
Di kamar suit hotel
"Apa hubunganmu dan konflik apa yang terjadi antara kau dan Bianca?" Tanya Jackson murka.
"Sungguh Jackson, aku tidak punya masalah dengannya." Jawabku bersikeras tidak ingin mengakui.
"Apa kau pernah merebut pacarnya?" Bentak Jackson membuatku terkejut.
"Aku tidak mungkin melakukan hal sekeji itu." Jawabku berani.
"Kau tidak merebut pacarnya. Tapi kau hanya merebut pria beristri!?" Saut Jackson.
"Apa maksudmu? Aku tidak suka pria yang sudah menikah, aku punya batasanku sendiri. Hanya saja pria yang diam-diam ku suka kebetulan sudah punya orang, aku tidak rela kehilangannya begitu saja, makanya aku melakukan hal yang bertolak belakang dengan hati nuraniku," jawabku tegas. Tapi tanpa ku ketahui Jackson menangkap kalimatku sebagai kalimat klasik wanita jal*ng.
"Dan satu hal lagi, aku berkelahi dengannya karena Bianca merusak nama baik Tuan Jackson. Aku berkelahi karena melindungi Tuan Jackson." Sambung ku lagi.
Mendengar perkataanku, Jackson akhirnya menangkap bahwa wanita sepertiku tidak pernah berkata jujur.
"Kalau begitu pergilah dan bersihkan lukamu." Ucapnya dingin.
"Ini sudah sangat larut malam. Apa kau tega membiarkanku pulang seorang diri. Bagaimana bila terjadi sesuatu padaku." Jawabku menyedihkan sambil menyentuh luka di lengan dan juga wajahku.
"Aw! Perih sekali, Jackson. Aku mohon izinkan aku menginap semalam saja bersamamu." Pintaku dengan mata berbinar. Jackson langsung naik ke atas ranjang tanpa menjawab perkataanku. Diamnya aku anggap tanda di izinkan.
Dengan bahagia aku langsung menuju kamar mandi dan membersihkan diri disana. Begitu selesai aku keluar dengan hanya menggunakan handuk mini milik Jackson. Sangat mini hingga mengekspos lekuk tubuhku yang aduhai.
"Jackson, aku tidak membawa baju ganti. Apakah aku boleh meminjam kemejamu?" Tanyaku meminta izin.
Kini, Jackson tengah bersandar di kepala ranjang dengan jarinya yang berkelana di laptop.
Dia melirikku lalu menganggukkan kepalanya. Dengan senang hati aku langsung menuju lemarinya yang selalu tersedia beberapa setel pakaian miliknya disana.
__ADS_1
Cukup lama memilih, akhirnya pilihanku jatuh pada kemeja berwarna putih milik Jackson. Pikiranku mulai mencari celah untuk menggoda Jackson. Aku tidak memakai dalaman apa pun. Dengan kemeja putih yang menerawang ini. Aku yakin Jackson tidak akan mampu menolakku.
Aku memutar kepalaku kebelakang untuk melihat Jackson. Dia tampak masih serius menatap laptopnya.
Tanpa pikir panjang, aku langsung melepaskan handukku.
"Jackson, bolehkah aku meminjam kemeja ini." Ucapku dengan suara yang mendayu-dayu. Jackson melirik ke arahku. Dari posisinya, dia dapat melihat tubuh polos bagian belakangku. Punggung mulus serta bok*ng mulus yang berukuran jumbo dapat dilihat langsung olehnya. Ini adalah senjata akhir yang aku gunakan untuk menggodanya. Aku telah memperlihatkan tubuh polos belakangku. Aku sangat yakin dia tergoda.
"Sepertinya kau sangat ingin menggodaku." Ucap Jackson singkat lalu kembali lagi menatap layar monitornya.
Aku tersenyum melihat gelagatnya. Aku langsung memasangkan kemeja tembus pandang itu di tubuh seksiku. Karena ukuran gundukkanku yang tidak biasa, aku kesulitan mengancingkan tiga kancing kemeja bagian atas. Menahan napas, lalu dengan cepat aku kancingkan. Sialnya ketiga kancing itu terlepas dan berserakan di lantai ketika aku kembali bernapas.
"Tidak masalah, ini akan semakin menggoda," ucapku santai, membiarkan kedua gundukkanku menyembul dibalik kemeja putih itu.
Perlahan aku berjalan ke arah Jackson lalu naik ke atas ranjangnya.
Aku mendekatkan tubuhku padanya. Lalu memejamkan mataku berpura-pura terlelap. Dan sialnya aku benar-benar terlelap tanpa ada adegan romantis yang terjadi. Sial, usaha ku kali ini gagal karena aku kelelahan dan tak sengaja ketiduran. Katika terbangun di pagi hari, Jackson sudah tidak ada. Kulihat jam, dan aku terlambat. Kupastikan Jackson telah berangkat ke perusahaan tanpa aku.
Diadakan rapat internal PT. Samudera Raya untuk membahas akuisisi Angkasa Group.
