
"Apa yang kamu katakan, Zea?"
"A-ayah, Ma-maksudku ... Maksudku tidak seharusnya Ayah membiarkan Paman berpacaran dengan Cecilia. Dia tidak sebanding dengan keluarga kita! Cecilia bukan hanya wanita miskin, tapi dia juga wanita murah*n!" Bentak Zea membuat emosi Peter semakin membuncah.
"Jaga ucapanmu, Zea!" Bentak Hadden.
"Ayah, lihatlah, Paman bahkan membentakku. Ayo Ayah lakukan sesuatu, Paman tidak bolah bersama dengan Cecilia. Dia bukan wanita baik-baik." Ucap Zea lagi.
"Sepertinya kamu sangat mengenal Asistenku?" Saut Jackson santai, dia menikmati situasi yang kini semakin kacau.
"Tentu saja aku mengenal setiap wanita yang ada di sisimu, Sayang. Cecilia, aku yang memilihnya untuk dijadikan Asistenmu. Namun, setelah melihat berita tentangnya, aku sadar kalau aku sudah salah memilihnya untukmu. Dan Ayah, ayo cegah Paman Ayah, mana bisa Ayah membiarkan Paman bersama dengan orang sembarang," tutur Zea membuat Peter memijit pangkal keningnya.
"Zea!" Bentak Hadden lagi.
"Paman su—"
"Diam!" Teriak Peter membuat semua orang terkejut kecuali Jackson pastinya.
Peter berdiri, dan Jenny ikut berdiri kemudian menggandeng lengan Peter, Jenny mengingatkan dengan lembut, “Peter, sudah waktunya ke rumah sakit.”
"Jenny, jangan sok perhatian kepada Ayahku. Kamu pun sama dengan Cecilia, sama-sama wanita jal*ng yang hanya menginginkan uang," Zea berkata kasar pada Jenny. Jenny tidak peduli pada Zea dan melanjutkan membantu Peter berjalan keluar dari ruangan.
Zea dari awal sudah kesal dan sikap acuh tak acuh Jenny langsung membuatnya emosi. Zea berjalan cepat menyusul Jenny yang kini sudah berada di luar.
"Dasar wanita tidak tau malu!" Teriak Zae sambil membalikkan badan Jenny dengan sekali tarikan.
PLAAK!
Zea menampar wajah Jenny tepat di hadapan Peter.
"Zea!" Peter ingin memberi pelajaran pada Zea. Namun, Jenny menghalangi tindakan Peter. "Tidak perlu, Sayang. Aku baik-baik saja," Jenny membenamkan wajah di dada Peter dan menangis terisak-isak. Peter menggertakkan gigi, tapi akhirnya tidak jadi meneruskan teriakannya.
"Aktingnya amatir sekali, tidak menghayati peran yang dibawakan. Aku bisa berakting lebih profesional dari Jenny." Gumamku. Kini, aku bersembunyi di pojokan ruangan untuk menilai akting Jenny. Aku sengaja ikut kaluar dengan mengatakan ingin ke toilet. Aku melarikan diri dari Jackson dan juga Hadden.
__ADS_1
Saat aku membalikkan badan, Hadden sudah ada di hadapanku.
"Mari, aku antar pulang," tawar Hadden yang mau mengantarku pulang.
"Paman, aku ke sini juga mengemudikan mobil sendiri, dan aku ingin membahas sesuatu dengan Cecilia. Aku akan sekalian mengantarnya pulang." Hadden melihatku, dan aku pun segera mengangguk pelan pada Hadden.
Di dalam mobil, Zea bertanya padaku dengan raut wajah datar, “Nona Cecilia, apa maksudmu?”
"Kejadian yang terjadi hari ini, itu di luar kendaliku, Nyonya. Ini terjadi tanpa aku duga. Hadden hanya sedang membantuku meredam kebencian Peter" kulihat Zea mengernyit tidak percaya.
"Kalau begitu kamu harus pergi keluar negeri untuk menghindari masalah." Kata Zea.
Aku langsung menolak dan Zea memberi ultimatum, “Aku beri toleransi terakhir untukmu, berikan bukti video dan foto padaku dalam seminggu atau aku tunggu aku nona Cecilia di pengadilan.” Zea menurunkanku di tengah jalan. Dan Zea yang emosi langsung meninggalkanku setelah selesai bicara.
Tanpa berpikir panjang, aku langaung menghentikan sebuah taksi yang lewat, dan aku segera pulang.
Tok ... tok ... tok ....
Aku kaget karena meyakini kalau yang mengetuk pintu adalah Jackson. Tentu saja, siapa lagi yang bisa berada di mana-mana selain Jackson.
