Terjebak Dendam Suamiku

Terjebak Dendam Suamiku
Bab 69. Karena ayah Dajjal!


__ADS_3

...🍁🍁🍁...


Entah bagaimana obrolan Evan dan dokter itu, Evan sudah kembali ke ruang tempat Maura di rawat. Dia melihat Bryan sedang menjaga Maura dari kejauhan.


Maura, kamu juga pasti tidak menginginkan bayi itu. Kakak akan bantu kamu, melenyapkannya. Kamu harus bahagia dengan pak Bryan, dia adalah pria yang baik dan ada yang mengganggu kebahagiaanmu.


"Pak Revandra?" sambut Bryan pada Evan yang berdiri mematung di depan pintu.


"Pak Bryan....terimakasih bapak sudah menjaga Maura, setelah ini biar saya saja yang menjaga Maura."


"Ehm..."


Apa dia mengusirku?


"Maaf pak, bukan maksud saya mengusir bapak...tapi--"


"Tidak apa-apa, saya paham kok. Saya akan pergi, tolong kabari saya kalau Maura sudah siuman."


Mungkin ada sesuatu yang tidak boleh aku tau, ya aku kan belum menjadi keluarganya. Jadi wajar saja kalau masih ada yang dirahasiakan dariku.


Pikir positif Bryan didalam hatinya.


"Baik pak, saya mohon jangan tersinggung! Saya bukannya mengusir bapak, mohon maaf." Evan merasa bahwa dia salah merangkai kata pada Bryan.


"Tidak apa-apa, saya pamit pergi dulu." Bryan dengan sopan tersenyum, berpamitan pada Evan.


Kini hanya tinggal Evan dan Maura saja di ruangan itu. Evan meninggalkan Maura sebentar di ruangannya dan dia membeli makan malam untuk dia dan adiknya itu. Ketika Evan kembali, Maura sudah siuman, lebih tepatnya baru saja siuman.


Wajah Maura masih terlihat pucat, dia seperti stress dan banyak pikiran. Dia menatap kakaknya dengan tajam. "Maura, kamu udah siuman?" tanya Evan cemas.


"Kak...apa benar kakak tau tentang pak Nathan? Bahwa dia adalah kakakku?"


Evan tersentak mendengar pertanyaan Maura, tentang fakta Nathan yang diketahui Maura. "Apa maksud kamu? Kamu ngaco deh! Mana mungkin dia kakak kamu!" Evan berusaha setenang mungkin menghadapi Maura.


"Kakak, aku sudah tau semuanya...kakak juga tau tentang pak Nathan dan Bu Jessica, kan?" Maura tak melepaskan tatapannya dari Evan, memperhatikan setiap gerakan kecil dari Evan.


"A-apa sih maksud kamu? Aku gak mengerti...tentang Nathan dan Jessica?" Evan menelan ludah, memalingkan wajahnya.


Maura...kenapa bisa tau?


"Aku tau kakak menyembunyikan semua ini karena kakak tidak mau aku terluka, tapi aku sudah sangat terluka kak...yang membuat ayah tidak menjadi cinta pertamaku lagi." Wanita itu kecewa pada ayahnya yang sudah berbuat bejat pada banyak wanita.

__ADS_1


"Apa Nathan yang mengatakannya padamu? Apa DIA?!"


Maura tersenyum menyeringai. Pertanyaan Evan menjawab semua pertanyaannya bahwa memang benar dia, Nathan dan Jessica memiliki ayah yang sama dan bahwa ayahnya yang baik itu adalah seorang brengsek. "Awalnya dia gak bilang apa-apa, tapi aku tau sebagian besar semuanya karena aku mengikuti dia tadi siang!"


"Apa? Jadi tadi kamu izin pulang itu karena kamu mengikuti dia?"


