
...🍀🍀🍀...
"Pak, buruan!" Teriak Bara yang terburu-buru.
"Maaf pak, saya gak bisa buru-buru. Jalanan didepan macet pak," ucap supir taksi itu melihat jalanan yang macet panjang oleh kendaraan roda dua dan kendaraan roda empat.
"Terus gimana dong pak! Saya takut telat!"
"Sabar aja pak, ini malam Minggu...wajar aja kan kalau macet. Pasti banyak orang-orang yang lagi liburan."
Bara tersentak kaget mendengar perkataan si supir taksi itu bahwa malam ini adalah malam Minggu.
Sial! Benar! Ini malam minggu...alasan Bryan dan Maura pergi, apa benar mereka akan bersama? Tidak bisa! Sebelum itu terjadi aku harus menggagalkannya!
Tanpa pikir panjang, Bara langsung memberikan upah 25 ribu pada si supir taksi. Dia pun turun begitu saja dalam keramaian, kemacetan kendaraan. Dengan resah dia mencari tukang ojeg, namun sayang dia kesulitan.
"Sial! Ini semua gara-gara Evan! Kalau saja dia tidak menghalangi dan merusak motorku, aku tidak akan kesulitan seperti ini!" Gerutu Bara yang kesal dengan keadaannya sekarang. "Kenapa si tukang ojeg sialan juga tak ada disini?!"
Ketika Bara frustasi mencari kendaraan apapun yang bisa membuatnya pergi ke tempat Maura. Seseorang yang mengendarai motor matic berwarna putih berhenti tepat disamping Bara.
"Bara?" Orang itu membuka helmnya, dan terlihatlah rambutnya yang pendek dan wajahnya yang cantik.
"Vera?" Alangkah terkejutnya Bara melihat Vera yang mengendarai motor itu.
Loh? Kenapa Vera terlihat berbeda ya? Dia gak menor kayak biasanya?. Bara bingung melihat wajah Vera yang terlihat berbeda karena wanita itu tidak mengenakan riasan.
"Kamu ngapain disini?" Tanya Vera dengan kening berkerut.
Benar juga, Maura...aku harus segera menemui dia dan si Bryan.
"Tolong aku, Vera!" Ujar Bara pada Vera.
****
Di restoran itu, semua orang menantikan jawaban dari Maura. Apalagi orang yang sedang deg degan itu, Bryan sangat menantikannya.
"Terima! Terima....terima...."
Semua orang mendukung Maura untuk menerima cinta Bryan. Pria tampan, hidung mancung, mata berwarna biru, bibir tipis, selain itu dia adalah pewaris dari Xander grup. Tidak ada cacat sedikitpun darinya, keluarganya berasal dari keluarga baik-baik. Siapa yang akan menolaknya? Apalagi ini pertama kalinya Bryan menyatakan cinta pada seorang wanita.
"Bryan, aku mau tanya dulu sama kamu."
Baru saja Maura bicara begitu, Bryan sudah berdebar-debar karenanya. "A-apa?"
__ADS_1
"Kamu mengajakku untuk apa? Pacaran, tunangan atau menikah?" Tanya Maura pada pria itu dengan tegas.
Kali ini dia tidak mau salah menentukan pilihannya, sebenarnya keinginan Maura sederhana, dia hanya ingin cinta sekali yang seumur hidup. Tapi sayangnya Bara menghancurkan cinta itu dengan kebohongan besar. Maka kali ini, tak mudah bagi Maura menerima orang baru.
"Aku tidak pernah mau pacaran, menurutku pacaran hanya buang-buang waktu dan aku tidak mau itu. Jadi, ajakanku adalah untuk melangkah lebih serius, Maura."
"Katakan yang jelas pak?"
"Aku ingin menikah dengan kamu," Bryan menatap Maura dengan kepercayaan diri yang tinggi.
Maura terdiam sejenak, dia menundukkan kepalanya dan membuat Bryan semakin tegang.
Wanita itu mengambil balon dari tangan Bryan, sontak Bryan menutup mata karena merasa bahwa dirinya akan ditolak. Namun, mendengar tepuk tangan riuh dan para tamu yang berada disana membuat Bryan terpana.
"Hore!!!"
"Wuwuwuu...selamat!"
Apa? Hore? Selamat?
Bryan membuka matanya perlahan-lahan, lalu dia melihat dengan jelas Maura memeluk balon yang berbentuk hati itu. Dirinya tidak menyangka bahwa lamarannya diterima. "Little girl,"
"Bry, aku serahkan hatiku kepadamu. Tolong buat aku percaya lagi dengan cinta," Maura tersenyum lembut.
