
Setelah makan malam....
"Aku pijat, ya, Sayang?" tanya Jackson penuh harap.
"Sudah tidak sakit lagi kok," tolak Nata lembut.
"Masak sih, Sayang."
"Jadi kamu senang kalau aku kesakitan!" Sargah Nata cemberut.
"Bukan begitu, Sayang. Aku hanya tidak ingin kamu kesakitan lagi, makanya aku harus siap siaga untuk memberikan pelayanan terbaik untukmu," jelas Jackson.
"Alasan," desis Nata seraya memangku kedua tangannya.
"Jangan cemberut gitu dong, Sayang. Yang di bawah yang nggak tahan," Jackson menggenggam lembut kedua pundak Istrinya.
"Siapa yang cemberut?" Saut Nata.
"Ini cemberut," jawab Jackson dengan mencubit bibir manyun Nata.
"Hemp, hemp ...." Nata kesulitan saat akan bicara dan Jackson pun langsung melepaskanya.
"Sakitt," keluh Nata seraya mengelus bibirnya.
"Hehe ... Maaf, Sayang."
__ADS_1
"Ayo kita ke kamar!" Jackson langsung mengangkat tubuh Nata keluar dari lift dan masuk ke dalam kamar.
Tiba di ranjang, Jackson pun segera membaringkan Nata perlahan.
"Jangan tindih perutku, sesak!" Keluh Nata menyingkirkan Jackson dari atas tubuhnya.
"Baiklah, Dari samping saja," Jackson memeluk pinggang ramping Nata dari samping.
"Bagaimana kalau malam ini kita main, Sayang?" Sambung Jackson berbisik di telinga Istrinya. Seketika, daun telinga Nata yang sensitif merespon dengan memunculkan warna merah.
"Ma-main apa?" Tanya Nata malu-malu tapi mau.
"Ya main seperti biasanya. Boleh, kan?" Sekali lagi Jackson meminta izin.
"Baiklah, tapi pelan-pelan," ujar Nata cepat.
Jackson membalikkan badan Istrinya, membuka satu persatu kancing baju Nata hingga semua kancing terlepas.
Bukan kedua gundukan Nata yang Jackson incar. Tapi, perut buncit Nata yang dia cium berkali-kali tanpa henti.
"Sayang, putra-putri Daddy yang tampan dan manis, Daddy izin gangguin Mommy kalian, ya? Daddy juga mau ketemu kalian berdua nih. Boleh, ya?" Izinya pada kedua bayi kembarnya.
"Bukankah keduanya laki-laki, Sayang?"
"Firasatku mengatakan salah satu dari mereka ada yang perempuan. Tapi, dia sangat kuat. Itulah kenapa dia tidak terdeteksi," Jelas Jackson yakin.
__ADS_1
"Terserah kamu deh," saut Nata memilih menikmati permainan Suami nakalnya itu.
"Yang ini gimana, Sayang? Aku his*p boleh ya?" Tanya Jackson seraya menunjuk kedua gundukan Istrinya yang masih berbalut bra. Bagian itu tidak bisa dia lewatkan, karena itu juga favoritnya.
"Terserah kamu, aku pasrah," jawab Nata malu seraya menutup wajah dengan kedua telapak tangannya.
"Haha ... Aku suka kata pasrahmu, Sayang," saut Jackson bergegas mamainkan bagian favoritnya itu.
"ASI-nya masih keluar. Jangan direm*s-rem*s, nanti makin banyak keluarnya." Ujar Nata mengingatkan.
"Tenang, Sayang. Kan ada aku yang siap menampung." Jawab Jackson tetap melakukan apa yang seharusnya di lakukan.
Puas bermain di atas, Jackson pun mulai turun ke bawah. Berhenti lagi di perut buncit Nata, mencium serta memeluknya dengan penuh kasih sayang.
"Kita mulai, ya, Sayang?"
"Iya, cepatlah!" Seru Nata yang kini tak sabaran akibat ulah Jackson yang terus menggarapnya.
Perlahan, Jackson mulai menurunkan kain terakhir yang membalut bagian inti Istrinya di bawah sana. Setelahnya, Jackson mulai mengelus bagian itu dengan begitu perlahan.
"Jack-son," panggil Nata dengan mengigit jari menahan nikmat.
"Iya, Sayang." Jawab Jackson membenamkan salah satu jari tengahnya ke dalam sana.
"Ja-jackson, ahh ... Pelan-pelan!"
__ADS_1
"Siap, Sayang," bukannya menurut, tapi Jackson malah mempercepat gerakan tangannya.