
"Mau ngapain?” Tanyaku menghentikan gerakan tangan laknatnya.
Jackson mengusap tahi lalat merah di dadaku perlahan, “Menurutmu?”
Derrtt!
Jackson menerima telepon dari Zea, dan aku mengambil kesempatan untuk segera bangkit dari pelukannya, lalu langsung keluar, Jackson tidak sempat menahanku.
Supir Jackson yang berada di bawah sepertinya sudah lelah menunggu, dia tertidur di atas setir.
Aku tidak membangunkannya, aku pergi menuju mobil pribadiku dan menunggu di dalam sana. Jackson mungkin tidak akan berlama-lama setelah menerima telepon Zea. Setelah dia pergi, saat itulah aku akan kembali ke rumah.
"Di sini aman untukku. It-itu, bukankah itu Hadden," Sangat tak disangka aku melihat Hadden dari kaca spion tengah, kompleks perumahanku yang bobrok ini tidak akan mungkin didatangi oleh orang kaya. Jelas sekali Hadden kemari untuk mencariku.
Aku menyalakan lampu kedip karena terburu-buru, dan langsung mengarah ke wajah Hadden sehingga menghentikan langkah kakinya yang cepat.
Hadden berjalan menghampiri.
"Cecil, ngapain bersembunyi di dalam mobil?" Tanyanya pura-pura bingung.
"Kamu yang ngapain ke sini?" Jawabku yang kini sudah berada di luar mobil.
"Masuklah," titahku tanpa berbasa basi. Gawat bila sampai Jackson melihat Hadden di sini.
“Nggak undang aku ke atas?” Tanyanya menghentikan langkahku.
"Jackson ada di atas, tidak muat jika diduduki 3 orang." Jawabku cepat.
"Luar bisa Nona Cecil. Kemajuan yang sangat luar biasa, kalian bahkan sudah tinggal serumah. Cukup mengejutkan," ucap Hadden menyindir trikku yang tidak sepele.
Tepat di saat ini, aku melihat tirai jendela lantai 4 bergerak. Aku segera menarik ikat pinggang Hadden ke dalam mobilnya karena panik. Aku takut Jackson melihat Hadden.
__ADS_1
Tapi tak disangka, aku malah kehilangan keseimbanganku. Hadden mengulurkan tangan untuk melindungi bagian punggungku dari benturan. Kini, aku telah berada di atas tubuh Hadden.
Kacamata hitam yang aku letakkan di tengah kursi mengenai bagian tengah tulang pinggul Hadden. Terdengar suara patahan, aku melihat wajah Hadden yang memucat.
"Hadden, ka-kamu terluka!" Ujarku panik dan langsung mengulurkan tanganku untuk memeriksanya dengan panik. Namun aku sangat terkejut karena Sepertinya aku salah pegang sesuatu. Aku memerah seketika karena tak sengaja memegang senjata pusaka milik Hadden, aku segera bergegas menarik kembali tanganku, dan langsung membenarkan posisi.
Aku masih merasakan bekas sentuhan tadi di tanganku, di dalam hati aku berpikir kalau satu per satu pria yang kutemui belakangan ini semakin ganas dibandingkan yang sebelumnya.
Sebuah transaksi mempertemukanku dengan 2 orang pria berkualitas tinggi. Hadden juga cukup luar biasa.
"Sepertinya Nona harus bertanggungjawab," goda Hadden.
"Be-bertanggungjawab apa?"
"Bertanggungjawab padanya," ujar Hadden menunjukkan adiknya dengan jurus matanya.
"Ak-aku tidak menyentuh apa pun," jawabku segera mengalihkan pandangan.
Derrtt!
Angkasa Group sebelumnya diakuisisi oleh Jackson dengan harga 1 triliun. Sekarang Tuan Oliver bisa dibilang bekerja untuk Jackson, tidak ada alasan baginya untuk menghubungi Hadden.
Aku mengalihkan pandangan secara diam-diam. Hadden menghapus pesan tersebut.
