Terjebak Dendam Suamiku

Terjebak Dendam Suamiku
Bab 49. Ocehan Clara


__ADS_3

...🍁🍁🍁...


Bryan malas menanggapi mamanya, dia sedang berfantasi dan merasa terganggu dengan teriakan mamanya. "Bryan! Buka pintunya!"


Tok, tok, tok


Clara tidak menyerah, dia terus mengetuk pintu kamar itu sampai Bryan membukanya. Di belakang Clara ada seorang pria paruh baya memakai pakaian rapi seperti seragam pelayan. Ya, dia adalah Farhan kepala pelayan di rumah besar itu.


"Kamu lihat sendiri, kan? Anak ini diajakin ngobrol sama ibunya aja susah banget, apalagi punya pacar!" Clara terus menggerutu


"Nyonya, tapi saya yakin kalau tuan muda mempunyai pacar karena dia sering menelpon seseorang." Bisik Farhan pada nyonya nya itu.


Clara menatap Farhan dengan kening berkerut dan alis kebawah. "Apa kamu yakin itu seorang wanita?"


"Saya yakin, saya pernah dengar kalau tuan muda pernah memerintahkan pak Ferry untuk membeli baju, sepatu dan perhiasan wanita."


Clara terdiam dan berpikir sejenak. "Hem, jadi begitu?"


Ceklet!


Pintu kamar Bryan terbuka setengahnya, terlihat pria tampan berusia 30 han itu berdiri didepan Clara. Dia menatap ibunya dengan malas. "Ada apa sih ma?"


Wanita paruh baya itu tidak bicara, dia langsung saja menerobos masuk ke dalam kamar putranya kemudian dia duduk di atas sofa yang berada di kamar itu. Bryan mengekori mamanya, dia yang sudah memakai piyama tidur itu heran kenapa Clara mengganggunya.


"Ada apa ma?" Bryan terlihat resah dan gelisah, ya bagaimana tidak? Fantasinya tentang Maura tadi siang masih belum sirna dari otaknya.


Jika otak bisa dicuci, aku ingin merendam otakku didalam deterjen dan menyikatnya sampai bersih.


Masih saja Bryan mendesah dalam hatinya yang tidak karuan itu.


"Bryan, mama mau bicara sama kamu!" Ujar Clara dengan tatapan tajam pada anaknya itu.

__ADS_1


"Ya ma, Bryan denger kok. Silahkan yang mulia ibu suri bicara," Bryan mengibas ngibaskan tangannya, mempersilakan sang mama untuk bicara.


"Bryan mama serius...ishh! Sebentar lagi usia kamu mau tiga puluh satu tahun dan usia mama sudah mau lewat 50!"


Walaupun kesal dengan anak ini, aku harus tetap bicara padanya.


Bryan melirik sekilas pada mamanya, "Terus?" pria itu kembali melirik ke arah yang lain.


"Orang lain yang sebaya sama mama sudah pada momong cucu, terus kamu kapan mau kasih mama cucu? Pacar aja kamu gak punya, kan?" Clara mendesah kecewa, di usianya yang sudah mau tua itu dia belum juga mendapat kabar baik dari jodoh anaknya apalagi cucu.


Presdir Xander grup itu tercekat mendengar ucapan ibunya yang dirasa meremehkannya. "Kata siapa aku gak punya? Aku kan sudah bilang sama mama kalau aku punya pacar."


"Bohong," sanggah Clara ketus.


"Aku serius ma," Bryan mengusap-usap telinganya. 'Bentar lagi pasti mama ngomel,'


"Terus mana pacar kamu? Kenapa kamu gak kenalin ke mama? Katanya kamu mau kenalin ke mama? Tapi kok gak ada terus kabarnya ya? Ahh...apa jangan-jangan beneran ya kamu pacaran sama COWOK?!"


Clara terus saja bicara seperti jalanan lurus yang tidak ada beloknya. Bryan sudah tau mamanya memang sensitif soal jodoh karena Clara mengira putranya itu tidak bisa jatuh cinta. Sebab penyakit mysophobianya yang parah!


