
Setelah kepergian Jonas, kini aku tinggal seorang diri di dalam ruangan gelap ini. Pintunya sudah jelas terkunci rapat dan aku tidak akan mungkin dapat keluar dari ruangan. Aku merutuki Brigita dalam hati, berani sekali dia melakukan hal ini kepadaku, padahal semua kakacauan yang terjadi dalam hidup adalah karenanya. Lihat saja, aku tidak akan melepaskannya.
Aku membaringkan kepalaku di meja, rasanya lelah sekali mejalani hidupku yang kian sulit. Aku memejamkan mataku di sana, berharap semua akan baik-baik saja ketika aku terbangun nanti.
Ceklek!
Aku terkejut mendengar suara pintu yang dibuka seseorang. Dalam kegelapan dengan cahaya remang, aku dapat melihat sosok malaikat pahlawan yang akan datang menyelamatkanku. Namun, semakin dekat, sosok itu tampak semakin terlihat dingin. Membuatku berpikir kalau dia bukanlah malaikat penyelamatku, melainkan malaikat yang akan membawaku masuk ke dalam neraka bersama dengannya.
"Tu-tuan Jackson," ujarku menyapanya.
Jackson mendekat dengan sejuta kharisma ketampanannya. Benar-benar tampan, aku tidak berbohong, dia adalah pria tertampan yang pernah aku temui selama hidup di dunia ini. Bila saja dia menjadi Aktor, aku yakin dia akan dengan mudah menduduki puncak popularitas.
Jika saja Jackson adalah lelaki yang tidak kejam, tidak dingin, tidak arogan, tidak misterius, dan satu lagi, yang paling penting tidak hipers*x. Jika semua yang aku sebutkan tidak Jackson miliki. Maka, aku rela menjadi simpanan Jackson seumur hidup. Namun, mana ada lelaki baik yang punya simpanan. Hem, bayangan indahku pecah seketika.
Apakah pantas wanita perusak rumah tangga orang ini, memaliki pria sempurna seperti Jackson. Tidak, tentu saja itu tidak akan mungkin. Maaf, Jackson. Walaupun aku adalah wanita yang tak lagi punya harga diri. Tapi, aku masih ingin kedepannya hidup dengan harga diri. Walaupun kamu adalah pria pertama yang aku cintai, aku tidak ingin hidup bersamamu.
Benar kata orang-orang, cinta pertama adalah cinta teristimewa, namun jarang bisa bersama. Sedikit harapan, bisakah kata jarang itu juga berlaku untukku.
Jackson duduk tepat dihadapanku, dia mengambil posisi yang Jonas duduki tadi. Tekanan yang aku rasakan berbeda, duduk di hadapan Jackson lebih menakutkan daripada duduk dihadapan Jonas.
__ADS_1
Tak lama setelah Jackson duduk. Jonas pun masuk kembali ke dalam ruangan bersama dengan seorang bawahannya. "Tuan Jackson," sapa Jonas mengubah raut wajahnya di hadapan Jackson.
Jonas duduk di sampingku, kulihat wajahnya juga memucat. Keberaniannya menciut ketika merasakan tekanan yang sama.
"Kasus ini sudah dilaporkan dan kasus ini hanya bisa dihapus jika Reyhan membatalkan tuduhannya, Tuan." Jonas membuka suara.
Tak ... Tuk ... Tak ... Tuk ....
Suara jari Jackson yang mengetukkan jarinya di atas meja. Kulihat keringat dingin membanjiri wajah Jonas.
Jackson sengaja memperlihatkan tekanan yang mengancam sekali terhadap Jonas. Jonas tampak serba salah, karena Reyhan berpesan padanya kalau luka Brigita kenyataannya sangat parah. Dan kini Brigita masih rawat inap di rumah sakit, bagaimana pun Jonas harus memberi muka pada Reyhan.
Jonas menatap Jackson dan tahu kalau Jackson sudah lama bergelut di dunia atas. Tentu Jackson tahu Reyhan itu siapa.
"Aku rasa luka Nyonya Brigita tidak termasuk parah. Aku akan membawa Cecilia ke rumah sakit dan aku pastikan akan datang kembali dengan membawa dan memberikan surat keterangan visum Cecilia luka parah stadium 2. Beri aku waktu 30 menit untuk membawa Cecilia," pinta Jackson dengan penuh penekanan kepada Jonas.
"Tidak bisa, Tuan. Mana boleh begitu. Ini sama saja dengan kasus para koruptor yang minta diberitahu lebih dulu sebelum digeledah. Pak Jonas, jangan Izinkan Tuan ini membawa tahanan pergi, kalau tidak akan ada banyak tipu daya yang terjadi." Seorang bawahan Jonas lancang dan tidak mengizinkan Jackson membawa aku pergi.
"Bawahanmu terlalu lancang, Pak Jonas," kata Jackson sinis.
__ADS_1
Jonas segera memperingati bawahannya agar tutup mulut setelah melihat perubahan ekspresi Jackson.
Saat ini, Putra mengetuk pintu, “Pak Jonas, CEO Hadden dari Berjaya Group baru menelepon.”
Jonas mengerutkan alis, "Ada keperluan apa Tuan Hadden sampai menelepon kemari?"
"Saya tidak tau, Pak. Ini telponnya." Jawab Putra langsung memberikan ponsel itu kepada Jonas.
"Hallo, Tuan Hadden. Ada yang bisa saya bantu?" Sapa Jonas ramah.
"Apakah Cecilia ditangkap?" Tanya Hadden to the point. Jonas menjawab iya.
"Saya sudah menghubungi atasan Reyhan agar Reyhan membatalkan tuduhannya," ujar Hadden di seberang sana.
Belum sempat Jonas merespon ucapan Hadden, tapi sudah ada panggilan lain yang masuk ke ponsel Jonas. Jonas melihat layar dan segera menerima panggilan itu, “Halo, Pak kepala.”
Aku berada paling dekat dengan Jonas dan bisa mendengar percakapan mereka dengan jelas.
"Apakah Jackson ada di sana?" Jonas mau memberikan ponsel pada Jackson. Tapi, tiba-tiba si penelepon berteriak, “Jonas!”
__ADS_1