harus memastikan ada maksud apa pria ini pada Maura...siapa tau dia bertemu lagi dengan Bara yang kedua?" Hanna tanpa ragu mengatakan hal tentang Bryan dan menyindirnya.


Aku tidak mau kalau Maura sampai bertemu Bara yang lainnya dan disakiti oleh seorang pria yang tidak benar.


"Hah..." Bryan mendelik sinis ke arah Hanna, sejak pertama kali bertemu, Bryan sudah tidak suka pada Hanna karena disikapnya.


"Maafkan saya pak Bryan, sebenarnya Hanna bicara seperti ini karena dia sangat mencemaskan keadaan Maura!" Kata Evan memohon maaf pada Bryan atas perkataan dan sikap Hanna pada pria itu.


"Tidak apa karena dia memang benar, saya memang ada maksud dengan menolong adik kamu." Bryan tidak menyangkal dan membenarkan apa kata Hanna.


Hanna dan Evan menatap ke arah Bryan dengan terheran-heran. Apa maksud Bryan bicara seperti itu. "Tuh kan kak! Aku udah bilang kalau dia ada maksud-"


"Itu karena saya menyukai Maura dan saya berharap Maura menerima perasaan saya!" Jelas Bryan tanpa ragu dan kesungguhan didalam dirinya mengutarakan isi hatinya.


Ya, lebih baik aku katakan saja apa maksudku sebenarnya...daripada aku terus disangka orang jahat.


Evan dan Hanna tercengang, kaget bukan main ketika mendengar perkataan Bryan yang sulit di percaya oleh mereka berdua. Pasalnya, bagaimana mungkin Bryan yang sempurna pria lajang dengan harta kekayaan berlimpah dan wajah yang tampan, akan melirik Maura. Seorang istri dari Bara Rahadian.


Mana mungkin! Pak Bryan menyukai Maura?


****


Sementara itu, Bara berada di jeruji besi. Dia bahkan tidak mengenakan pakaian di malam yang dingin. "Pak! Apa bapak tidak tahu siapa saya? Saya pemilik perusahaan besar Agradana grup! Berani sekali bapak memperlakukan saya seperti ini?"


"Maaf pak, tapi dimata hukum semua orang sama!" Kata seorang polisi tegas.


"Sama apanya? Aku tau kalau kamu dibayar oleh si Xander bajingan itu untuk membuatku mendekam disini!" Teriak Bara marah-marah.


"Ckckck...kenapa bapak malah menyalahkan orang lain? Bapak yang sudah menganiaya istri bapak, maka hukum akan bertindak sebagai mana mestinya." Polisi itu menggelengkan kepalanya.


"Tunggu saja sampai aku keluar dari sini, aku akan-"


"Berisik!"


Polisi itu meninggalkan Bara sendirian disana, dia kesal dengan Bara yang terus mengoceh tentang Bryan. "Hey pak! Setidaknya berikan aku baju, aku kedinginan disini!" teriak Bara pada polisi yang sudah melangkah pergi jauh darinya.

__ADS_1


Bara memegang jeruji besi, tiba-tiba saja dia teringat Maura. "Bagaimana keadaan Maura? Apa dia baik-baik saja?"


...*****...


__ADS_2