
"Halo Hadden, nomormu sudah aktif. Apa kau sudah pulang?" Tanya Jackson yang kini berada di balkon kamarnya, sedang membuat panggilan ke nomor Hadden. Tidak disangka nomor Hadden yang dipakai di luar negeri tidak aktif, tapi nomor biasanya malah aktif.
"Iya, Jackson. Aku dan Nasa baru saja tiba di Mansion," jawab Hadden di seberang sana.
"Kau sudah pulang, kenapa tidak langsung kemari?" tanya Jackson heran.
"Sudah terlalu larut malam, aku dan Nasa tidak ingin mengganggu Istirahat kalian. Ada apa menelpon tengah malam begini? Apa terjadi sesuatu? Apa Kabut melakukan sesuatu?" pertanyaan beruntun Hadden lontarkan karena merasa khawatir akan Putranya Kabut.
"Kabut baik-baik saja, hanya saja ada sesuatu tentangnya yang ingin aku sampaikan kepadamu," jawab Jackson.
"Katakan saja sekarang. Tapi, tunggu ... Apa ini tentang siapa yang telah memperbaiki sistem Louise Grup?" saut Hadden bertanya.
"Kau benar, ternyata yang telah—"
"Aku sudah tahu itu," potong Hadden.
"Maksudmu?"
__ADS_1
"Aku sudah tahu tenang Kabut," jawab Hadden.
"Kau sudah tahu, sejak kapan? Bagaimana bisa kau mengetahuinya?" Tanya Jackson penasaran.
"Dia Putraku, anakku, darah dagingku. Apa yang tidak aku ketahui tentangnya. Sehebat-hebatnya dia, jelas aku lebih hebat karena dia hanya mewarisi DNA-ku saja," jelas Hadden membanggakan diri.
"Kau terlalu percaya diri, Hadden. Tapi, bila kau sudah mengetahui kehebatan Kabut, kenapa kau menyembunyikannya dariku?" Tanya Jackson curiga.
"Kabut memiliki IQ yang sangat tinggi. Kecerdasannya benar-benar di atas rata-rata, bahkan melebihi kita berdua. Akan bahaya bagi dirinya bila orang mengetahui hal itu. Semua Negera akan memperebutkan dirinya, karena itulah aku menyembunyikan kebenaran tentang kecerdasannya. Aku hanya ingin Putraku Kabut menjadi lelaki biasa yang hanya mengurus perusahaan. Aku tidak ingin Puraku menjadi seperti aku dan Nasa, apalagi seperti dirimu, itu lebih tidak ingin lagi," tutur Hadden menjelaskan.
"Kenapa tidak boleh seperti aku? Memangnya aku kenapa?" Bentak Jackson tak suka dan tak sengaja membesarkan volume suaranya. Saat itu juga, Jackson mendongakkan kepala guna mengecek apakah Nata kaget dengan bentaknya barusan. Jackson merasa lega kala melihat Nata yang tengah terlelap dengan nyenyaknya.
"Beraninya kau! Dia belum dewasa saja, kau mengejekku begini apa tidak takut karma?" Geram Jackson. Sedangkan Hadden tertawa sepuasnya.
"Sayang ... Jackson!" Panggil Nata dari dalam kamar.
Tanpa berkata apa pun, Jackson langsung memutuskan panggilan dengan Hadden dan segera masuk ke dalam kamar.
__ADS_1
"Ada apa, Sayang?" Tanya Jackson mendekat pada Sang Istri yang terbaring di atas ranjang.
"Aku tidak bisa tidur, hiks," tutur Nata yang cengengnya masih sama.
"Apa sulit mencari posisi yang nyaman lagi?" Tanya Jackson yang telah hafal dengan Nata yang sering terbangun karena tidak menemukan posisi tidur yang nyaman.
"Iya. Bajuku ke mana? Aku ingin pakai baju," pinta Nata manja.
"Sebentar sayang, akan aku carikan yang longgar agar kamu nyaman," jawab Jackson menuju lemari dan mengambil baju khusus Ibu hamil milik Nata.
"Ini, Sayang?" Tanya Jackson terlebih dahulu.
"Iya, itu saja. Pasangin." Jackson tersenyum senang, naik ke atas ranjang dan langsung memasangkan baju di tubuh polos Sang Istri.
"Apa sudah nyaman?" Tanya Jackson setelah berhasil memasangkan baju itu ke tubuh Nata.
"Hu'um, ayo tidur dan peluk aku," lagi-lagi Nata bersikap manja membuat Jackson semakin mencintainya.
__ADS_1
Dengan senang hati Jackson berbaring di samping Nata, membawa Nata masuk ke dalam pelukannya. "Oh iya, Sayang. Kabut bagaiamana?" Tanya Nata menengadah menatap Jackson.
"Aku sudah mengeceknya barusan, dan dia sudah tidur dengan nyenyak," jawab Jackson lalu mencium kening Nata penuh kasih sayang.