Terjebak Dendam Suamiku

Terjebak Dendam Suamiku
Bab 40. Tentang KARMA


__ADS_3

...🍀🍀🍀...


Alya terdiam melihat keadaan Maura yang mengingatkannya pada sosok Alina dulu. Bedanya, Alina tidak menunjukkan tanda stress seperti yang di lihatnya pada Maura. Alina hanya lebih pendiam dari sikap aslinya yang ceria.


Batin Alya merasa terhenyak melihat kondisi Maura, akibat perbuatan putranya. Dia merasa kalau Bara sudah di luar batas, menyakiti Maura dengan dalih dendam atas kematian Alina.


Entah kenapa aku merasa kalau Bara terlalu kejam padanya. Aku merasa Bara sudah bertindak terlalu jauh.


Ghea hendak membuka pintu ruangan itu lebih lebar, namun Alya menghentikannya dan malah menutup pintunya kembali. "Ibu, kenapa ditutup? Bukankah kita akan temui wanita itu untuk membebaskan kak Bara?"


"Ghea, apa menurutmu kita bisa bicara dengannya saat ini? Sudahlah, kita pergi saja! Kamu juga mau ke kampus kan? Hari ini kamu tes masuk ujian jurusan." titah Alya pada putrinya untuk segera pergi ke kampus untuk mengikuti tes masuk ujian jurusan.


"Ya udah deh Bu, tapi kak Bara gimana?" tanya Ghea yang hanya mengkhawatirkan keadaan kakaknya saja.


"Biar itu jadi urusan ibu, kamu gak usah ikut campur! Fokus aja sama belajar dan sekolah kamu," ucap Alya pada Ghea.


"Ya baiklah Bu, kalau gitu aku ke kampus dulu...doakan aku supaya aku bisa dapat beasiswa keluar negeri seperti kak Bara." Ghea tersenyum penuh percaya diri, dia ingin kuliah di luar negeri sama seperti Bara yang cerdas dan dapat beasiswa.


"Aamiin, ibu pasti akan berdoa untuk kamu nak," ucap Alya sambil tersenyum dan berdoa untuk kesuksesan anaknya.


"Makasih Bu, Ghea berangkat dulu ya!" Ghea mencium tangan ibunya, kemudian dia memberi salam dengan sopan. Berbeda saat dia berhadapan dengan Maura, tidak ada sopan sopannya sama sekali. Padahal Maura lebih tua darinya, namun dia tidak sopan pada wanita itu yang tak lain adalah kakak iparnya secara hubungan keluarga.


Ghea pun pergi dari sana, sedangkan Alya masih berada di luar ruangan itu. Entah apa yang dia tunggu, dia masih ragu untuk masuk ke dalam ruang rawat Maura. "Apa yang aku lakukan disini? Lebih baik aku bertemu Bara, daripada aku disini dan tidak berbuat apa-apa. Aku juga bingung, apa yang harus aku katakan padanya?" gumam Alya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya dengan bingung.


Ketika Alya beranjak dari tempat duduknya, dia melihat seorang pria berdiri didepannya. Pria dengan memakai setelan jas yang tapi, sambil membawa keresek hitam ditangannya.


"Mau apa anda kesini?" tanya Evan dengan suara ketusnya.


Mau apa wanita ini datang ke rumah sakit? Apa dia mau menganggu Maura?. Evan menatap curiga pada wanita yang ada didepannya itu.


Alya merasakan tatapan tidak bersahabat dari Evan padanya. Dia pun menduga bahwa Evan sudah tau tentang identitasnya sebagai ibu Bara.


Sepertinya dia mengenali aku sebagai ibunya Bara.


"Saya kesini untuk bertemu dengan Maura, tapi sepertinya saya tidak bisa menemuinya sekarang." jelas Alya sambil melangkah pergi.


"Kenapa? Apa anda mau menganggu adik saya lagi?" Tanya Evan sinis, membuat Alya yang tadinya sedang melangkah jadi terdiam.


"Kenapa kamu menuduh saya seperti itu? Apa saya terlihat seperti pengganggu?" Alya menoleh ke arah Evan dengan tajam.

__ADS_1


"Anda kan memang pengganggu, anda dan keluarga anda...telah menipu, menyiksa keluarga kami yang tidak bersalah!" Evan mengepalkan tangannya dengan erat. Gemas hatinya melihat sosok ibu dari pria yang sudah membuat Maura menderita.


"Apa kamu bilang? Tidak bersalah? Keluarga kalian sok suci sekali ya, mengatakan tidak bersalah. Apa yang terjadi pada keluarga kalian adalah karma yang harus kalian terima, apa kalian gak sadar?" Alya tak mau kalah bicara dan membalas perkataan Evan.


Tiba-tiba saja Evan tertawa sinis. "Hahahaha...karma?"


Alya menatap sinis ke arah Evan, dia tidak mengerti kenapa Evan tertawa. "Apa ada yang lucu dari ucapan saya?" Tanya Alya bingung.


"Coba ibu jelaskan pada saya apa yang dimaksud dengan karma? Dan karma itu datang untuk orang-orang seperti apa? Saya tidak paham." Ucap Evan sarkas sambil menggelengkan kepala.


"Tentu saja untuk orang-orang seperti Samuel dan keluarga kalian." Jawab Alya.


"PFut...anda lucu sekali ya Bu Alya. Memang, om saya berbuat salah kepada almh pacar si brengsek itu, tapi apa salah Maura dan apa salah saya?"


"Apa?" Alya terperangah.


"Saya tanya, apa salah saya dan salah Maura sehingga harus menerima karma yang ibu sebut itu? Yang salah adalah om saya, kenapa kami harus ikut menerima kebencian kalian? Kenapa kalian harus membuat Maura menderita dan terkena imbasnya? Apa karena Maura adalah anak dari om saya yang berbuat dosa itu?"


