
...🍁🍁🍁...
Bara seakan tidak peduli lagi dengan apa yang dikatakan Maura padanya, yang ingin dia tau saat ini adalah siapa pria yang memberikan bunga, berkirim pesan dengan istrinya dan bertemu dengan istrinya di hotel saat itu.
"Penyakit gila kamu kumat lagi ya!" Maura menepis tangan Bara yang mencengkram dagunya. Dia mendorong Bara sekuat tenaga, hingga pria itu sedikit menjauh darinya.
"Katakan siapa selingkuhanmu ini!" Bara masih memegang ponsel Maura dengan emosi.
"Aku tidak punya selingkuhan sama sepertimu, jadi aku tidak bisa mengatakannya." Maura menjawab dengan jujur bahwa dia tidak punya seperti apa yang dituduhkan Bara.
"Pembohong!"
"Kalau aku pembohong, lalu kamu apa? Penipu atau perampok?" Maura menunjukkan jarinya ke arah Bara. "Kamu berbuat baik padaku, perhatian, bersikap lembut seolah mencintaiku...katakan, apa namanya itu?"
Bara seolah tertampar dengan ucapan Maura kepadanya, dia yang sudah berpura-pura mencintai Maura, bahkan tidak dengan menipu perasaannya. Dia juga merebut harta kekayaan keluarganya dan membuat ayahnya jatuh sakit hingga koma.
"Kamu..." Bara kehilangan kata-kata, dia mengepalkan tangannya menahan emosi.
Maura mengambil ponselnya dari tangan Bara, namun Bara dengan cepat kembali mengambilnya dari tangan Maura. Dia melempar ponsel itu ke lantai.
PRAKK!
"Kamu mau apakah ponselku?!" Maura terkejut dengan tindakan Bara.
Kemudian Bara menginjak ponsel Maura dengan sepatunya hingga ponsel itu hancur dan mati. Maura kesal, matanya berkaca-kaca menatap ponsel satu-satunya yang dia miliki. Kalau Maura masih memiliki kehidupan yang dulu, mungkin dia bisa membeli ponsel sebanyak apapun yang dia mau. Ayahnya pasti membelikannya, tapi sekarang dia tidak punya banyak uang seperti dulu.
"Ini hadiah ulang tahun dari ayahku, gimana bisa kamu menghancurkannya?" Maura duduk berlutut, dia memunguti pecahan ponselnya yang berserakan dilantai.
"Oh hadiah ulang tahun ya? Maaf.." Bara tersenyum sinis, lalu dia menendang pecahan ponsel yang sedang dipunguti oleh Maura.
__ADS_1
Ponsel itu semakin hancur saja, Bara tersenyum puas melihat Maura bersedih karenanya. Dia berharap Samuel bisa melihat pemandangan ini, melihat putri kesayangannya bersedih karena sebuah ponsel.
"Sayang sekali ayahmu tercinta tidak ada disini, kalau dia melihatmu saat ini...pasti dia akan langsung memelukmu penuh kasih sayang, lalu dia akan berkata...sayang, ini ayah beliin lagi hpnya ya." Bara mengejek gaya bicara Samuel.
"Jahat kamu Bara! Kamu jahat! Kamu benar-benar sudah terjerat penyakit gila." Maura menahan tangis, namun dia tidak menyerah memunguti ponselnya yang sudah remuk itu.
Aku tidak tahan lagi Bara, apakah aku harus selingkuh seperti apa yang kamu pikirkan?
Setelah pecahan ponselnya, Maura pergi meninggalkan ruangan itu dan kembali bekerja seperti biasanya. Dia menangisi ponsel pemberian ayahnya diam-diam dikamar mandi. "Ayah, maafin aku...maaf ayah...hiks..."
Walaupun dia tau kalau ayahnya jahat, tetap saja Maura sangat mencintai ayahnya karena selama ini Samuel selalu mencurahkan perhatian kasih sayang padanya dan tidak pernah bersikap kasar padanya. Samuel membesarkan putrinya seorang diri dan Maura tau saat ayahnya dulu kesulitan saat membesarkannya. Hingga perusahaan Agradana menjadi besar karena jerih payahnya dan rekan bisnisnya. Tapi sekarang dengan mudahnya perusahaan itu diambil alih oleh Bara karena kebodohan Maura.
"Ayah, ayah jangan khawatir...aku pasti akan mengambil kembali apa yang seharusnya menjadi milik kita. Aku janji ayah, aku janji...karena itu ayah harus segera siuman." Maura menangis sambil memandangi ponselnya yang hancur.
Maura menyeka air matanya, dia pun segera kembali ke tempatnya bekerja. Disana dia mengambil sesuatu di dalam tasnya. "Aku harus punya kekuatan, mungkin dia bisa jadi kekuatanku."
*****
Di kantor Xander grup, Bryan sedang rapat bersama para bawahannya di ruang rapat. Ferry berdiri disampingnya, mengikuti jalannya rapat. Selama rapat, Bryan akan meninggalkan ponselnya di tangan Ferry, karena dia tidak mau ada gangguan dalam bekerja.
Ferry melihat ada telpon dari nomor tak dikenal pada ponsel Bryan. Dia tak berani menganggu Bryan yang sedang ceramah didepan para bawahannya. "Aduh, ini siapa sih yang nelpon terus?" gumam Ferry dengan suara pelan.
"Bagaimana bisa perusahaan bisa maju, jika kinerja kalian saja seperti ini? Katanya kalian membuat proposal? Jangan bercanda, monyet dikebun binatang saja bisa membuat yang lebih daripada ini!" Bryan melempar dokumen itu ke atas meja. Dia seperti atasan yang kejam, berbeda sikap saat dia bersama Maura.
Semua orang yang berada di ruangan itu tak berani bicara sepatah katapun. Jika mereka bicara dan mengatakan hal yang salah, bisa-bisa mereka dipecat.
Dreet...
Dreet...
__ADS_1
"Ferry!" Bryan tiba-tiba menoleh ke arah Ferry dengan tajam.
"I-iya pak!" Sahut Ferry terkejut.
"Kenapa ponselmu terus bergetar? Kamu tidak mematikan ponselmu? Kamu tau kita sedang rapat?" Tanya Bryan dengan sarkas.
"Maafkan saya pak, tapi ponsel bapak yang terus bergetar." Ferry menyerahkan ponsel itu pada Bryan.
Bryan melihat ada panggilan dari nomor tidak dikenal disana. Nomor itu memanggil lagi, "Hah! Who?" Bryan kesal dengan orang yang terus menerus menelponnya itu.
Karyawan yang ada di ruang rapat melihat wajah Bryan yang marah. Mereka berbisik-bisik. "Siapa ya yang berani menelpon Presdir sampai menganggu rapat?"
"Siapapun dia, dia pasti akan kena semburan kemarahannya."
"Kasihan.. ckckck."
"Mari kita berdoa semoga orang itu selamat," kata seorang karyawan.
Bryan pun mengangkat telepon yang dirasa sangat menganggu itu. "Halo," jawab Bryan dengan suara dinginnya.
["Apa ini benar nomor anda pak Bryan?"]
Bryan langsung terperanjat mendengar suara yang bicara dengannya di telepon itu. "Kamu..."
Ada angin apa ini? Mengapa dia menghubungiku lebih dulu?
Semua karyawan terpana melihat Bryan tersenyum dan bukannya marah saat menerima telpon itu. Hingga mereka jadi bertanya-tanya siapa yang bicara dengannya.
...*****...
__ADS_1