
...🍀🍀🍀...
Raut wajah Presdir Xander grup itu langsung berubah saat mendengar suara dari wanita yang dia taksir. Semua mata memandangnya dengan terheran-heran, tidak terkecuali Ferry orang terdekatnya.
["Halo? Apa aku salah tekan nomor?"]
"Tidak, kamu benar...ini nomorku." Bryan tersenyum-senyum, hingga dia tak sadar bahwa disana masih ada karyawan yang berada di ruang rapat dan dia masih berada dalam rapat.
["Oh jadi benar, ini pak Bryan?"]
"Iya, ada apa kamu menelponku? Apa kamu rindu padaku?" Bryan menaikkan rambutnya, dia terus tersenyum
Jegerr!!
Semua karyawan disana tersentak kaget ketika mendengar kata mania dari mulut Bryan yang ditujukan pada seseorang yang bicara dengannya ditelepon itu. Ferry juga melihat bosnya dengan keheranan.
Sepertinya pak Bryan lupa bahwa dia masih berada dalam rapat. Kalau aku bicara padanya sekarang, yang ada pekerjaanku terancam. Batin Ferry berada dalam kebingungan.
["Bapak jangan bicara sembarangan ya! Siapa juga yang rindu sama bapak?"] Maura mengomel seperti biasanya pada Bryan.
"Kalau tidak rindu, lalu kenapa kamu menelponku? Ini pertama kalinya, loh."
["Saya sudah menduga bapak akan begini.. say menelpon bapak bukan karena rindu, tapi karena ada urusan bisnis."]
"Urusan apa itu?"
["Hem...apa malam ini bapak ada waktu senggang?"]
"Ada kok."
["Apa sekarang bapak sedang sibuk?"] tanya Maura berhati-hati.
"Tidak, aku tidak sibuk. Apa kamu mau bertemu denganku sekarang?" Bryan terlihat senang saat menawarkannya.
Srett...
Ferry dan semua karyawan lainnya melirik ke arah Bryan, begitu mendengar kata tidak sibuk itu.
Padahal pak presdir sedang sibuk dan banyak jadwal sampai malam. Tapi dia bilang tidak sibuk? Bu Maura sungguh hebat, tidak ada yang sehebat dia.
["Tidak! Saya meminta bapak bertemu tapi tidak sekarang, nanti malam kita bertemu...itu pun jika bapak tidak sibuk."]
"Baiklah, nanti malam di hotel?"
["Tidak pak, jangan disana...temui saja saya si rumah Hanna. Bapak tau kan rumahnya? Kita bertemu jam 8 malam."]
__ADS_1
"Oke, kita ketemu disana ya." Bryan tersenyum mendapat ajakan bertemu dari Maura, seperti dia diajak kencan saja.
["Hem iya, maaf tapi bapak tidak bisa menghubungi saya karena ponsel saya rusak."]
"Lalu aku harus hubungi siapa?"
Hpnya rusak?
["Bapak tau nomor ponsel kakak saya, kan? Bapak bisa hubungi dia."]
"Ya, aku mengerti."
["Tapi saya mohon pak...kalau seandainya ada Bara disana, bapak jangan mendekati saya."]
Bryan tercekat mendengar ucapan Maura. Kemudian dia melenguh, dia paham bahwa wanita itu tidak mau di cap jelek. "Ya baiklah, aku tau apa yang harus aku lakukan."
Bryan tersenyum bahagia usai berbicara dengan Maura di telepon. Namun senyumnya itu tidak berlangsung lama saat dai menyadari semua orang yang berada di rapat itu, tengah menatap ke arahnya.
Raut wajah Bryan langsung berubah 180 derajat, hal itu membuat semua orang disana kembali menundukkan kepalanya. "Ngapain kalian lihat-lihat? Kalau kalian punya mata, lebih baik kalian lihat proposal dan laporan yang kalian buat!" Bentak Bryan pada semua orang disana.
"Baik pak!" Jawab para karyawan serempak.
"Ya sudah,"
"Ya sudah kalian keluar saja, rapatnya selesai!" kata Bryan tegas.
Ferry pun mengisyaratkan pada semua orang disana untuk segera pergi dari sana. Mereka pun paham dan langsung mengundurkan diri bersamaan setelah memberi hormat pada Bryan.
Mereka semua menghela nafas lega. "Haahh.. syukurlah rapatnya selesai dengan cepat." ucap seorang pria paruh baya merasa lega.
"Benar pak Kusno, biasanya Presdir kalau sudah rapat pasti lupa waktu. Bisa berjam-jam malah sampe malam!" kata seorang pria sambil tersenyum.
"Kita selamat berkat si penelpon itu, dia pasti calon nyonya Xander grup...tidak salah lagi." Kata seorang pria muda yakin.
"Pasti dia seorang wanita. Siapapun dia, aku sangat berterimakasih kepadanya...karena dia aku masih diberi kesempatan untuk bekerja disini." kata seorang pria yang tadi habis dimarahi habis-habisan karena proposal yang dibuatnya.
*****
Di ruang rapat Xander grup.
"Ferry,"
"Ya pak?"
"Aku tidak punya jadwal malam ini, kan?" tanya Bryan pada sekretarisnya itu.
__ADS_1
"Bapak ada jadwal makan malam dengan nyonya,"
"Haahh... batalkan." Bryan terlihat tidak senang dengan nyonya yang disebutkan oleh Ferry padanya.
"Maaf pak, tapi nyonya baru saja kembali ke Indonesia."
"Aku bilang batalkan!" Seru Bryan tegas.
Untuk apa dia pulang ke Indonesia, aku pikir dia akan menetap di luar negeri.
"Baik pak, akan saya sampaikan kepada nyonya." Ferry tersenyum profesional dalam setiap waktu.
Entah bagaimana reaksi nyonya kali ini, lagi-lagi dia diabaikan oleh anaknya.
"Ferry."
"Ya, pak?"
"Aku mau beli ponsel, dimana tempat membeli ponsel yang bagus dan paling mahal?" Tanya Bryan.
"Akan saya antar pak."
Mau beli ponsel untuk siapa ya pak presdir?
🍁🍁🍁
Malam itu, di rumah Bara.
Maura baru saja menyelesaikan semua pekerjaan rumahnya yang hanya tinggal menyetrika dan melipat pakaian. Setelah itu dia akan pamit pulang ke rumah kontrakan Hanna seperti Biasanya.
"Ghea, ibu... saya pamit pulang ya?" Maura masih memiliki kesopanan pada dua orang yang selalu menindasnya itu.
"Hem, iya... pulanglah ini sudah malam." kata Alya tanpa melihat ke arah Maura. Ghea apalagi, dia hanya asyik main gadget sambil duduk di kursi, dia menganggap Maura hanya angin lalu.
Maura sendiri berusaha acuh, entah dia benar-benar acuh karena dia sudah terbiasa dengan perlakuan mereka.
"Assalamualaikum."
Maura berjalan ke arah pintu usai mengucap salam. "Hey, anak manja!" Seru Bara memanggil istrinya dari lantai atas.
Maura menoleh ke arah Bara, dia melihat Bara sedang bersama Vera yang mengenakan gaun tidurnya. "Ada apa?"
"Malam ini tinggallah disini," ucap Bara sambil berjalan menuruni tangga.
...*****...
__ADS_1