"Aku juga janji sama kamu, aku akan selalu setia, percaya dan aku akan mencintaimu sepenuh hati. Kamu juga harus pegang janjimu, seperti aku memegang janjiku. Jangan buat aku menyesali pilihan hatiku untuk kamu."
"Pelukan! Pelukan...pelukan!! Pelukan!!" sorak para tamu yang geregetan melihat Maura dan Bryan.
Maura dan Bryan saling melihat satu sama lain dengan wajah yang malu. "Bry, kenapa kamu memilih tempat ramai seperti ini? Apa kamu gak malu?" bisik Maura dengan suara seksinya yang menggoda bagi Bryan.
"Aku juga sebenarnya malu, tadinya aku mau menyewa tempat ini untuk berdua...tapi aku gak mau kita berdua saja yang jadi saksi. Aku mau pernyataan cintaku disaksikan semua orang disini," ucap Bryan berbisik.
PELUKAN PELUKAN!
"Kayaknya mereka sangat bersemangat, Maura... boleh?" Bryan merentangkan kedua tangannya bersiap memeluk Maura.
Wanita itu menjawab dengan anggukan. Keduanya pun berpelukan mesra. Tak berlama-lama, Maura langsung melepaskan pelukannya karena malu. Lalu para tamu yang hadir disana, bersorak lagi. "CIUM! CIUM! CIUM!"
Mereka sangat antusias dan bersemangat melihat pasangan yang baru saja memutuskan untuk menjalin hubungan ke arah yang serius.
Cup!
Bryan mengecup lembut bibir Maura didepan semua orang disana. Sontak para tamu terpana dan bersorak. "Bry..."
__ADS_1
"Maura maaf belum ada cincin, aku berniat memberi cincin sama kamu disaat kedua keluarga kita menyaksikannya." bisik Bryan kemudian dia tersenyum.
Bryan memeluk lagi Maura dengan bahagia, dia kecup keningnya wanita itu dengan mesra. "Singkirkan tanganmu darinya!! Jauhi dia!" Teriak Bara yang panas hati melihat kemesraan itu.
Pelukan Maura dan Bara terlepas, mereka melihat Bara dalam kondisi terluka datang kesana dengan wajah marah. "Kamu? Ngapain kamu disini?" Tanya Bryan dengan menautkan alis ke atas, dia menatap tajam Bara.
Bara berjalan terpincang-pincang mendekati Maura dan Bryan, dia menarik tangan Maura. "Bara, apa yang kamu lakukan?!!"
Semua orang di sana menonton mereka, seperti menonton drama di televisi.
"Lepaskan tanganmu dari calon istriku!" Bryan mengambil Maura dan mendorong Bara.
"Calon istri? Hah! Bagaimana bisa? Baru 50 hari kita bercerai dan kamu sudah mau menikah lagi?" Bara mendesis kesal.
"Apa urusannya dengan kamu? Aku dam kamu sudah bercerai, jadi jangan ganggu aku lagi!" Tegasnya pada Bara.
"Bagaimana bisa aku tidak ikut campur urusanmu? Kalau sekarang kamu sedang mengandung anakku," Bara tersenyum percaya diri.
Bak petir menggelegar, Bryan dan Maura tercengang kaget mendengar ucapan Bara tentang mengandung. "Kamu jangan bicara sembarangan ya!" Bryan tidak percaya dengan kabar dari Bara.
Maura hamil? Gak mungkin kan?
"Aku tidak hamil!"
"Kamu tidak datang bulan sudah lebih dari satu bulan kan? Itu setelah kita berhubungan, kan?" Tanya Bryan sambil menatap Maura dengan tajam.
Bryan yang tidak percaya begitu saja dengan Bara, langsung memukuli Bara saat itu juga. Terjadilah adu kekuatan disana antara Bara dan Bryan.
"Tolong! Tolong panggilkan petugas keamanan!" Seru Maura pada tamu yang ada disana.
Salah satu tamu bergegas pergi mencari petugas keamanan untuk melerai Bara dan Bryan yang kini berguling-guling di atas lantai.
"Brengsek kamu! Selalu saja kamu kacaukan hariku!"
"Kenapa? Kamu merasa kalah? Maura hamil anakku dan aku akan kembali bersamanya, aku kan sudah bilang kamu gak akan punya kesempatan!"
"Tidak! Kamu yang gak punya kesempatan. Meski Maura hamil, aku akan jadi bapak anak itu."
"Sialan kau!"
Bara dan Bryan saling adu kekuatan, mereka sama-sama kuat. Keduanya babak belur, mungkin 1:1. "HENTIKAN! Bryan, Bara! Kumohon..."
Maura berusaha melerai keduanya, namun tak sengaja Bara mendorong Maura.
__ADS_1
...****...