Wanita paruh baya itu berbicara seolah sedang berjualan saja, kuping Bryan sampai panas dibuatnya. Akhirnya Bryan menggebrak meja dan menghentikan ibunya bicara, dia mengatakan bahwa dirinya memiliki seorang pacar dan pacarnya seorang wanita.


Dia berkata lagi bahwa dia akan membawa pacarnya dalam waktu 2 bulan dengan alasan bahwa pacarnya sibuk. "Oke, mama akan tagih janji kamu! Dua bulan lagi, mama mau melihat wanita itu!" Ancam Clara pada putranya.


"Iya ma, tapi mama harus janji satu hal sama Bryan!"


"Apa?"


"Seperti apapun masa lalu cewek itu, mama harus terima dia karena dia adalah wanita yang Bryan cintai," Bryan berkata dengan serius pada mamanya.


Clara tersenyum, "Baiklah, asalkan dia seorang wanita, membuatmu jatuh cinta dan membuatmu mau menikah, mama sudah tenang, itu sudah cukup membuktikan bahwa dia adalah wanita yang hebat!" Ucap Clara mempercayai pilihan Bryan sepenuhnya.

__ADS_1


"Terima kasih ma," Bryan tersenyum.


Setelah perbincangan itu, Clara keluar dari kamar putranya dengan hati yang tenang. Bryan kembali merebahkan tubuhnya kembali ke atas ranjang, dia memikirkan bagaimana caranya membuat Maura menerima hatinya dalam waktu dua bulan sebelum dia mempertemukan Maura dengan ibunya.


"Dua bulan lagi? Saat itu kamu pasti sudah bercerai dengannya kan? Apa aku bisa masuk lebih jauh ke dalam kehidupanmu?" gumam Bryan sambil memandang langit-langit di kamarnya, beberapa kali dia mendesah memikirkan wanita yang masih berstatus istri orang itu..


Belum lagi ada yang tegak tapi bukan keadilan dan ada yang berdiri tapi bukan tiang. Dialah si junior yang memiliki hasrat, fantasi yang membara dalam dirinya itu. "Aaargh- sial! Aku harus mandi lagi, kan?" Bryan mengacak-acak rambutnya dengan gusar.


Dia menyadari mungkin benar kata mamanya, bahwa dia harus segara menikah. Namun bagaimana caranya? Sedangkan dia baru saja memulai perjuangan cintanya.


****


Keesokan harinya, pada pagi itu Maura sudah berada di ruangan ayahnya. Dia melihat keadaan ayahnya yang belum juga ada perubahan, entah kapan pria paruh baya itu akan siuman.


Suster Anna juga menjelaskan bahwa keadaan Samuel tidak diketahui jelasnya bagaimana dan kapan dia akan siuman.


Evan yang sudah selesai bersiap ke kantor, pergi mengunjungi om nya terlebih dahulu. Dia melihat Maura ada disana. "Kakak, kakak mau berangkat kerja?" Tanya wanita itu pada kakaknya.


"Hem, iya Ra."


Hari ini Evan akan mengambil alih perusahaan Agradana sebagai presdir sementara sampai Samuel sadar dari komanya. Maura juga akan pergi bekerja seperti biasanya. Mereka menuruni tangga bersama, sambil mengobrol tentang Bryan.


"Kak, aku pikir kita harus berterima kasih pada pak Bryan...dia sudah banyak membantu kita,"


"Kamu benar, bagaimana kalau kamu buka sedikit hatimu untuk dia?" Evan melirik ke arah Maura, dia ingin tau apakah Maura memiliki hati untung Bryan atau tidak.


Maura langsung terperangah mendengar pertanyaan dari kakak sepupunya itu. "Kakak kenapa tanya begitu?" Baginya pertanyaan sang kakak terasa aneh.


Evan langsung bertanya tanpa basa-basi. "Maura, apa kamu gak ada rasa sama dia?"


"Rasa apa?" Maura tak paham dengan maksud kakaknya.

__ADS_1


"Ataukah hati kamu masih untuk si brengsek itu?" Evan menatap tajam ke arah adiknya, menunggu jawaban dari Maura.


...*****...


__ADS_2