Terjerat Nafsu CEO Miliarder

Terjerat Nafsu CEO Miliarder
Bab 45


__ADS_3

Begitu masuk, Jackson langsung duduk di ruang tamu. Jackson duduk di sofa, di mana tempat itu menjadi tempat yang sama, yang Hadden duduki Sebelumnya. Aku terpkasa mengekor di belakang Jackson, lalu duduk di sampingnya.


"Bagaimana keadaan lukamu?" Tanya Jackson sambil menyibak sedikit rambutku.


"Sudah tidak sakit lagi," jawabku pelan.


"Lain kali kamu harus membalas orang yang memukulmu. Tidak masalah jika orang itu punya latar belakang yang sangat hebat sekali pun. Aku berjanji akan membantumu membereskannya." Saut Jackson membuatku tidak mengerti. Apa statusku di mata Jackson hingga dia memberikan bentuk perhatian ini kepadaku.


"Tidak perlu status apa pun untuk itu, turuti saja perkataanku tadi." Awalnya aku merasa sangat terharu karena mengira bisa mengandalkan Jackson untuk melindungiku. Namun, kini aku tersadar kalau diriku bukanlah siapa-siapa bagi Jackson. Tidak mungkin Jackson akan melindungiku selamanya.


Aku yakin, dia melindungiku kini, karena belum merasa bosan dengan tubuhku. Membayangkan saat aku dicampakkan nanti, membautku gelisah. Aku terdiam dan membisu, tidak ada sepata kata pun yang dapat aku ucapkan. Hidupku yang nyaman dan tentram telah berakhir selamanya.


"Apa kamu menyembunyikan sesuatu dariku?"


"Sa-saya ti-tidak menyembunyikan apa pun dari Tuan," jawabku menggeleng cepat.

__ADS_1


Sesaat kemudian, pandangan Jackson tepat ke atas meja. Di mana di sana ada sebuah bungkus rokok mahal dengan verian rasa mint. Tentu saja Jackson mengenali siapa yang biasa mengkonsumsi rokok tersebut.


Aku hanya dapat merutuki kebodohanku dalam hati. Aku tahu situasi saat ini sudah banar-benar gawat darurat.


"Hadden keluarlah!" Panggil Jackson yang meminta Hadden keluar dengan nada yang dingin.


Tak lama Hadden pun keluar dan tidak terlihat tegang sama sekali, rautnya wajahnya malahah terlihat senang karena ketahuan.


sepertinya Hadden tahu Jackson tidak akan sanggup berbuat apa-apa terhadap dirinya yang berstatus sebagai paman Jackson sendiri.


Aku mati kutu, aku merasa takut dengan reaksi dingin Jackson saat ini.


"Apa yang kamu lakukan di sini, Hadden?"


"Aku datang untuk mengejar cinta Nona Cecilia. Apa dilarang? Aku juga ingin memastikan apakah dia baik-baik saja setelah keluar dari penjara." Aku sedikit lega dengan jawaban Hadden. Setidaknya Jackson tidak akan berpikir kalau aku yang mengundang Hadden datang.

__ADS_1


Jackson dan Hadden membahas masalah kantor, dan aku menuangkan teh untuk mereka berdua. Aku menepi dan duduk sendirian di samping.


Kemudian, kudengar Jackson menghela napas panjang, “Hadden, usahakan jangan sering datang ke tempat yang tidak seharusnya kamu datangi. Oke?”


Hadden meneguk habis teh di gelasnya, “Kamu belum tentu punya hak untuk memperingatiku, aku tidak pernah suka berbagi dengan orang lain.”


Hadden berdiri, aku sangat berharap Hadden mengabaikan keberadaanku. Aku sangat berharap Hadden tidak melihatku.


"Nona Cecilia, maukah Nona ikut makan malam bersama saya besok malam?" Tawar Hadden membuat ekspresi Jackson semakin dingin. Saking dinginnya membuat bulu romaku berdiri.


"Maaf, Tuan Hadden. Besok malam saya sudah ada janji," tolakku dengan halus.


"Benarkah, sayang sekali karena saya terlambat." Saut Hadden tetap santai.


"Tidak baik pria berlama-lama di dalam rumah wanita lain!" Sindir Jackson karena mulai merasa kesal.

__ADS_1


Hadden mengabaikan Jackson dan berbisik padaku, “Milikku juga sangat besar, sangat keras dan sangat menggoda.”


__ADS_2