
...🍀🍀🍀...
Setelah keputusan pernikahan yang mendadak itu, Selly perias pengantin dadakan yang telah diperintahkan oleh Bryan untuk merias calon istrinya. Dia segera merias kembali Maura untuk kedua kalinya.
Selagi menunggu Maura selesai dirias, tiba-tiba Bara beranjak dari tempat duduknya dan berpamitan kepada semua orang. Alya, Ghea dan Farhan juga ada di sana."Ma, kak, Mama Clara...aku pergi dulu ya,"
"Nak, kamu mau pergi ke mana? Sebentar lagi acara pernikahan Kakak kamu akan segera dimulai." ucap Clara melihat putra bungsunya beranjak dari tempat duduknya.
Sedari tadi Bara terus melihat ponselnya dengan gelisah, entah siapa yang dia hubungi. Mungkin, yang dihubungi adalah orang yang penting untuknya.
Ya, dia memang menghubungi Vera. Mencoba memberikan hatinya kesempatan untuk terbuka kepada wanita itu. Wanita yang jelas-jelas memiliki perasaan untuknya. Namun Vera tidak membalas telepon atau pesan darinya.
"Aku...mau pergi ke rumah Vera."
Clara dan Alya langsung tersenyum, kedua ibu itu sudah paham apa maksud anaknya. "Pergilah nak! Kejarlah cintamu, jangan sampai terlambat."
"Ya, Bara. Mamamu benar," Alya membenarkan ucapan Clara.
"Kenzo, good luck ya!" Kata Bryan, yang juga ikut menyemangati Bara.
Bara tersenyum kemudian dia mengangguk-ngangguk. "Pasti,"
Dengan tekad yang bulat, Bara pergi meninggalkan hotel itu untuk menemui Vera yang mungkin saat ini berada ditempat kerjanya. Sebuah restoran khas Itali, disanalah Vera bekerja.
Beruntungnya jarak hotel dan restoran itu tak jauh, Bara sudah sampai di sana dalam waktu 5 menit saja. Seperti biasa, restoran itu ramai pengunjung di waktu malam.
Bara masuk ke dalam restoran dan dia melihat Vera sedang membersihkan salah satu meja yang kotor. "Ver..."
Atensi Vera yang semula tertuju pada meja kotor, kini tercuri oleh kehadiran Bara. Pemilik suara yang membuatnya selalu berdebar. "Bara? Ngapain kamu kesini?"
Bara menatap wanita itu dari atas sampai ke bawah, kemudian dia berlari menghampirinya dan memeluknya. Vera kaget kenapa Bara tiba-tiba saja begitu. "Bara...kamu ngapain?"
"Ver, aku minta maaf...aku sudah menyakiti hati kamu. Vera...jika kamu masih bisa memberikan kesempatan untukku, bisakah kita memulai semuanya dari awal?"
Tangan kekar Bara masih memeluk Vera. "Bara...kamu jangan buat aku bingung lagi,"
"Vera...jujur, aku memang belum menyukai kamu sama seperti kamu suka padaku. Tapi aku ingin kita memulai hubungan ini dari awal, itu pun kalau kamu mau."
Mimpi apa Vera semalam? Tadi pagi dia ditolak mentah-mentah oleh Bara, kini pria itu malah memintanya untuk menjalin hubungan dari awal. Dengan maksud menumbuhkan rasa yang ada didalam hati.
__ADS_1
Vera mengangguk dan langsung setuju, dia akan memulai hubungan dengan Bara. Hubungan yang baru, memulai dari awal. "Iya Bara, ayo kita mulai dari awal."
Tidak apa jika kamu belum mencintaiku untuk sekarang, tapi nanti kamu pasti akan mencintaiku.
"Makasih Ver, ayo kita mulai semuanya dari awal ya. Oh ya, Maura sama kak Bryan mau menikah sekarang...ayo kita pergi sebelum kita melewatkan pernikahannya!" Ajak Bara pada Vera.
"Oke, bentar ya aku izin bos ku dulu."
"Oh ya, kamu lagi kerja ya?"
"Gak kok ,udah nyimpen piring ini beres. Tunggu bentar ya, Bar." Vera tersenyum.
Bara membantu Vera membawa piring kotor itu, agar pekerjaannya cepat selesai. Vera sangat senang dengan perubahan sikap Bara ini. Dia berharap akan mendapatkan hati Bara seutuhnya.
****
Terlihat gadis cantik berjalan menuju ke aula hotel itu, bersama dengan Selly dan Clara. Dia memakai gaun berwarna putih, dengan perhiasan di kepalanya. Bryan terpana melihat wanita itu, dia tersenyum dan sabar ingin segera mempersuntingnya.
