
Jackson tersenyum menakutkan lalu berkata, "Cecilia, berapa banyak beyaran yang kamu dapatkan dari Hadden?"
"Apa maksudmu Jackson? Kamulah yang memaksanya untuk menjadi simpananmu. Sekarang kamu melimpahkan kesalahanmu kepadaku!" Bentak Hadden.
"Kenapa? Bukankah kamu memang menyukainya?" Saut Jackson tetap tenang.
"Aku memang menyukainya. Tapi, tentu tidak akan terjadi masalah karena aku masih single. Sedangkan kamu, apa kamu lupa kalau kamu sudah punya seorang istri?" Balas Hadden.
“Apakah kalian tidak malu berdebat demi wanita murahan ini?” Teriak Peter marah. Semua orang terdiam.
Peter naik ke atas dan Jackson juga berdiri, dia menatapku dengan tajam "Kamu membuat kesalahan besar, Cecilia," ucap Jackson tersenyum smirik. Hadden melindungiku lalu memintaku untuk ikut ke kamarnya.
Di dalam kamar, Hadden berdiri dan kembali merokok, “Besok jam 5 subuh, supirku akan menjemputmu, terserah kamu mau ke mana. Putuskan sendiri.” aku mengangguk.
Hadden pergi mandi, selesai mandi dan berpakaian. Hadden memilih berbaring di sofa. Dia tidak mendekatiku yang duduk di tepi ranjang. Melihatku yang kebingungan Hadden pun berkata, “Aku memang playboy, tapi bukan pria hidung belang, tidurlah dengan tenang.”
Aku tercengang mendengar perkataan Hadden, sedetik kemudian, aku pun berbaring dan tidur di ranjang. Sedangkan Hadden tidur di sofa.
Keesokan paginya, seorang Supir menjemput, dan aku pergi dari pintu belakang. Hadden tidak turun dan berdiri di tepi jendela untuk menatap kepergianku. Aku menyadari ada selembar cek 20 milyar di saku mantel saat berada di mobil. Ada tanda tangan Hadden di sana. Aku tersenyum dan berterima kasih kepada Hadden dalam hati. Aku juga berjanji akan membalas jasa Hadden suatu hari nanti.
Mobil sedan mewah melaju yang membawaku dengan kecepatan sedang. Aku menolehkan kepala keluar jendela, menatap beberapa mobil yang melintas karena jalan cukup ramai hari ini.
Beberapa menit perjalanan, mobil semakin kencang saat melewati jembatan.
Aku terheran karena terjadi tiba-tiba. Karena penasaran akan apa yang terjadi, aku membalikkan badan guna melihat apa yang ada di belakang.
DOR!
Suara tembakan tiba-tiba terdengar.
"Nona menunduk!" Teriak supir itu membuatku kaget dan refleks menunduk cepat. Sebuah peluru menembus kaca belakang, pecahan kaca mengenai pipiku hingga tergores. Rupanya supir menyadari ada yang mengikuti. Aku pun panik dan berpegangan dengan kuat di kursi tempat dudukku.
DOR!
DOR!
Suara tembakan kembali terdengar dan mengarah pada ban mobil.
Tubuhku seakan terombang-ambing di dalam mobil kala supir berusaha menghindari peluru dan mobil yang melaju di sekitar.
Aku bersyukur karena supir sangat lihai menghindari peluru tersebut, walau jantungku kini berpacu dengan cepat karena takut.
Sepertinya Hadden sudah memperkirakan hal ini, hingga memberi perintah pada supir yang begitu ahli untuk membawaku pergi dari Mansion.
Tubuhku terus terguncang ke kanan dan ke kiri tanpa henti saat sopir menghindari tembakan yang kembali mengarah pada mobil kami.
__ADS_1
Aku sedikit mengangkat kepala untuk melihat keadaan di belakang. Betapa terkejutnya aku, saat beberapa mobil lain bertabrakan hingga suara teriakan kesakitan dan tangisan terdengar memasuki indra pendengaran.
Setetes air mata jatuh tanpa bisa ditahan, sungguh hal di depan mataku saat ini membuat hati tersayat nyeri.
Orang-orang yang tak bersalah kini menjadi korban dari kejadian ini.
"Sial!" Umpat supir, membuatku semakin panik.
"Apalagi yang terjadi?" Tanyaku berteriak kencang agar terdengar.
"Nona berpeganganlah, mobil yang mengejar terus bertambah. Saya khawatir tidak bisa lagu menghindari tembakan mereka bila terlalu banyak musuh," jawab sang supir melirik ke kaca spion.
Ya, aku juga melihat hal itu. Mobil yang mengejar kami semakin bertambah, orang-orang itu terlihat tak peduli pada kecelakaan yang terjadi dan terus mengejar kami tanpa henti.
"Jackson, kenapa kamu melakukan ini kepadaku?" Setetes buliran bening kembali terjatuh.
Tiba-tiba sebuah pistol mendarat sempurna di sampingku, "Nona, peganglah senjata itu. Gunakan bila terjadi hal mendesak," ucap supir sesaat setelah melemparkan pistol kepadaku.