"Jadi bagaiamana Nana Cecil?"
"Apanya yang bagaimana Tuan Hadden. Baiklah, aku memang menyentuhnya. Tapi itu tidak sengaja, aku hanya tidak ingin ada yang terluka karena aku," jawabku jujur. "Jadi, bagaimana lukanya?" Tanyaku hampir melupakan lukanya.
"Lukannya tidak masalah, tapi sesuatu yang menegang kini yang berbahaya," jawab Hadden kembali menggodaku.
"Sesama tampan, sesama hebat, sesama pintar, sesama kaya, dan kenapa mereka berdua juga harus sesama mesum," batinku frustasi.
__ADS_1
"Apa kamu punya kotak p3k?" Tanya Hadden.
"Ada, tapi sepertinya di kursi belakang. Sebentar aku ambilkan." Jawabku segera keluar dari mobil. Lalu membuka pintu belakang dan segera masuk untuk mengambil kotak p3k. Begitu mendapatkannya, aku langsung keluar dan kembali ke kursi kemudi.
"Biar aku bantu obati," pintaku menatapnya kasian.
"Obati yang mana?" Senyumannya membuatku sedikit gugup.
"Berhenti bercanda Tuan Hadden," kesalku pada akhirnya.
Dia tidak menanggapi ucapanku, dia patuh dengan membalikkan bada. Aku menyingkap bajunya perlahan, luka yang lumayan besar aku temukan disana. Dengan perlahan aku membersihkan lukanya, kemudian menutupnya dengan 4 plaster sekaligus.
"Sudah selesai. Jadi apa yang ingin tuan Hadden sampaikan kepadaku?" Tanyaku to the point.
"Bukan hal penting," jawabnya membuatku menaikkan alisku curiga.
"Kalau begitu aku pergi dulu, terima kasih bantuan Nona karena sudah mengobati lukaku. Sepertinya Jackson masih lama, pakailah ini agar tetap hangat. Sampai jumpa Nian Cecil." Pamitnya terburu-buru membuatku semakin curiga. Tak peduli, aku memasang jaket pemberiannya ke tubuhku. Hangat aku rasakan bercampur wangi farfume maskulin Hadden yang tertinggal di jaket itu.
Jackson juga pergi pada jam 1 subuh, dan tidak menghubungiku lagi. Setelah kepergiannya, barulah aku kembali ke rumahku untuk segera beristirahat.
Keesokan harinya, aku datang lebih awal ke Restoran Blue Sea, Restoran ini adalah milik Angela dengan bantuan suaminya yang sekarang ini. Tempat ini dikhususkan untuk membantu para politisi dan selebriti untuk mengumpulkan informasi, dan tentunya di antara ruangan akan ada tempat yang saling berhubungan dan misterius.
Aku tiba lebih awal di ruangan sebelah ruangannya Hadden dan Tuan Oliver.
Kedua orang ini bersekongkol untuk mencelakai Jackson. Hadden sangat memahami Jackson, Jackson punya strategi yang bisa dibilang hampir sempurna. Tapi ada satu kelemahan, yaitu jika Hadden bersikeras ingin menang. Maka meskipun Jackson tidak tertarik, dia juga akan memperjuangkannya.
Angkasa Group sudah jadi bom waktu di tangan Tuan Oliver.
"Sudah sampai tahap mana proses akuisisinya." Tanya Hadden.
"Paling banyak masih ada waktu 1 bulan sebelum penyerahan sepenuhnya." Jawab Tuan Oliver tegas.
__ADS_1
Saat ini jika akuisisi berakhir, maka proyek atas nama Angkasa Group yang sedang berlangsung tidak mungkin dibiarkan begitu saja. Sebelumnya Jackson belum sempat memeriksanya, bahaya apa pun yang tersembunyi dapat memberi pukulan berat bagi Jackson.
Setelah keduanya pergi, aku pergi dengan cepat, lalu menelpon Andreas...