Terjerat Nafsu CEO Miliarder

Terjerat Nafsu CEO Miliarder
Bab 56


__ADS_3

"Jangan terlalu banyak berpikir. Itu hanyalah mimpi belaka."


"Aku takut akan menjadi nyata," jawabku menengadah menatap Jackson dengan mata sembab.


"Sudah, jangan terlalu banyak berpikir. Sekarang kenakan pakaianmu dan kita pulang," titah Jackson dan aku pun menurut.


Aku melepaskan bra dan cd sambil membelakangi Jackson, lalu memasang pakaian dengan cepat. Tanpa bra dan cd, bagian sensitifku dapat diterawang dengan mudah.


Aku berjalan ke arah Jackson sambil menutupi kedua gundukkanku yang chocochipnya menyembul dibalik pakaian tipisku.


Tiba dihadapan Jackson, aku menyeka sisa air mata di pipi. Kulihat Jackson melepaskan jas-nya, lalu dia lilitkan ditubuhku. Aku langsung membernarkan posisi jas itu guna menutupi tubuhku yang terekspos.


Aku terus menempel pada Jackson hingga tiba di tempat parkir. Aku ikut pulang bersama Jackson, kami dijemput oleh Sekretaris Clara.


Aku dan Jackson masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi penumpang belakang, sedangkan Sekretaris Clara duduk di samping kuris kemudi.


Sekretaris Clara berkata pada Jackson, “Tuan Jackson, sudah ada pemberitahuan kalau kasus Andreas akan disidangkan pada kamis depan.”

__ADS_1


"Iya," Jackson hanya mengiyakan pelan sambil memejamkan mata. Di dalam mobil, aku bersandar di dada Jackson, suasana begitu lenggang, tidak ada yang bicara.


Perjalanan yang cukup melelahkan, hingga akhirnya aku dan Jackson tiba di Spring Mansion. Jackson langsung berjalan menuju kamar, aku mengekor di belakangnya.


"Tuan mau ke mana? Tanyaku saat Jackso selesai berpakaian.


"Pulang," jawab Jackson singkat.


Aku dan juga pembantu mengira kalau Jackson akan tinggal untuk makan. Tapi, rupanya Jackson mau pulang ke rumah keluarga Liandra.


Jackson menghentikan langkahanya, lalu berbalik badan dan mendekat padaku. Jackson menatapku lama sekali, lalu menahan daguku guna memaksa bertatapan dengannya.


“Kalau semua wanita bisa pintar dan pengertian sepertimu, para pria akan tidak sepusing ini. Mungkin saja besok kamu akan dapat kejutan.” Setelahnya, Jackson mencium bibirku sekilas dan langsung pergi keluar dari Mansion. Aku berlari ke jendela, menatap kepergian Jackson yang sudah masuk ke dalam mobil, dan tancap gas pergi dari Spring Mansion menuju Mansion keluarga Liandra.


"Masalah besar ada dihadapanku," gumamku kala instingku mengatakan kalau aku akan menemui masalah yang sangat besar.


"Hadden!" Teriakku dalam hati.

__ADS_1


"Nona mau ke mana? Makan malam sudah siap," aku tak menghiraukan ucapan pelayan itu.


Aku berlari menuju kamar dan menyambar ponsel lalu aku masukan ke dalam tas, tak lupa aku juga menyambar kunci mobil.


Aku segera keluar dari Mansion, masuk ke mobil dan mencari Hadden untuk minta tolong.


Beberapa menit di perjalanan, aku telah sampai di hotel tempat tinggal Hadden. Aku mengetuk pintu cukup lama, karena tak kunjung ada yang menyaut, aku pun memutuskan untuk langsung masuk. Kini aku berada di ruang tamu, tak lama terdengar banyak suara-suara wanita di kamar Hadden. Aku berjalan cepat menuju kamar Hadden.


Aku menghela napas saat melihat Hadden sedang bersenang-senang dengan wanita lain di kamarnya. Beberapa wanita berpakaian seksi memanjakan Hadden, menyuapi Hadden segelas anggur. Mereka tak menyadari kemunculanku karena terlalu asik.


"Maaf mengganggu Nona-nona semua, tapi bisakah Nona-nona cantik keluar sebentar," ujarku sambil menepuk pelan punggung seorang wanita di sana.


"Nona Cecilia," ucap Hadden yang baru menyadari kedatanganku. Kulihat kancing baju Hadden sampai terlepas 4 buah.


"Kalian semua boleh pergi," usir Hadden kepada beberapa wanitanya. Wanita itu menyindirku dan langsung keluar.


Di dalam kamar hanya tersisa aku dan Hadden, aku langsung berjalan cepat menuju ke arah Hadden, “Tuan Hadden, tolonglah aku.”

__ADS_1


__ADS_2