Terjerat Nafsu CEO Miliarder

Terjerat Nafsu CEO Miliarder
TNCM S2


__ADS_3

"Kita pulang sekarang?" Tanya Jackson.


"Nanti," jawab Nata masih betah bermain pasir.


"Sampai kapan aku akan menemaninya bermain pasir seperti anak kecil begini?" Keluh Jackson dalam hati.


"Jackson," panggil Nata.


"Apa, Sayang?"


"Bantu aku berdiri," Nata mengulurkan kedua tangannya dan Jackson langsung membantunya berdiri.


"Kita pulang sekarang?" Tanya Jackson lagi-lagi bertanya hal yang sama.


Nata tak menjawab, tapi malah menengadah ke atas. Jackson yang bingung pun ikut menengadah ke atas guna melihat apa yang tengah di lihat oleh Istrinya itu.


"Kamu lihat apa, Sayang?"


"Aku mau kelapa itu," tunjuk Nata ke atas pohon kelapa di hadapannya.


"Tunggu di sini, Sayang. Aku akan panggilkan pengawal untuk memanjatnya," Jackson akan pergi, namun dengan cepat Nata menahannya.


"Kamu yang ambil untukku!" Tegas Nata tak dapat dibantah.


"A-aku?" Tanya Jackson seraya mengarahkan jarj telunjuknya ke arah dirinya sendiri.


"Iya, kamu," balas Nata membuat Jackson menghela napas pasrah.


"Kami bisa manjat, kan, Sayang?" Tanya Nata memastikan.

__ADS_1


"Tentu saja aku bisa," jawab Jackson percaya diri seraya berjalan menuju pohon kelapa yang tampak tinggi menjulang.


"Baguslah, hati-hati Sayang," kata Nata segera menjauh dari pohon.


"Ayo sayang, kamu pasti bisa!" Teriak Nata menyemangati Jackson yang baru memanjat separuh jalan.


Jackson terus berusaha memanjat pohon kelapa itu hingga akhirnya dia berhasil dan kini telah berada di atas dengan keringat yang terus mengalir deras. Jackson menelan saliva kala melihat ke bawah, tiba-tiba saja dia merasa tubuhnya bergetar takut.


"Aku mau yang warna coklat, Jackson!" Teriak Nata di bawah sana.


"Warna coklat?" Ujar Jackson heran.


"Warna coklat sudah tua, Sayang. Sudah tidak enak lagi," saut Jackson juga berteriak agar terdengar sampai ke bawah.


"Aku mau yang warna coklat!" Teriak Nata keukeuh. Jackson pun segera menjatuhkan satu buah kelapa yang sudah tua. Tak lupa Jackson menjatuhkan beberapa kelapa yang masih muda. Dan segera turun dengan sangat berhati-hati.


Di tengah perjalanan turun, tiba-tiba ada beberapa tawanan semut berwarna merah besar yang siap menyerangnya. "Sial!" Umpat Jackson kala merasakan sakit akibat gigitan semut-semut yang menyerangnya. Meski begitu, Jackson tetap menahan hingga berhasil turun dengan selamat.


"Digigit semut, Sayang."


"Astaga, bagaimana bisa? Hiks, ini salahku," saut Nata seketika menangis membuat Jackson mengumpat dalam hati.


"Tenanglah, aku tidak apa-apa," jawab Jackson mendekat pada Nata.


"Bohong, ayo kita pulang sekarang. Aku akan mengoleskan salep agar tidak gatal-gatal dan infeksi," ajak Nata langsung menarik tangan Jackson.


"Tunggu Sayang, aku ambil kelapa tadi dulu," cegat Jackson.


"Lupakan kelapa, aku tidak menginginkannya lagi. Ayo pulang!" Nata menarik Jackson lagi.

__ADS_1


"Shiiit!" Umpat Jackson dalam hati.


Tiba di Villa, Jackson meminta pengawal untuk mengambil kelapa yang tadi dia panjat. Setelahnya, Jackson ditarik paksa oleh Nata menuju kamar mereka.


Nata mengambil salep khusus obat gatal-gatal di kotak p3k yang ada di meja, lalu menghampiri Jackson yang kini duduk di sofa.


"Yang mana saja yang di gigit?" Tanya Nata tampak khawatir.


"Punggung, Sayang," jawab Jackson langsung memutar tubuh kekarnya.


"Ke bawah lagi, sayang," titah Jackson dan Nata pun menurut, mengoleskan salep ke kulit Jackson yang tampak berbintik merah.


"Apa sudah?"


"Belum, Sayang," jawab Jackson cepat.


"Baiklah, katakan dan tunjuk di mana saja," ujar Nata serius.


"Di bagian bawah sini, Sayang," jawab Jackson sambil menunjuk ke arah bawah sana tepat pada senjatanya yang masih terbungkus celana.


.


.


.


Guys, rekomendasi keceh lagi nih. Cuss mampir ya guys🤗😍😍😍


__ADS_1



__ADS_2