Terjerat Nafsu CEO Miliarder

Terjerat Nafsu CEO Miliarder
Bab 66


__ADS_3

Pyaaarr!


Aku membalikkan badan dengan cepat, dan betapa terkejutnya aku kala melihat Cecilku akan menancapkan beling gelas dengan bagian runcing—ke tangannya.


"Lepaskan aku atau biarkan aku mati!" Ancamnya membuat kakiku gemetar seketika. Rasa khawatir yang begitu besarnya kini aku rasakan. Tidak, aku tidak ingin kehilangannya. Akan aku pastikan dia tetap berada di sisiku. Mau suka atau tidak suka, dia harus tetap bersamaku. Sungguh, aku tidak bisa hidup tanpanya.


"Apa yang kamu lakukan Cecilia? Cepat singkirkan benda tajam itu!" Bentakku sambil mendekat padanya. Semakin aku mendekat, Cecilia juga semakin berteriak dengan kencang.


"Aku kamu gila!" Aku berteriak kencang lalu menahan tangannya yang mengambil ancang-ancang untuk melukai dirinya sendiri.


"Ya, aku memang gila! Aku gila hingga aku ingin mati daripada hidup menderita bersamamu!" Teriaknya.


"Kalau pun kamu mati, itu harus atas kehendakku," aku kembali mengucapkan kata yang membuat diriku sendiri terluka.

__ADS_1


"Bajingan! Aku membencimu bajingan, biarkan aku mati!" Dia terus berontak membuatku mencengkram tangannya semakin erat, meninggalkan bekas merah di sana.


"Lepaskan aku, bajingan!" Dia berontak, aku tidak ingin dia terus begini hingga kelelahan dan berakibat fatal pada kandungannya.


Dan aku terpaksa menjinakkannya dengan kekasaran. Mencengkram tangannya kuat dan melepaskan benda tajam dari genggaman tangannya. Begitu mendapatkan benda itu, aku melemparnya ke sembarang arah. Lalu mengukung Cecilia hingga dia tidak dapat lagi berontak.


"Diam atau aku pastikan kamu tidak bisa berjalan," ancamku sukses membuatnya terdiam dan tenang. Aku menyingkir dari atas tubuhnya, lalu meraih tubuhnya dan kumasukkan kedalam pelukanku, dia memelukku erat sambil terus terisak. Aku menggosok punggungnya perlahan berusaha memberikan rasa tenang.


"Hem, aku tau itu," sautku.


Beberapa menit kemudian, pelukkannya yang semula erat menjadi renggang. Dia telah terlelap dengan air mata yang masih mengalir.


Aku melepaskannya perlahan, membenarkan posisinya lalu menyelimutinya agar tetap hangat. Aku meraih pil vitamin yang diberikan dokter Winardi, lalu memasukkan pil itu ke dalam mulut Cecilia, tak lupa aku juga memberikannya minum. Aku lega saat dia meneguknya dengan aman.

__ADS_1


Setelahnya aku masuk ke dalam kamar mandi, mengambil air hangat dan handuk kecil. Begitu mendapatkan aku segera membawanya kembali ke ranjang. Aku mengompres pergelangan tangan Cecilia dengan handuk yang aku basahi dengan air hangat.


Begitu selesai, aku membuka piyama perlahan, ada luka yang cukup besar di sana. Luka yang tak sengaja Cecilia berikan saat terus berontak.


"Cukup dalam," ujarku lalu membuka laci untuk mengambil kotak p3k, aku membersihkan darahnya dengan alkohol lalu meneteskan obat merah di sana. Selanjutnya melilitkannya dengan perban.


Kini, aku memandang Cecilia lama, sungguh aku tidak ingin kehilangan wanita ini. Aku tidak dapat menolak pesonanya, aku tau seperti apa pekerjaannya 5 tahun belakangan ini dan aku tidak menyangka dia bisa menjaga kehormatannya dengan pekerjaan yang berisiko tinggi.


Karena pekerjaannya yang berisiko tinggilah, yang membuatku ingin memilikinya seutuhnya lebih dulu. Dia yang selalu ingin pergi jauh dariku, membuatku terpaksa melakukan hal itu.


Puas memandangi keindahan pesona cantiknya, aku pun bangkit. Mengambil sebuah pil yang diresepkan khusus untukku. Pil yang selalu aku konsumsi saat hasrat ingin melakukannya bersama Cecilia sangat tinggi.


Entahlah, sebelum mengenal Cecilia, aku masih terbilang normal. Namun, entah kenapa aku berubah menjadi pria yang tidak bisa menahan nafsu alias hypers*x ketika bersamanya. Untuk itulah, tanpa sadar aku sering berbuat kasar kepadanya. Sadar telah menyakitinya, aku pun meminta resep pil ini, setidaknya aku dapat mengurangi hasrat ini agar tidak menyakitinya lagi.

__ADS_1


__ADS_2