"Oh Tuhan, bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan?" Perasaanku berkecamuk, karena sudah terlanjur memiliki perasaan yang tidak seharusnya ada terhadap Jackson. Perasaan yang sebelumnya tidak pernah aku rasakan dari pria manapun termasuk Hadden sekali pun. Aku tau siapa Jackson, dia adalah lelaki yang tidak akan pernah memberikan status kepadaku. Bersama dengan Jackson, artinya aku harus siap menjadi wanita simpanan selamanya. Aku tidak ingin hal seperti itu terjadi. Tapi, apa yang bisa aku lakukan? Perasaan ini datang tanpa diundang, bahkan sebelumnya aku tidak pernah berpikir bahwa pada akhirnya, akulah yang akan lebih dulu jatuh akan pesona seorang Jackson.
Tidak ingin lari dari masalah, akhirnya aku segera membuka pintu dan meletakkan kunci di atas lemari sepatu.
Jackson masuk dan mendorongku dari belakang hingga aku terjerambab di dinding beton rumahku.
Aaakkhh!
Teriakku kaget sekaligus kesakitan.
Aku menoleh ke belakang lalu memohon agar Jackson melepaskanku,"Tuan, tolong lepaskan saya," pintaku percuma.
__ADS_1
Dengan kasar Jackson merobek bajuku, dengan sekali tarikan, baju itu sobek dan menampakkan bahu mulusku yang dapat membuat nafs* Jackson kian membuncah.
Aku mendengar Jackson melepas ikat pinggangnya. Jackson berkata, “Kamu tidak akan berakhir dengan baik karena sudah menipuku seorang. Apalagi menipu dua pria sekaligus dalam waktu yang sama.” Ucap Jackson dingin dengan deruan napas yang tersengal.
"Tuan, saya sama sekali tidak menipu. Apalagi menipu Tuan Jackson," jawabku membela diri.
Dengan kasar Jackson membalikkan badanku hingga aku kembali meringis kesakitan.
"Mulutmu ini begitu manis saat berbicara, kamu memang pandai menggoda." Ujar Jackson memasukan beberapa jarinya ke dalam mulutku, hingga membuatku tersedak.
"Tuan, saya mohon jangan begini. Saya bisa jelaskan semuanya," jelasku kala Jackson telah mengeluarkan jarinya.
"Melepaskan wanita rubah sepertimu. Jangan harap!" Saut Jackson kembali merobek braku, kemudian dia langsung ******* dua melonku dengan kasarnya, hingga meninggalkan bekas kemerahan bahkan keunguan di sana.
"Ahh, Taun sakitt." Des*hku tak didengarkan Jackson sama sekali. Dia terus fokus menjelajahi tubuhku dengan tangan, lidah, bahkan giginya.
Puas bermain di sana, Jeckson membalikkan badanku. Lalu menyingkap rokku dan menurunkan cdku dengan kasar.
"Aaaakkhh, Tuannn!" Teriakku saat Jackson membuat penyatuan dengan sekali hentakkan, membuatku mendapatkan rasa sakit di bawah sana.
Entah cemburu entah karena tidak suka berbagi mainan. Yang pasti, sikap Jackson yang kasar, benar-benar melukai hatiku. Rasa sakit serta perih di bawah sana, rasanya tidak bisa menandingi rasa sakit dan perih di hatiku.
Namun, apa yang bisa aku lakukan? Aku sadar, setiap pekerjaan memiliki risikonya masing-masing, dan inilah risiko dari pekerjaan yang aku lakoni. Tidak mungkin aku menyalahkan Jackson dalam hal ini, dia hanyalah satu dari pria yang aku jerat. Dan kini aku sadar, kalau Jackson adalah satu dari mangsa yang tidak seharunya aku jerat.
Tidak ada sedikit pun kelembutan yang aku dapatkan dari perlakuan Jackson saat ini. Dia menggagahi ku dengan kasar, mengubah suara Des*hanku menjadi ringisan kesakitan.
Tidak puas bermain sambil berdiri, Jeckson menyeretku dan melemparku ke atas ranjang. Dia kembali membuat penyatuan yang membuatku kembali meringis. Aku memejamkan mataku, berusaha menetralkan rasa sakit di bawah sana. "Ahh ... Tu-tuan, pe-pelan-pelann," Mohonku sambil menatap Jackson mengiba.
Jackson tersenyum smirik, bukannya mendengarkan perkataanku. Tapi, Jackson malah semakin mempercepat gerakannya, hingga aku kembali menggelinjang entah yang sudah ke berapa Kalinya. Sesakit dan seperih apa pun yang aku rasakan, aku terus berusaha menahan diri agar tidak menangis, sedapat mungkin aku tidak ingin memperlihatkan sisi lemahku di hadapan Jackson.
Aku menarik napas dalam, Jackson melihatku yang ada di bawah tubuhnya, “Sudah puas?”
__ADS_1