Jackson duduk di kursi paling tengah. Sedangkan jajaran lainnya duduk di kursi masing-masing. Mereka duduk sejejar menghadap ke arah Jackson yang berada tepat di kursi utama Presdir.
Suasana begitu sepi mencengkam, aku berdiri disamping Jackson. Dengan posisi ku, aku bisa leluasa menatap setiap wajah bawahan Jackson yang sebagian besar adalah pria-pria paruh baya berperut buncit.
Tak berselang lama, rapat pun dimulai. Seseorang mulai membuka suara.
"Menurutku lebih baik PT. Samudera Raya menyerah atas akuisisi kali ini." Saran dari General menager kantor cabang PT. Samudera raya, Andreas.
Yang lainnya tampak diam mendengarkan perkataan Andreas. Jackson tersenyum smirik lalu menjawab.
"Kau kira aku akan menyerah secepat itu." Jackson bersikeras untuk mendapatkannya.
__ADS_1
"Menurut saya itu harus dilakukan. Bukankah Tuan Hadden adalah Paman dari Nyonya Zea liandra. Setidaknya ini dilakukan untuk menghormatinya." Jawab Andreas yang sepertinya masih mengira kalau PT. Samudera Raya adalah milik keluarga Liandra.
"Aku tidak akan menyerah, Tuan Andreas." Jawab Jackson menekan kalimaya.
"Tuan Jackson, PT. Samudera raya adalah milik keluarga Liandra dan itu artinya Tuan Hadden juga punya hak atas perusahaan." Jawab Andreas merendahkan Jackson. Hanya Adreas yang belum mengetahui milik siapa PT. Samudera raya saat ini.
Yang lainnya hanya diam dengan keringat dingin bercucuran ketika Mendengar perdebatan keduannya.
"Kau tau akan seperti apa PT samudera raya tanpa aku. Akulah yang mengembangkannya hingga sebesar ini. Dan sekarang, PT. Samudera raya adalah milikku seutuhnya. Apa pun yang aku katakan, maka kau termasuk Hadden bahkan juga Istriku harus menjalankannya tanpa membantah." Jawab Jackson tenang. Sedangkan Andreas tampak begitu terkejut dengan pernyataan Jackson. Dia katakutan karena tanpa dia sadari, dia telah melawan orang paling berhak atas PT. Samudera raya.
Rapat selesai. Kini, aku dan Jackson sudah berada di ruangan. Jackson membaca sebuah surat anonim yang ada di tangannya saat aku sedang menuangkan teh untuknya.
Di dalam surat itu tertulis jelas identitas dan hubungan asmara, serta mengajak Jackson untuk bertemu.
Orang yang menulis pesan tidak pintar, aku dan Jackson bisa menebak kalau surat itu dari Bianca.
"Jackson, sebaiknya kau tidak perlu pergi. Bianca bukanlah wanita yang baik, dia adalah wanita yang licik. Aku tidak ingin dia menggunakan kesempatan ini untuk mengelabuhiku. Dan aku tidak ingin Nyonya Zea salah paham atas hubungan kita." Bujukku berusaha agar Jackson tidak pergi menemui Bianca. Jackson hanya diam mendengar perkataanku. Aku tidak tau dia akan percaya padaku atau tidak. Tapi yang pasti aku sudah berusaha.
Setelah aku selesai membodohi Jackson, aku keluar dari ruangan Jackson untuk menelpon Bianca.
"Hallo Bianca," bisikku pelan.
"Ada apa kau menelponku? Oh aku tau, kau pasti sudah membaca surat yang aku kirimkan untuk Tuan Jackson. Em, bersiaplah atas kehancuranmu Nona Cecilia Humeera." Jawab Bianca menyebutkan nama asliku.
"Kau jangan macam-macam padaku, Bianca. Kalau kau berani mengatakan tentangku kepada Tuan Jackson maka aku tidak akan membiarkanmu hidup tenang." Ancamku.
"Kau kira aku takut, aku ini memang sudah tidak lagi punya nama baik. Bukankah kau yang menghancurkan nama baikku. Dan sekarang aku punya kesempatan untuk membalasmu, mana mungkin aku menyia-nyikannya." Jawab Bianca diseberang sana.
"Bianca, tenanglah dulu. Masalahmu yang dulu berbeda dengan masalahku saat ini. Ini berbeda topik. Sekarang katakan apa yang kau inginkan, saat ini juga aku akan mengabulkannya. Bagaimana dengan 100 juta. Aku yakin kau tidak pernah menyentuh uang sebanyak itu selama kau menjadi sugar Daddy. Bila kau merahasiakan identitas asliku dihadapan Tuan Jackson aku akan memberikanmu uang 100 juta saat ini juga." Bujukku.
"Aku tidak tertarik sama sekali dengan uangmu Nona Sesil. Aku akan membuat hidupmu tidak tenang. Dan bahkan aku menginginkan nyawamu. Aku ingin kau MATI."
__ADS_1
Tuttt!