
...๐๐๐...
"Little girl, aku baru aja mandi loh!" protes Bryan pada istrinya. Dia mencium beberapa kali aroma tubuhnya dan dia yakin bahwa dia harum, kenapa Maura terus saja mengatakan kalau dia bau.
"Aku gak peduli, kamu bau... jauh-jauh dari aku By."
"My girl, aku gak bisa jauh-jauh dari kamu." rengek Bryan manja.
"Kalau gitu kamu mandi lagi, tapi jangan pakai sabun...coba deh? Bau sabunnya gak enak tau gak!" titah Maura pada suaminya, hidungnya masih dipegang erat oleh kedua tangannya.
"Ini udah malam sayang," dessahnya malas.
"Ya udah kalau kamu gak mau mandi ya terserah, tapi jangan tidur sama aku." Maura kembali berbaring dan menyelimuti tubuhnya sendiri dengan selimut hangat.
"Sayang...jangan gitu dong, aku lagi pengen deket sama kamu dan calon anak kita." tangan Bryan menyentuh bahu Maura dan wanita itu menepisnya dengan cepat.
"Kamu bau By!" serunya kesal.
"Oke fine, aku akan mandi lagi... akan aku hilangkan semua harum di tubuhku ini,"
Akhirnya Bryan mengalah, karena dia tidak kuat harus pisah ranjang dengan istrinya. Entah kenapa dia ingin selalu melekat kepadanya. Apalagi saat tahu istrinya sedang mengandung.
Terdengar suara guyuran air dari dalam kamar mandi, Maura menoleh sedikit ke arah kamar mandi. Suaminya benar-benar mandi lagi seperti apa yang dia inginkan. 10 menit kemudian, Bryan kembali dari kamar mandi dan sudah memakai piyama tidurnya yang lengkap. Ia kembali naik ke atas ranjang tepat disamping istrinya.
Maura masih terlelap, dia tidak merasa terganggu dengan Bryan disisinya. Malah dia mendekat ke arah Bryan dan memeluknya.
__ADS_1
Dia begitu nyaman di dekat ketiak suaminya, astaga! Bryan menahan tawa saat melihat istrinya ini. "Kamu marah-marah kalau aku wangi, giliran aku bau dan aku keringetan...kamu suka. Dasar bumil aneh, ckckck." gumam Bryan, sambil menyingkirkan anak rambut yang menghalangi wajah cantik istrinya.
Mereka berdua pun terlelap dalam tidur yang damai. Sampai suatu pagi, terdengar suara mual-mual yang membangunkan Bryan dari tidurnya. "Sayang? Sayang kamu dimana?" Bryan tidak menemukan sang istri di sampingnya.
"Uwek...uwekk.."
Terdengar suara mual-mual dari luar kamarnya, Bryan beranjak bangun dan bergegas keluar dari kamarnya. Ia melihat sang istri sedang muntah-muntah di dekat wastafel pantry di apartemen itu.
"Sayang, kamu kenapa?" tanya Bryan sambil mengusap sedikit basah di bibir istrinya. Tak lupa dia mengambilkan segelas air hangat dengan sigap, memberikannya pada Maura.
"By...maafin aku, hiks...maafin aku By, aku gak kuat." wanita itu menangis setelah meneguk sedikit air hangat yang sudah disiapkan suaminya.
"Sayang, kenapa kamu minta maaf padaku? Kamu gak kuat apa, hah?" Bryan kebingungan dengan sikap Maura saat ini.
"Oke, gak apa-apa...kamu jangan nangis dong. Aku bisa pesan atau beli makanan. Gak apa-apa my girl," ucapnya seraya tersenyum dan mengusap air mata istrinya.
Kasihan melihat istrinya yang mual-mual, akhirnya Bryan menyingkirkan semua bawang bawangan di pantry dapurnya dengan menyembunyikannya. Dia mengajak istrinya sarapan pagi bersama di kedai bubur yang tak jauh dari apartemen mereka.
Setelahnya mereka berencana pergi ke rumah sakit sebelum Bryan pergi bekerja, untuk kontrol kandungan Maura. Dan jangan lupakan, Maura tidak mau suaminya mandi dan akhirnya Bryan tidak mandi.
Sesampainya di rumah sakit, Maura dan Bryan langsung masuk ke bagian obygn dokter kandungan. Maura berbaring dan siap melakukan tes USG.
...*****...
Hai Readers, maaf upnya dikit ya....
__ADS_1
author ada rekomendasi novel keren banget nih๐๐
โAda apa?โ tanya Rissa sambil menatap Vano penasaran.
โApa besok aku boleh menjemput mu ke sini?โ bukannya menjawab, Vano malah bertanya pada Rissa, dengan tatapan yang tak dapat diartikan.
โHm, tentu saja,โ jawab Rissa dengan santai sambil tersenyum ramah ke arah Vano.
โBaiklah, kalau begitu aku akan antar jemput dirimu. Bagaimana?โ tanya Vano dengan menampilkan raut wajah bahagia.
โApa itu tidak merepotkan mu? aku takut ada yang salah paham jika kita terlalu dekat,โ ucap Rissa dengan nada menyesal.
โTentu saja tidak. apa kau sudah punya kekasih?โ tanya Vano berharap jika Rissa tidak memiliki seorang kekasih.
โBukan aku, tapi istrimu,โ jawab Rissa dengan nada yang sedikit manja. Membuat pria yang ada di sampingnya tersebut terkekeh gemas, saat melihat tingkah Rissa yang manja.
โAkan aku pastikan dia tidak akan tahu,โ kata Vano sambil mengacak rambut milik Rissa, hingga membuat wanita itu mengerucutkan bibirnya gemas.
Lanjutannya ada disini ya ๐๐
Terjerat cinta sang pelakor
karya ARANDIAH.
__ADS_1