
...🍀🍀🍀...
Marahnya Maura seperti ditunda dulu untuk sejenak, karena dia memiliki kondisi Bryan yang saat itu alerginya kambuh. Pipi Bryan bengkak dan merah merah akibat disentuh oleh Stella..
Maura mengoleskan salep dengan hati-hati pada wajah tampan Bryan. Dia tidak bicara dan hanya fokus mengobatinya.
"Little girl."
"Hmm?"
"Kamu masih marah?" Bryan menanyakan pertanyaan yang mengganjal perasaannya sejak tadi.
"Masih," jawabnya jujur.
"Kamu jujur banget sih!" Bryan terkejut dengan jawaban jujur kekasihnya yang masih marah.
"Terus? Apa kamu gak suka kalau aku jujur?" Tanya Maura dengan tangan yang masih sibuk mengoles salep. "Dimana lagi yang sakit, Bry?" Tanya Maura lagi.
"Nggak, bukan gitu juga sih...ehm..sakit di dekat dagu."
Gadis itu mengarahkan tangannya ke dagu Bryan, lalu mengoleskan salep disana. Sesaat Maura terdiam melihat bibir Bryan yang merah dan seksi itu, bibir yang barusan berciuman dengannya. 'Maura... kamu gila ya? Kenapa kamu mesum gini?'
Ia menggeleng-gelengkan kepala.
"Aku mau jelasin lagi, boleh?"
"Oke, aku dengerin. Tapi jangan disini, kita bicara didalam ya?"
__ADS_1
Bryan mengangguk kecil, dia kagum pada sikap Maura yang begitu pengertian dan menggemaskan saat ia cemburu.
Bagaimana bisa aku tidak jatuh cinta pada wanita yang cantik luar dalam seperti ini?
Setelah selesai mengoleskan salep di balkon lantai dua, Maura dan Bryan pindah tempat bicara ke kamar Maura. Tentu saja dalam keadaan pintu yang terbuka, Bryan tidak ada niat macam macam. Hanya saja dia ingin melihat tempat tidur kekasihnya seperti apa.
Bryan melihat-lihat ruangan yang di dominasi boleh warna ungu dan putih itu, seprai, sarung bantal, selimut juga warna ungu.
"Maura, kamu suka warna ungu?"
"Iya."
"Oh gitu. Nanti kalau kita nikah dekorasinya warna ungu juga ya?" Tanya Bryan yang lagi-lagi menyinggung soal pernikahan.
"Hem...kalau kamu gak suka warna ungu, kita bisa pakai warna yang lain." Maura duduk disamping Bryan.
Hah? Apa aku tidak salah dengar? Maura menjawab tentang pembahasan pernikahan?. Bryan terheran-heran.
"Iya sayang, aku jelaskan ya! Jadi dia tuh adik kelasku waktu kuliah di Inggris, selain itu dia juga anak dosenku. Namanya Stella, dia deket juga sama mama dan orang tuanya juga deket sama keluargaku. Tapi kamu jangan salah paham, dia dekat sama keluargaku saat itu karena rumah kami deketan waktu tinggal di Inggris." Tutur Bryan menjelaskan.
Maura hanya mengangguk-angguk saja dan tidak berkomentar. "Kamu gak mau tanya lagi?"
"Katanya kamu mau jelasin, kok gak diterusin? Aku yakin ceritanya belum selesai." Maura menyilangkan kedua tangannya di dada, sambil menunggu Bryan menceritakan lagi tentang masa lalunya.
"Hem... jadi dia tuh--"
Bryan menjelaskan semuanya tentang Stella agar tidak ada kesalahpahaman di masa depan. Stella pernah menjalani hukuman karena men-stalking Bryan. Stella begitu terobsesi ingin mendapatkan Bryan dan selalu mengikuti pria itu kemana-mana. Bryan pun dan Clara pindah ke Indonesia demi menghindari Stella, namun apa yang terjadi?
__ADS_1
Stella ternyata menjadi rekan bisnis Bryan dan malah semakin dekat dengannya. Jujur Bryan tidak nyaman dan takut dengan sikap Stella. Contohnya suka main peluk dan cium sembarangan. Maura pun paham setelah Bryan menceritakannya.
"Maura...kenapa kamu diem aja? Kok kamu gak ngomong--"
"Aku gak marah kok, karena kamu udah jelasin dan bukan kamu yang mau dicium sana wanita itu. Its okay gak apa-apa, walau dihatiku ada rasa cemburu."
"Kamu cemburu? Tuh kan beneran! Apa aku bilang?"
"Kamu seneng banget ya aku cemburu?"
"Cemburu tanda cinta, marah tandanya sayang." Bryan memegang tangan Maura, meletakkan tangan itu dipipinya.
"Terus sekarang gimana? Apa kamu mau terusin kerjasama sama cewek itu?" Tanya Maura penasaran.
"Kayaknya aku akan coba batalin kerjasamanya, aku gak mau dia ganggu keharmonisan rumah tangga kita."
"Ish...apaan sih? Kok rumah tangga?" Maura geli mendengar kata rumah tangga.
Rumah tangga? Ini untuk yang terakhir kalinya kan? Bryan yang terakhir untukku.
"Bentar lagi kan kita nikah!" Bryan berucap dengan percaya diri.
"Bentar lagi kapan? Kamu aja belum lamar aku!"
Deg!
Bryan terdiam sejenak, usai mendengar ucapan Maura tentang lamaran. Lalu ia tersenyum setelah tersirat ide di kepalanya dengan kata lamaran itu.
__ADS_1
Lamaran ya? Ok! Otw!
...*****...