"Iya, aku mengikuti dia dan disitulah aku tau semuanya. Ketika aku tau semuanya, kakak tau bagaimana perasaanku? Aku sakit kak, aku kecewa, ternyata ayah yang aku kenal sebagai orang baik dan setia, itu hanya khayalanku saja! Aku juga kecewa sama kakak karena kakak gak kasih tau tentang semua ini, rahasia besar kalau kami bertiga mempunyai ayah yang sama. Lalu masalah Bu Jessica, mantan sekretaris ayah...dia hamil di perkosa oleh ayah lalu dan dia--"


Tidak sanggup lagi Maura berkata-kata, kejahatan ayahnya benar-benar membuat dirinya stress dan terpuruk. Maura semakin malu pada Nathan, apalagi pada Alina kekasih Bara yang juga menjadi korbannya. "Aku gak bisa berdiri tegap, mengangkat kepalaku...aku malu kak...hiks..."


"Maura..." Evan tidak tahu bagaimana dia harus menghibur Maura, disisi lain dia senang melihat Maura stress dengan harapan Maura akan keguguran sendiri. Tapi disisi lain dia kasihan pada Maura.


Dia sudah sepakat dengan dokter untuk merahasiakan kehamilan Maura, setelah dokter itu menolak Evan untuk menggugurkan kandungan adiknya.


Setelah fakta mencengangkan itu, Maura merasa tidak percaya diri. Dia malu menghadapi Nathan dan kini semua telah terjawab alasan Evan masih mempertahankan Nathan bekerja di perusahaan karena sebagian dari rasa bersalah dan fakta bahwa Nathan adalah anak tertua Samuel.


Malam itu juga Maura pulang dari rumah sakit, wajahnya terlihat pucat dan stress. Kepalanya penat, dia ingin segera sampai di ranjangnya lalu tidur pulas. Bagaimana dia tidak stress? Banyak masalah yang membuat dia kepikiran, apalagi kalau dia tau tentang kehamilannya? Pasti dia akan makin stress, tapi untuk saat ini Evan masih merahasiakannya.


Evan tau ini dosa, berharap janin yang ada didalam rahim Maura untuk mati. Namun dia sungguh tidak mau memberikan Bara kesempatan untuk kembali bersama Maura.


Pintu gerbang dibuka oleh Bara, disana juga ada mang Udin sedang duduk di posnya. Bara sendiri baru saja pulang dari tempat kerja barunya disebuah perusahaan yang sedang berkembang. Dia bekerja di rumah Maura tiap malam sampai pagi, paginya itu dia pulang ke rumah lebih dulu lalu pergilah kerja.


Maura turun dari mobil dalam keadaan lemas, Evan menuntunnya. "Maura hati-hati,"


"Maura, kamu kenapa? Apa kamu sakit?" Bara menatap wanita itu dengan cemas.


Kenapa wajah Maura pucat begitu? Dia sakit?


Maura melihat sekilas ke arah Bara, dia menatap sinis dan tidak senang dengan perhatian Bara padanya. Maura pun masuk ke dalam rumah dengan cuek. Evan menatap Bara dengan sarkas. "Mulai hari ini kamu saya pecat, jangan datang lagi!"


"Kenapa? Aku kan sudah janji untuk menjaga rahasia dan kamu mengizinkan aku bekerja disini." protes Bara pada Evan yang sudah melakukan perjanjian dengannya.


"Tidak diperlukan lagi, janjinya sudah batal. Pergilah dan jangan datang lagi!" Ujar Evan mengusir pria itu.


Bara tertegun sejenak lalu dia berkata, "Apa Maura..."


"Dia sudah tau semuanya,"


Bara tercengang. "Bukankah kamu tidak mau dia tau? Kenapa dia bisa tau?!"


Pantas saja dia seperti itu, dia pasti sangat syok dengan semua ini. Aku harus menghiburnya.

__ADS_1


"Apa aku harus menjawabmu? Mang Udin, cepat usir dia dari sini, aku tak mau melihat wajahnya lagi." Kata Evan pada mang Udin yang berdiri dibelakang Bara.