Alya terdiam mendengar perkataan Evan yang sontak membuatnya tidak nyaman.


"Kenapa anda diam Bu Alya? Anda tidak bisa menjawab saya? Menurut saya, anda dan keluarga anda yang akan mendapatkan karma! Terutama Bara yang telah sangat menyakiti Maura, ibu jangan lupa...Allah maha melihat dan yang diatas tau siapa yang akan dapat karma! Dan ibu jangan lupa, ibu adalah perempuan dan anak ibu juga punya anak perempuan!" Tegas Evan emosi pada Alya, dia mengancam Alya bahwa Ghea akan mengalami hal yang serupa dengan Maura.


*****


Evan melihat di ruangan Maura, ada Bryan dan Hanna. Maura terlihat terbaring lemah di atas ranjangnya dengan kondisi berdarah-darah. "Apa yang terjadi? Maura kenapa?" tanya Evan panik melihat kaki Maura berdarah.


"Pak, kami akan panggil dokter Diani untuk segera menutup kembali luka Bu Maura! Harap, bapak dan ibu keluar lebih dulu." ucap suster itu pada Hanna, Evan dan Bryan seraya meminta mereka keluar dari ruangan itu.


Mereka pun pergi dari ruangan itu, Evan terlihat sangat mencemaskan keadaan Maura. Hanna juga sama, dia mengatakan bahwa dia akan cuti kerja untuk menjaga Maura di rumah sakit.


"Aku gak bisa tinggalin Maura dalam keadaan seperti ini," Hanna menyeka air matanya, dia teringat kejadian Maura mengamuk beberapa saat yang lalu.


"Gak Han, kamu harus tetap bekerja. Biar aku saja yang jaga Maura, aku akan ambil cuti satu hari...pak Bryan apa boleh saya mengambil cuti tahunan saya?" Evan melirik ke arah Bryan.


"Kamu bisa mengambilnya," jawab Bryan pada Evan.


"Gak kak, biar aku saja yang jaga Maura. Kakak harus kerja, kakak belum lama bekerja masa sudah ambil cuti?" Hanna menolak perkataan Evan karena dia peduli pada pria itu.


"Tapi..."

__ADS_1


"Ehem, kalau tidak keberatan...saya akan meminta orang kepercayaan saya untuk menjaga Maura supaya kalian bisa bekerja." ucap Bryan memberi usul.


Hanna dan Evan langsung menolak usul itu, mereka tidak enak selalu merepotkan Bryan. Akhirnya Hanna yang menjaga Maura di rumah sakit, sebelum kedua pria itu pergi bekerja. Mereka bicara tentang keadaan Maura pada dokter Diani yang merawat dan memeriksa Maura.


"Seperti yang sudah saya perkirakan sebelumnya, Bu Maura harus diperiksa oleh bagian psikologis untuk berkonsultasi dengan psikiater jika keadaannya cukup parah."


"Tidak dok, adik saya baik-baik saja..." ucap Evan sedih.


Maura baik-baik saja.


"Bapak tenang saja, keadaan ini masih bisa diatasi dengan kehadiran keluarga terdekat. Berikan dukungan pada Bu Maura dan jangan buat dia stres." Sarah dokter Diani pada Evan. "Saya akan meminta dokter bagian psikologis untuk memeriksa keadaan Bu Maura setelah dia siuman nanti."


"Baiklah dok, terima kasih." kata Evan sambil mengelus kepala Maura dengan lembut.


"Sama-sama, saya permisi dulu." Dokter Diani pergi meninggalkan ruangan itu.


Bryan dan Evan juga pergi ke kantor bersama, setelah melihat Maura walau mereka sangat mencemaskan keadaan Maura dan enggan meninggalkannya. Bryan juga mengatur dua orang untuk berjaga-jaga, bila Maura berbuat nekat lagi.


Di dalam perjalanan, Evan dan Bryan sedikit mengobrol tentang Maura. "Pak, sebenernya saya tidak enak karena bapak terus membantu kami."


"Pak Evan, kamu tau kan alasan saya melakukan ini?"


"Maaf pak, tapi saya masih belum percaya bahwa pria seperti bapak akan menyukai adik saya. Saya juga belum mengenal bapak dengan dekat, saya takut salah mengenali orang... sama seperti saat saya salah mengenali seorang brengsek."


Bryan tersenyum, dia memuji kejujuran Evan. "Kalau begitu, kenali aku lebih dekat.. lihatlah bagaimana sikapku. Apa aku cocok menjadi adik iparmu?"


"Bapak bisa saja, mana berani saya menilai bapak." ucap Evan sambil tersenyum tipis. Dia masih belum memercayai pria yang bilang menyukai adiknya itu. "Ngomong-ngomong pak, apa bapak sudah mengatakan perasaan bapak pada adik saya?"


"Belum," jawab Bryan.


"Kenapa pak?" Evan menoleh ke arah Bryan yang duduk disampingnya, namun dia menjaga jarak darinya.


"Jika kamu saja tidak percaya ucapanku, apalagi dia yang dihatinya masih ada pria lain." kata Bryan dengan senyuman tipis dibibirnya.


Evan tidak menjawab dia hanya diam saja saat Bryan mengatakannya. Dia bingung mau menjawab apa. Mungkin setelah apa yang dilakukan Bara padanya, perasaan cinta di hati Maura akan berganti menjadi benci.


Ya, sekarang mungkin saja masih ada dia...tapi nanti akan menjadi aku yang ada disana. Atau mungkin setelah ini, Maura sudah tidak memiliki perasaan lagi padanya.


...*****...

__ADS_1


__ADS_2