
...🍀🍀🍀...
Mata Bryan dan Clara sama-sama melebar melihat kalung yang ada ditangan Clara saat ini. Kalung gembok yang mirip dengan kalung Kenzo.
Kenzo? Bukankah itu nama adiknya Bryan?. Maura membatin dalam hati.
Sementara disisi lain Maura, Alya dan Ghea melihat ibu dan anak itu dengan bingung. Apalagi saat melihat Clara menangisi kalung gemboknya.
Ghea mengambil kalung gembok itu dari tangan Clara dengan tidak sopan. "Ini kalung kakak saya!" Ucap gadis itu ketus.
Bryan kesal dengan sikap tidak sopan Ghea, ia merebut kembali kalung itu dari tangan Ghea dan ia serahkan pada Clara.
"Kenzo...Bryan, Kenzo..." lirih Clara sambil menatap Bryan dengan mata berkaca-kaca.
Golongan darah langka yang sama, antara Clara dan Bara membuat Bryan tertelan dengan fakta.
"Ma, kita harus pastikan semuanya..." Bryan melepaskan kalung kunci yang dia pakai. Lalu dia menyerahkan kalung itu kepada mamanya.
__ADS_1
"Mau ibu apakan kalung anak saya, Bara?!" Tanya Alya keheranan melihat semua itu.
Clara tidak menjawab, dia membuka kalung gembok itu dengan kalung kunci. Dan tak lama kemudian, terbukalah kalung itu. Terlihat ada foto dua anak laki-laki didalam sana.
"Itu...foto Bara waktu kecil." gumam Maura melihat salah satu foto anak kecil didalam kalung gembok itu.
"Hiks...Kenzo...dia benar-benar Kenzo, dia adik kamu Bryan! Dia adik kamu!" Clara tak kuasa menahan tangis, mendapatkan fakta berbalut kebetulan yang sebenarnya adalah takdir.
Takdir bahwa Bara adalah Kenzo, anak bungsu Clara dan Frans yang hilang dan adik yang sangat Bryan sayangi. Saudara yang selama ini dia cari-cari keberadaannya selama ini.
Sementara Bryan, dia terlihat bingung dan masih tak percaya bahwa Bara adalah adiknya. Pria itu tertegun sambil menelan salivanya. "Kenzo...Kenzo...hiks..." Clara menatap ruang operasi dengan cemas, mengkhawatirkan kondisi Bara yang saat ini sedang berjuang di meja operasi.
Bara adiknya Bryan? Dia adalah Kenzo?. Maura terbelalak mendengar fakta itu.
Maura dan Alya memahami apa yang dikatakan oleh Clara tentang Bara. Alya bahkan langsung mengatakan kepada Clara bahwa Bara memang bukanlah anak kandungnya. Karena takut dituduh, Alya mengatakan lagi pada Clara bahwa ia tidak menculik Bara, ia menemukan Bara didepan toko miliknya dan Alya mengurus Bara sebagai anak kandungnya sendiri.
Clara paham dan dia percaya dengan Alya. Namun ia masih menangis karena tidak percaya akan bertemu anak kandungnya dalam keadaan seperti ini. Sungguh! Takdir Tuhan macam apa ini? Bryan dan Bara terikat oleh takdir, bersama dengan wanita yang bernama Maura.
__ADS_1
Semua orang terduduk didepan kursi ruang tunggu, tepat didepan ruang operasi. Terlihat Clara dan Alya masih setia menunggu Bara siuman.
Disela-sela penantian itu, Maura bicara dengan Bryan yang sedari tadi diam saja. "Bry...kamu gak apa-apa?" Ucapnya seraya menepuk pundak Bryan.
"Aku gak apa-apa." Bryan menyunggingkan senyuman terpaksa.
Maura tidak tahu, betapa kacaunya perasaan Bryan saat ini. Entah dia harus bahagia, sedih, atau bagaimana. Yang jelas dia berada dalam kebingungan. Mungkin fakta ini terlalu mendadak. Atau karena Bara adalah Kenzo? Makanya Bryan menjadi bingung?
"Bry, jadi Bara adalah Kenzo...adik kamu yang hilang?" Tanya Maura sekali lagi pada Bryan. Sebenarnya dia ingin tau bagaimana reaksi Bryan tentang Bara yang adalah adiknya.
"Ya, kamu sudah dengar, kan? Apa kata mamaku dan buktinya juga ada? Golongan darah mama dan Bara juga sama." Ada sedikit nada kesal dalam ucapannya dan Bryan tak bisa mengontrol raut wajahnya.
CEKLET!
Semua orang langsung beranjak dari tempat duduk mereka dan melihat kearah dokter yang berpakaian biru, dengan mulut ditutup masker, keluar dari ruangan operasi.
"Dokter...bagaimana keadaan anak saya?" Tanya Clara mendahului semua orang yang akan bertanya di sana. Ia menatap dokter dengan cemas, wajahnya basah oleh air mata.
__ADS_1
...*****...