Maura juga tersenyum menyambut hari bahagianya itu. Samuel menangis, melihat putrinya yang akan menikah lagi itu. 'Maura...semoga di pernikahan kali ini, kamu bahagia, nak'
Katakanlah Samuel memang bejat, tapi pada Maura dia sangat sayang. Bagi Samuel, Maura adalah permatanya yang berharga.
Kini Maura sudah duduk bersampingan bersama calon suaminya. Keduanya saling menatap penuh kasih yang menggelora. Tak sabar dengan pancaran asmara diantara mereka.
Keduanya terkekeh kecil mendengar peringatan dari Clara. Mereka malu, karena sempat terbuai dalam suasana seperti berdua saja.
"Baik, apa acaranya sudah bisa dimulai?"
Semua orang di sana mengangguk dan bersiap untuk menyaksikan akad nikah Maura dan Bryan. Termasuk Bara dan Vera yang baru saja datang, mereka tak mau ketinggalan prosesi ijab kabul yang akan mengikat Maura dan Bryan.
Penghulu itu menjabat tangan Bryan, dia mengucapkan basmalah sebelum memulainya. Kemudian dibacakan nya ijab kabul dengan lantang. Dalam sekali tarikan, Bryan mengucapkan ijab kabul dengan lancar dan lantang. Seakan pria itu memang serius dengan pilihan hatinya.
"Sah! Sah!"
Akhirnya kata sah dan ucapan penuh syukur, terucap diantara mereka. Bryan tersenyum manis, terlihat kebahagiaan di wajahnya. Bryan mengecup kening Maura dengan lembut, sekarang mereka telah sah menjadi pasangan suami istri.
Chu~
"I love you sayang,"
__ADS_1
Akhirnya kamu telah resmi menjadi istriku, Maura.
"Love you too...Bry," jawab Maura yang lalu mencium tangan suaminya.
Bryan, akhirnya kita sah.
Sementara itu Bara tersenyum getir, air matanya menetes membasahi tangannya. Dalam hati ia berdoa agar Maura dan Bryan hidup bahagia.
Dengan ini, dia mengakhiri semua dendamnya, meski cintanya masih belum berakhir. Seorang wanita cantik disampingnya menyodorkan sapu tangan pada Bara. "Bara.... semangat, ada aku disini." lirih wanita bernama Vera itu.
"Makasih Ver," jawab Bara sambil mengambil sapu tangan dari tangan Vera.
*****
Usai acara itu, semua orang pulang dan meninggalkan hotel. Namun Maura dan Bryan tinggal di sana untuk malam ini.
"Jagwwa...anak saywaa.." ucap Samuel seraya menatap Bryan penuh harap. Ia tulus berharap Bryan akan menjaga anaknya.
Bryan duduk jongkok, dia memegang tangan Samuel. Ditatapnya Samuel penuh hormat, "Papa tenang saja, saya akan menjaga Maura seumur hidup saya. Papa bisa percaya sama saya,"
Samuel tersenyum dan mengangguk. Dia berusaha percaya pada Bryan untuk menjaga putrinya.
"Tolong ya pak Bryan, saya titip Maura." Evan ikut bicara.
"Jangan khawatir kakak ipar,"
Kakak ipar? Ya panggilan ini memang cocok untuk Evan. Karena Bryan sudah menikah dengan Maura.
Setelah semua orang pulang, tak peduli berada dimana. Tiba-tiba Bryan menggendong istrinya yang masih mengenakan gaun pengantin itu dengan ala bridal. "Ahhh!! Bryan!" Maura mengalungkan tangannya di leher Bryan.
Tanpa bicara, Bryan membuka pintu kamar. Tatapannya tak lepas dari Maura. Kemudian dia mendekat dan menyatukan bibir mereka berdua.
"Eunghh..." lenguh Maura yang terdengar seksi bagi Bryan.
Mereka berpagutan dengan posisi Maura digendong oleh Bryan. Tak lama kemudian, Bryan mendudukkan Maura di atas ranjang.
"Eungh...huuum.." dessah Maura.
Didorongnya Bryan agar dia bisa mengambil nafas. Keduanya menghela nafas, terlihat dua bibir mereka yang basah. "Bry..."
__ADS_1
Bryan menatap Maura dengan nanar, dia melepas hiasan rambut Maura. Melihat tatapan yang membara itu, dia tersipu malu. Seakan mabuk oleh perasaan dan lupa akan suasana sekitar.
...*****...