
"Jonas!" Teriak pria di dalam telpon menghentikan Jonas yang mau memberikan ponsel pada Jackson. Jonas pun mengurungkan niatnya yang akan memberikan ponsel pada Jackson.
Kulihat keringat dingin semakin membanjiri wajah Jonas. Dia terlihat gelisah, antara takut pada Jeckson, Hadden, Reyhan, juga atasan yang kini menelponnya. Ada banyak tekanan yang dia dapatkan, hingga membuatnya ketakutan.
"Jonas, bebaskan Nona Cecilia sekarang juga," pinta atasannya meminta untuk membebaskanku. Aku yang mendengar hal itu merasa begitu lega.
"Baiklah, Pak." Jawab Jonas gugup.
"Tuan Jeckson, tunggulah sebentar karena Reyhan sudah berniat membatalkan tuduhan," kata Jonas pada Jackson.
"Tadak perlu menunggu Reyhan. Tuan Jackson sudah menghubungi kepala Poltabes," saut pria di dalam ponsel membuat Jonas terdiam.
"Jonas dengarkan aku baik-baik, cepat bebaskan Nona Cecilia. Jackson ini punya latar belakang yang sangat kuat. Jangan permainkan dia, aku tidak mau tau, katakan padanya untuk membawa Nona Cecilia pergi sekarang juga, kalau tidak kau yang akan mendapatkan masalah." Ucap Pria di seberang sana, lalu telepon langsung diputuskan sepihak.
Jonas menahan amarahnya, “Tuan Jackson, silahkan Tuan bawa nona Cecilia pergi.”
Perkataan Jonas membautku ingin meloncat-loncat saking senangnya. Tapi senyumku sirna seketika kala melihat Jackson yang menyeringai dingin. Dari raut wajahnya dapat diartikan kalau dia meminta bayaran atas apa yang kini dia lakukan untuk membebaskanku.
***
Hari sudah malam saat aku pergi dari kantor polisi, Jackson masih ada perjamuan bisnis di jam 6 sore yang sangat penting, membahas plan proyek dalam kota. Sekarang sudah terlambat dan tidak bisa ditunda lagi. Pada akhirnya aku memutuskan pulang sendiri dengan memesan mobil.
20 menit perjalanan aku telah tiba di rumah. Karena sangat kelelahan, aku langsung membersihkan diri di kamar mandi. Setelah selesai, aku segera memasangkan pakaian tidur jenis terusan berwarna putih yang tampak seksi seperti biasa yang aku pakai. Saat aku mau istirahat, tiba-tiba bel pintu berbunyi, rupanya Hadden datang mencariku.
__ADS_1
Aku terpaksa mempersilahkan Hadden masuk, kami duduk berdampingan di ruang tamu. Aku menemani Hadden mengobrol sebentar. Tapi Hadden juga tak kunjung berniat pulang.
Tak lama kemudian, suasana menjadi lenggang. Tiba-tiba Hadden melemparkan senyuman mempesonanya padaku, aku pun menelan Saliva. Tak bisa kusangkal bahwa Hadden jugalah pria yang tak kalah tampan dan berkharisma dari Jackson. Perbedaan mereka berdua sangat tipis.
Hadden memandangi dan mengelus bahuku yang indah sambil berkata, “Asisten Cecilia, hari itu aku melihatmu saat menggoda Erwin,” Aku gemetar sebentar, tali terusan tidur milikku terjatuh ke sisi bahu.
"Taun Hadden mengenal Erwin?"
"Hem, dia rekan kerjaku." Jawab Hadden sambil memperhatikan lekuk tubuhku lebih dalam.
"Ya Tuhan, bagaimana ini? Hadden tidak mungkin mengadukannya kepada Erwin bukan?" Batinku gelisah.
"Nona Cecilia punya bahu yang sangat mulus." Aku menelan saliva gugup, apa kini Hadden tengah mengancamku? Aku tidak menjawab perkataan Hadden.
Bel kembali berbunyi. Punggungku langsung terasa kaku. Aku berdiri lalu berjalan sambil bertanya, “Siapa?”
Aku kebingungan harus bagaimana, aku tidak ingin Jackson tahu Hadden ada di sini. Aku mundur ke belakang, kembali ke tempat semula.
"Tuan Hadden. Di luar ada Jackson!" Ujarku panik.
"Lalu?"
"Saya mohon, tuan harus bersembunyi sebentar saja, ya." Bujukku.
__ADS_1
"Untuk apa? Apa Nona Cecilia akan memberikan apa yang saya inginkam bila bersembunyi?"
"Iya, pasti. Sekarang Tuan harus bersembunyi dulu," jawabku tergesa-gesa tanpa memikirkan apa yang Hadden inginkan dariku. Sudahlah, yang paling penting saat ini adalah, Jackson jangan sampai tau ada Hadden di rumahku.
Sesaat kemudian, setelah memastikan Hadden bersembunyi dengan aman. Aku segera membuka pintu.
Sosok Jackson dengan wajah sempurna menjadi pemandangan pertama kali yang aku lihat. Tubuh kekarnya yang masih terbalut jas rapi sangat tampan berwibawa. Pria ini, sukses membuatku jatuh cinta berkali-kali. Wangi maskulin dari Jackson menyeruak masuk lewat hidung, melewati Lorong-lorong hingga berhenti tepat di sadar hatiku.
Aku menggelengkan kepala sekali, menyadarkanku dari keterkaguman terhadap Jackson.
"Tu-tuan Jackson," Sapaku.
Jackson melangkah akan masuk, aku mencegatnya dengan kedua telapak tanganku menempel di dada bidangnya. Aku menelan saliva bersusah payah, jantungku terus berdebar bukan hanya karena kehadiran cinta, tapi juga kepanikan bila saja Jackson tau kalau aku menyembunyikan Hadden di dalam rumah.
"Kenapa?" Singkat, padat, jelas, dingin. Itu memang Jackson.
"Sa-saya ... Oh iya, saya baru saja selesai menyemprotkan racun nyamuk, Tuan. Jadi, sebaiknya kita bicara di sini saja." Entah alasan apa yang aku katakan, yang pasti aku tidak menyaringnya lebih dulu. Tekanan Jackson benar-benar membuatku gugup.
"Sejak kapan di Apartemen ada nyamuk?" Tanya Jackson heran.
Wajahku terasa kering, aku berusaha mencari jawaban akan pertanyaan logis Jackson.
"Tu-tuan tau sendiri saya tinggal di Apartemen kumuh dan kotor." Jawabku asal. Kulihat Jackson mengeryitkan alisnya.
__ADS_1
"Apa racun nyamuknya berbau asap rokok?" Jackson menyadari ada asap rokok dan gelas teh di dalam rumahku, kulihat ada raut kecurigaan tentang aku berbohong atau tidak.
Hatiku berdebar semakin kencang karena tidak bisa memikirkan alasan untuk menolak Jackson masuk. Pada akhirnya aku hanya bisa pasrah saat Jackson memasuki ruang tamu.