"Ba-baik tuan," Udin hanya menurut saja apa perintah tuannya.


Evan masuk ke dalam rumah, sementara Bara melihat lampu kamar Maura yang masih menyala dari lantai bawah. Dia menatap jendela kamar itu dengan cemas. "Pak Bara, maaf saya harus melaksanakan perintah tuan Evan."


"Baik, aku akan pergi...tapi tolong izinkan aku disini sebentar lagi." Bara memohon pada Udin untuk mengizinkannya tinggal sebentar lagi.


"Jangan lama-lama ya pak, nanti saya bisa kenal omel pak Evan." Udin menghela nafas panjang.


"Makasih pak," Bara tersenyum tulus berbeda dengan senyuman sinis yang selalu dia tunjukkan sebelumnya.


****


Kini Maura berada di kamarnya, setelah dia mengunjungi ayahnya yang masih koma. Dia melihat fotonya dan sang ayah yang dipajang di atas dinding. Maura melempari foto itu dengan sisir hingga bingkai kacanya pecah.


"Karenamu ayah...karena ayah aku mengalami hal seperti ini, aku disiksa mantan suamiku, aku dibohongi, aku ditipu, kenapa ayah? Kenapa ayah tidak cukup dengan satu wanita saja? Ayah pernah bilang padaku kalau ayah hanya mencintai ibu seumur hidup ayah, makanya ayah tidak menikah lagi. Tapi...fakta busuk macam apa ini? Ayah bahkan memiliki banyak wanita di luar sana, ayah tidak sebaik yang aku pikirkan. Ayah, aku sangat bodoh kan? Aku pernah bilang padamu kalau aku ingin mempunyai suami sepertimu, pria paling setia dan paling baik di dunia ini! Itu kamu, AYAH! Lalu benar, doaku terwujud...aku mendapatkan suami seperti ayah, suami seperti Dajjal dan kelakuannya seperti binatang!" Wanita itu menumpahkan semua kekesalannya dengan menatap foto ayahnya disana.


Dia tak bisa berbuat apa-apa pada ayahnya yang masih koma itu. Jadi dia hanya bisa melampiaskan semuanya pada foto sang ayah. Fantasinya tentang Samuel hancur sudah, dia tidak percaya semua ini dan amat kecewa.


Ketika dia sedang duduk di sudut ranjangnya sambil meringkuk kesakitan. Ponselnya terus berdering dan dia tidak peduli.


Seseorang yang jauh dari sana, terlihat sangat mencemaskannya. "Kenapa Maura tidak mengangkat telponku? Kata Evan dia sudah pulang dari rumah sakit. Apa aku ke rumahnya saja ya."


"Bryan, kamu belum tidur?" Tanya Clara yang melihat anaknya sedang di luar rumah sendirian sambil memegang ponsel.


"Ma, aku mau pergi dulu ya!"


"Kamu mau kemana?"


"Ketemu calon menantu mama," jawab Bryan sambil tersenyum.


Clara terlihat puas mendengar jawaban Bryan. "Ya baguslah, sering-sering main ke rumahnya. Pepet terus jangan kasih kendor! Mama suka semangat kamu!" Clara mendukung Bryan.


"Doain Bryan ya ma," Bryan pamit pada mamanya kemudian dia berlari menuju ke mobilnya.


Bryan mengendarai mobilnya dan pergi ke rumah Maura, yang jaraknya lumayan jauh dari rumahnya. Tapi dia tak peduli dengan jarak, bahkan saat Maura masih berstatus istri orang saja dia berani mendekati gadis itu. Apalagi kini Maura sudah menjadi janda.


Beberapa menit kemudian, di depan rumah Maura, Bryan melihat seseorang berpakaian satpam naik tangga kayu menuju ke kamar Maura.


...****...

__ADS_1


Sambil nunggu up lagi novelku, mampir sini ya 😍😍 karya temenku, bikin baper😍😍



__ADS_2