
"Bagaimana kalau menghadiahkan Cecilia pada Peter? Cecilia itu pelakor kelas kakap dan lebih hebat darimu.”
Aku berdiri di tempat dalam diam, dengan perasaan yang tak karuan. Entah apa yang saat ini aku saksikan, yang pasti, jantungku berdetak begitu cepat, kala mendengar kalau Jackson berniat mengancamku.
Kulihat Jenny menunjukkan rasa takut karena dia percaya kalau aku adalah pacarnya Hadden. Tak hanya itu, aku juga melihat ada begitu besar keraguan di raut wajah Jenny. Sepertinya Jenny ragu kalau Peter akan menerimaku.
"Tapi Tuan, Cecilia adalah pacarnya Hadden. Lagipula, saya juga ragu apakah Peter akan menyukai Cecil,"
"Tepat sekali," batinku gemetar.
Jackson tertawa lantang dan terdengar sangat menakutkan, “Penipu ada 2 jenis, kelas teri dan kelas kakap. Kamu rasa Cecilia bersedia masuk penjara atau ikut dengan Peter?” tutur Jackson santai, pupus sudah harapanku. Selama ini, aku bergantung pada Jackson, berharap dia dapat melindungiku. Namum, semua sirna.
"Apa maksud Tuan?" Tanya Jenny juga terkejut dengan perkataan Jackson berusan.
"Aku punya semua bukti penipuan yang Cecilia lakukan selama lima tahun terakhir. Apa kamu kira dia dapat menolak apa pun yang aku inginkan,," jelas Jackson tertawa menakutkan.
Mendengar itu, aku menunduk dengan kedua tangan yang gemetar. Bahkan badanku jadi dingin dan kaku. Hatiku terasa sangat perih bak disayat-sayat sembilu. Kesalahan besar, bila aku percaya pada Jackson. Sekarang bagaimana caranya agar aku bisa lepas darinya.
Kulihat kali ini Jackson akan membuatku berakhir dengan sangat menyedihkan.
"Tuan Jackson, apa yang Tuan lakukan? Menurutku Cecilia tidaklah bersalah," saut Jenny membelaku.
"Tapi tahu terlalu banyak, itu kesalahannya," sambung Jackson tersenyum smirik.
"Tapi Tuan, Peter menderita Impoten dan punya kelainan seksual. Kasian Cecil, dia akan sangat menderita, saya mohon jangan sangkut pautkan Cecilia dalam Masalah ini," mohon Jenny.
__ADS_1
"Dia memang sudah terlibat dalam masalah ini dari awal," jawab Jackson tidak mengubah pendiriannya dan berdiri, bersiap-siap menyusulku.
Aku segera berlari masuk ke dalam lift dan turun ke pemandian air panas yang berada di lantai satu di bawah. Begitu tiba di tempat pemandian, aku langsung melepaskan pakaianku, menyisakan bra dan cd yang mengekspos begian sensitifku. Aku tak lagi sempat ganti pakaian renang karena Jackson sudah dekat.
"Cecilia," panggil Jackson
"Iya, Tuan," jawabku berenang ke tepi menuju ke arah Jackson. Lalu keluar dari air dengan cd basah yang menerawang menampakkan jelas daerah intiku. Bra yang basah menjadi berat dan sedikit turun ke bawah, hingga gunung kembarku separuhnya terlihat jelas.
"Tuan, aku takut," ucapku langsung memeluk Jackson dengan begitu eratnya.
"Ada apa?" Tanya Jackson singkat.
"Tadi aku tertidur karena kelamaan menunggu Tuan," jawabku dengan nada suara manja.
"Bukan," jawabku cepat.
"Lalu?" Tanya Jackson melepaskan aku dari dekapannya, kemudian memegang kedua pundaku erat.
"Aku bermimpi buruk, Tuan," aku berpura-pura terlihat sangat menyedihkan.
"Di dalam mimpi itu, Tuan melemparku kepada orang lain lalu membunuhku. Tuan mendorong dan menembakkan dengan senjata hingga seluruh tubuhku bersarang peluru," aku menceritakan hal itu dengan terisak-isak. Aku menangisi sejadinya bukan karena berpura-pura, tapi karena memang saat ini aku ketakutan.
Kulihat Jackson menyipitkan mata dan terdiam tak berkata apa pun. Jackson terlihat sedang berpikir dan curiga apakah aku mendengar pembicaraan dirinya dan Jenny barusan?
“Tuan Jackson, aku akan menderita setelah pulang dari sini, kan?”
__ADS_1
Raut wajah Jackson datar saat aku kembali memeluknya dengan rentetan air mata yang terus mengalir deras.
Aku memandangi langit-langit kayu yang sudah lusuh, perasaanku sangat kacau karena pria yang aku cintai ini, rupanya mau mencelakai diriku sendiri.
Aku sangat sedih sampai menangis tiada henti dalam pelukkan Jackson. Berawal dari menggoda dan menjebak, hingga tergoda dan terjebak. Kujadikan dia tempat berlindung. Namun, siapa sangka aku mencintai seorang pria yang malah ingin membunuhku. Apa yang akan aku lakukan selanjutnya? Mati karena cinta, atau mati dibunuh cinta?
Jackson mengusap kepalaku pelan, dan aku menikmati usapan malaikat pencabut nyawaku ini. Jackson melepaskanku dari pelukannya lalu menghapus air mataku dengan sabar.
"Jangan terlalu banyak berpikir. Itu hanyalah mimpi belaka."
.
.
.
.
Hari ini akan update 5 bab ya gessss. Akan muncul berurut, silahkan ditunggu🙌
Bagi yang menyukai cerita ini, boleh dong Othor minta hadiahnya🙈 Bunga mawar atau kopi biar Othor nggk ngantuk nulisnya🙈
Terima kasih untuk reader's semua🙏
Othor love kalian berkebon-berkebon😘😘😘😘😘
__ADS_1