Terjerat Nafsu CEO Miliarder

Terjerat Nafsu CEO Miliarder
Bab 69


__ADS_3

Beberapa bulan berlalu, ada banyak hal yang terjadi. Namun, Cecilia masih bersamaku walau sifat dan sikapnya yang berubah sedikit banyak membuatku curiga. Tapi, beberapa bulan berlalu, dia tidak lagi mencoba untuk kabur dariku.


Hanya saja, dia sering memanfaatkan kehamilannya untuk mengerjaiku. Tapi, selagi masih bisa aku lakukan, maka akan aku lalukan. Asal keinginannya masih dibatas normal dan tidak berlebihan.


Bukan hanya Cecilia yang mencurigakan, tapi juga Peter, Andreas dan Zea. Ketiganya kompak tidak pernah menggangguku selama 4 bulan belakangan ini.


Selama ini aku juga tidak melihat keberadaan Zea dan Andreas. Entah di mana keduanya Peter sembunyikan. Bahkan, orang-orang yang aku kirim tidak dapat menemukan keberadaan mereka berdua. Terakhir aku hanya mendengar kabar Zea yang keguguran. Setelahnya, dia menghilang bak di telan bumi.


Diluaran hangat beredar kabar bahwa aku telah menceraikan dan menelantarkan Zea setelah berhasil merebut hartanya. Dan namaku semakin buruk karena aku yang telah diduga lebih memilih wanita simpananku yaitu Cecilia. Kabar itu tidaklah salah, karena aku memang telah menceraikan Zea, atas permintaan Peter setalah aku berhasil mengancamnya. Kini, Peter sudah tak berdaya. 55% saham PT. Samudera Raya berada di tanganku. Dengan begitu, Peter tidak dapat menentangku.


Hanya saja, namaku dan Cecilia benar-benar buruk di mata publik, tapi aku tidak peduli. Yang penting tujuanku tercapai. Kini, aku telah berhasil memenangkan PT. Samudera Raya. Satu langkah lagi, janjiku akan terselesaikan. Hanya tinggal mencari keberadaan pewaris PT. Samudera Raya yang sesungguhnya. Bila menemukannya, maka aku akan menyerahkan PT. Samudera Raya seutuhnya pada pewaris istimewa itu. Tapi, entah di mana disembunyikan dirinya, hingga saat ini aku belum berhasil menemukannya.

__ADS_1


Sembari mencari keberadaannya. Aku masih terus mengawasi gerak-gerik Peter yang kini mulai mencurigakan. Aku tau, dia pasti tidak akan menerima kekalahan begitu saja. Untuk itulah, aku harus menjaga Cecilia dan juga calon Putraku yang kini ada dalam kandungannya. Aku tidak akan melepaskannya sama sekali.


"Kamu mau ke mana, Cecilia? Habiskan dulu sarapanmu," Titahku padanya yang akhir-akhir ini berkurang nafsu makannya.


"Aku tidak berselera," jawabnya lemah.


"Apa yang terjadi? Apa ada yang tidak nyaman?" Aku bertanya khwatir.


"Tidak apa, aku ingin tidur saja. Lagipula, bukankah kata dr. Winardi berat bayi ini sudah terlalu besar. Jadi, aku tidak perlu makan terlalu banyak, agar tidak sulit saat melahirkan nanti." Jawabnya ketus.


"Memang biasanya aku seperti apa? Bukankah aku sudah menjadi wanita simpanan yang penurut. Sekarang aku lelah, biarkan aku tidur lebih awal."

__ADS_1


"Duduk!" Ucapku menekan kalimat untuk membuatnya menurut. Terbukti, dua duduk walau dengan memonyongkan bibirnya kesal.


"Apa ada yang kamu ingunkan? Katakan saja, aku akan mengabulkannya," bujukku.


"Walau aku mengatakannya, aku yakin kamu tidak akan mengabulkannya," jawabnya sekenanya.


"Keluar?"


"Iya, aku yakin kamu tidak akan mengabulkannya bukan? Untuk apa aku mengatakannya."


"Apa yang ingin dilakukan di luar sana? Kamu tau kita terus menjadi incaran para wartawan."

__ADS_1


"Sudah kuduga," cetusnya segera berdiri.


"Baiklah. Tapi tidak lama," akhirnya aku mengalah. Memang aku terlalu lama mengurungnya di Mansion. Empat bulan bukan waktu yang singkat, tidak baik juga untuk calon Putraku. Kali ini, aku mengalah. Aku akan membawanya ke luar tapi yang pastinya dengan keamanan yang ketat.


__ADS_2