
"Sudah berapa lama?"
Aku terpaku dan terdiam beberapa detik, karena tak berhasil mencerna arti pertanyaan Jackson. Hingga akhirnya aku memahami kalau Jackson sedang menanyakan kapan terakhir haid ku.
Tiba-tiba tubuhku bergetar, wajahku terasa sangat kering hingga pucat pasi. "Tidak mungkin," aku menggelengkan kepala.
Tidak mungkin. Ya, tidak mungkin aku hamil, bukan? Aku ingat tidak pernah telat minum pil-kb. Aku frustasi memikirkan apakah aku pernah melupakan pil-kb. Tidak, aku rasa aku tidak pernah melupakannya. Bagaimana ini? Apa yang akan aku lakukan bila saja benar-benar hamil.
Aku menyisir rambut dengan kedua telapak tangan, berusaha mengingat, hingga aku mengingat adegan di mana Jackson melakukannya dengan kasar. Dan disitulah aku lupa meminum pil-kb. Napasku terasa sangat sesak, aku menaikkan pandangan menatap Jackson yang kini menyipitkan mata dengan pandangan menghakimi karena dia melihat eskpresi yang tidak senang
Hamil? Senang?
Aku tidak ingin hamil anak Jackson, dan bila saja benar aku hamil sungguh aku tidak senang. Aku tidak mau menjadi simpanan Jackson, apalagi melahirkan seorang anak haram. Gugurkan. Akan aku gugurkan bila aku hamil, aku tidak ingin terjebak dan menderita semakin lama dengan masalah rumit bersama Jackson.
Pembantu membantu membersihkan bekas muntahanku. Sedangkan Jackson keluar dari kamar. Begitu selesai membersihkan lantai, pembantu pun menyusul keluar, meninggalkanku seorang diri.
__ADS_1
Di atas ranjang, aku meringkuk seraya meraba perut datar. Aku tidak percaya bahwa ada kehidupan di dalam sana. Aku tidak ingin punya anak, sungguh. Bukan karena aku tidak punya naluri seorang ibu.
Tapi, aku tidak ingin punya anak dalam keadaanku yang sekarang. Aku tidak ingin ada seorang anak kecil yang pasti akan menderita karena punya ibu Seperti diriku. Seorang Ibu yang bekarja sebagai simpanan. Cukup wanita simpanan, jangan ada anak simpanan. Memikirkan itu membuatku tak dapat menahan tangisan pilu.
Pintu kamar terbuka, Jackson masuk lalu berjalan mendekat kepadaku. "Gunakan ini sekarang juga," dari suaranya ada begitu besar kemarahan. Aku mengambil alat testpack itu dengan bergetar. Entah kenapa aku merasa testpack itu terasa sangat berat. Pergelangan tanganku masih membiru, aku tak menyangka kalau hidupku akan begitu menderita seperti ini.
Dengan sisa tenaga yang ada, aku turun dari ranjang. Jackson duduk di sofa dan tak sekali pun mengalihkan tatapannya dariku.
Tiba di kamar mandi, aku langsung menggunakan alat testpack itu, selesai dan menunggu sebentar. Aku sangat berharap hanya cukup satu garis. Namun, semua sirna kala testpack itu menunjukkan 2 garis yang berarti aku benar-benar hamil.
"Apa hasilnya? Negatif, bukan?" Hatiku semakin sakit mendengar pertanyaan Jackson yang tentu tidak terima bila aku hamil.
Aku menyerahkan hasil testpack itu kepada Jackson. Jackson melihatnya sesaat, setelah melihat hasilnya. Jackson langsung membuang benda pipih itu keseimbangan arah.
“Siapa yang memberimu nyali untuk menjebakku?” bentak Jackson mencengkram daguku kuat.
__ADS_1
"Aku sudah minum pil-kb! Kenapa hanya menyalahkanku? Bukankah kamu juga selalu menggunakan kond*m!" Teriakku dengan tangisan pilu.
Jackson terdiam, "Apa kamu menggunakan kond*m yang robek? Jackson, ini semua terjadi karena kesalahanmu. Andai kamu tidak bersikap kasar padaku saat itu, ini semua pasti tidak akan terjadi!" Aku menangis semakin histeris sambil menepuk dada Jackson dengan tenaga seadanya.
Jackson masih saja terdiam, aku tersenyum smirik seraya bertanya.
"Bukankah kamu mau menghadiahkan aku pada Peter?" Jackson menatapku dengan pandangan kosong.
Melihat wajah Jackson yang dipenuhi kecemasan, entah kenapa aku merubah pikiran. Tiba-tiba aku memikirkan sesuatu, hal itu membuatku merasa sangat berharap diriku hamil. Aku berharap hasil testpack itu tidak salah.
Bila aku hamil, tidak selalu hal buruk yang akan terjadi. Bukankah itu hal bagus untukku. Kenapa baru terpikirkan sekarang.
Hadden pasti akan mendapat kelemahan Jackson dan tentu bisa menolongku. Setidaknya, Jackson akan dibuat dalam bahaya oleh Peter.
Ada ketakutan yang sembunyi di raut wajah Jackson. Aku dapat mengambil kesimpulan bahwa Jackson tidak berharap aku hamil, karena hal itu akan membahayakan dirinya sendiri.
__ADS_1
Jackson meraih ponsel kemudian menelpon seseorang. "Dokter Winardi, kemari." Ucapnya singkat kemudian memutuskan panggilan.