Mobil melewati jembatan, kini mobil melaju cepat di jalan lurus yang terdapat banyak pepohonan besar di sekelilingnya.
Aku sedikit bernapas lega, karena tak terlalu banyak mobil lain yang melaju di tempat itu.
Sontak aku terkejut saat atap mobil tiba-tiba terbuka. Di jalan lurus itu, supir membiarkan mobil melaju tanpa dia mengemudikannya. Aku tercengang melihat supir berdiri, lalu mulai mengarahkan senjatanya ke arah mobil yang masih mengejar kami.
DOR!
Supir kembali duduk setelah berhasil melumpuhkan satu mobil yang mendekat. Kembali di jalan berbelok, jauh di depan sana, hingga menemui satu jembatan terakhir sebelum tiba di pusat kota.
Perlahan atap mobil kembali menutup saat hujan mulai turun kian deras membasahi jalan, membuat jalan beraspal kian licin.
Sekitar 4 mobil sedan hitam mewah masih mengejar kami dengan rentetan peluru yang terus mereka tembakkan. Jalan yang kian licin, membuat Supir kesulitan untuk mengelak.
Tiba-tiba satu mobil hitam kelam itu tepat berada di samping mobil kami.
DOR!
Satu tembakan mereka lepaskan ke pintu mobil, aku berteriak kencang karena kaget. Guncangan kembali terjadi kala mobil tersebut dengan sengaja menghantamkan kedua sisi terus menerus, hingga aku terus berteriak dengan tubuh gemetar takut.
Kini, aku paham kalau Jackson tidak akan berhenti sebelum berhasil menangkap diriku hidup-hidup ataukah dalam keadaan terluka.
Aku berusaha melepaskan sabuk pengaman dengan susah payah, beringsut ke sisi lain agar sedikit menjauh dari pintu mobil yang kini mulai rusak karena hantaman tanpa henti.
Terlintas di benakku kala melihat aliran sungai yang kini mengalir di bawah jembatan, "pinggirkan mobilnya! Aku mau melompat keluar."
Aku bersiap untuk membuka pintu mobil dan melompat keluar, tapi kata-kata yang supir itu ucapkan membuat niatku untuk melompat terhenti.
__ADS_1
"Jangan, Nona! Air sungai itu sangat dingin, Nona tidak akan bisa menahannya sebelum berhasil menepi. Itu akan membuat Nona tewas sebelum berhasil menyelamatkan diri!" Ujar Sang Supir, membuatku menelan ludah susah payah.
Mobil kami sudah hampir tiba di ujung jembatan. Namun, guncangan kuat kembali terjadi saat sebuah mobil menabrak bagian belakang.
Brak!
Keningku terbentur cukup keras hingga mengeluarkan darah. Namun, berbeda dengan diriku. Supir yang duduk di kursi kemudi telah terjepit karena hantaman kuat bagian depan yang menabrak pembatas jalan.
"La-lari, Nona." Ucap Sang Supir padaku dengan suara lirih, lalu menghembuskan napasnya dengan darah yang memenuhi kening dan tubuhnya.
Aku menggigit bibir bawah. Berusaha menahan sakit dari goresan dan luka kecil yang aku dapatkan.
Tanganku berusaha meraba, mencari senjata yang Supir itu berikan tadi. Tapi, aku tak menemukan senjata itu di manapun. Saat aku fokus, asap keluar dari mobil.
Aku berusaha menendang pintu agar terbuka, berkali-kali hingga akhirnya berhasil. Aku berjalan dengan tergopoh-gopoh keluar dari mobil, menjauh sejauh mungkin dari sana dengan menahan rasa perih akibat air hujan yang mengenai luka di tubuhku.
DUAR!
Suara ledakan terdengar dari belakangku. Mobil itu meledak bersama dengan mayat Supir di dalamnya.
Jauh di depan sana aku menatap Jackson takut. Pria itu berdiri di bawah hujan, wajahnya merah padam dengan kilatan kemarahan di matanya yang mengarah kepadaku.
Tubuhku seketika bersimpuh di jalan beraspal. Rasa takut membuatku gemetar tanpa henti, tatapanku seolah tak bisa lepas dari tubuh Jackson yang kini mendekat.
Semakin dekat Jackson, semakin aku dapat melihat urat-urat lehernya yang mengencang seakan siap menelanku hidup-hidup.
Seketika Aku ketakutan hingga menangis terisak-isak, "Jackson ..."
Jackson mendekat hingga berhenti tepat di hadapanku.
"Aku sudah sangat lama menunggumu, Cecilia." Ucap Jackson, membuat tubuhku semakin gemetar ketakutan.
.
.
.
.
Maaf sebelumnya, kemarin Othor nggk bisa tepat janji untuk update 5 bab🙏. Entah kenapa malamnya sinyal mendadak ilang. jadi, maaf banget, ya, semuanya 🙏😭.
Haha, Othor baca semua komenan kalian, maaf membuat kalian bingung dengan jalan ceritanya 🙏
Bagi yang udah bosan, boleh banget mundur, masih banyak kok novel-novel lain yang lebih seru, kan?
__ADS_1
Happy reading all, bahagia selalu. Lopeeeeeeeee kalian se-truk 💞💞💞