
"Sana mandi." Titahnya dengan suara serak.
"Aku linglung. "Buat apa?"
Jackson berdiri di hadapanku sehingga otot perutnya berhadapan dengan wajahku.
"Bukannya mau menggodaku?"
"Kalau begitu mandinya nanti saja, kita main dulu. Atau bermain di dalam kamar mandi juga oke," setelah mengatakan kalimat menggoda, saat itu juga aku langsung melorotkan celananya dengan sekali tarikan.
Aku kembali menyeringai puas ketika menatap adiknya yang telah berdiri dengan gagahnya, walau masih terselimut kain terakhirnya.
"Sepertinya kamu sangat menginginkannya," ujarnya tersenyum sinis sambil menaikkan kembali celananya.
"Baiklah, Cecil. Aku akan tinggal di rumahmu malam ini," sambungnya lagi membuatku terdiam dan tak percaya. Dia langsung berjalan menuju kamar mandi, meninggalkanku yang kini ketakutan.
"Astaga! Bagaimana ini? Ini hanya misi, dan aku tidak ingin melampaui batasku. Ya Tuhan, bantulah aku. Apa yang harus aku lakukan?" Gumamku frustasi.
Aku sedikit ketakutan saat merasakan Jackson akan mengeluarkan tabiat aslinya, sudah banyak sekali hubungan mesra yang aku alami selama bertahun-tahun ini, tapi yang keluar tabiat aslinya sangat jarang. Aku hanya ingin menggoda Jackson, tapi aku tidak ingin kehilangan hal paling berharga dalam hidupku. Biasanya, pria lain akan aku buat mabuk. Tapi, bagaimana dengan Jackson? Dia adalah pria yang sangat kuat terhadap alkohol. Astaga, kenapa aku begitu bodoh ketika berhadapan dengan pria satu ini.
"Hadden! Ya, aku bisa meminta bantuannya untuk mencari cara agar Jackson pergi," aku bangkit dan langsung menyambar ponselku yang ada di atas nakas.
Tuutt!
"Hallo, Tuan Hadden aku—"
"Hallo, siapa ini!?" Bentak seorang wanita di seberang sana membuatku terdiam.
Beberapa detik kemudian barulah aku kembali fokus pada tujuanku.
"Tuan Hadden di mana? Bisakah saya berbicara dengan Tuan Hadden?" Jawabku berusaha tenang.
__ADS_1
"Dia sedang mandi! Kamu kenapa cari-cari dia, dengar, ya! Aku tidak takut pada wanita rubah sepertimu. Aku bahkan sudah mengalahkan 3 orang wanita rubah sepertimu ditahun ini. Dan akulah yang akan menjadi wanita terakhir untuk Hadden. Jadi, jangan coba-coba menggodanya. Kalau kamu berani, maka kamu harus berhadapan denganku. Cih!" Wanita itu bergegas mengakhiri panggilan dengan kesal sebelum aku sempat menjelaskan.
"Sial! Sesama rubah malah mengumpatku. Dasar tidak tau malu!" umpatku langsung melempar ponsel ke atas kasur.
"Siapa lagi yang bisa menolongku selain Hadden. Astaga! Apakah aku benar-benar akan menyerahkan diriku kepada Jackson?"
"Andreas!" Aku kembali menyambar ponselku yang tergeletak di atas kasur.
"Ya, Andreas bisa membant—" aku menghentikan kalimatku ketika teringat pada Andreas sangat ingin Jackson terpikat olehku. Maka dia pasti tidak akan membantuku. Aku meletakkan ponsel dan melihat ke arah kamar mandi, bohong namanya jika aku mengatakan tidak jatuh hati sedikit pun pada Jackson.
Paras Jackson sangat tampan, dinilai dari berbagai aspek dia adalah pria sempurna dan terbaik. Tapi, aku tidak akan naik ranjang dengan pria yang telah menikah dan melewati batasku. Jika ada kali pertama, maka pasti akan ada kali kedua.
Pernikahan keluarga kaya tak terhitung jumlahnya. pasangan Suami Istri tidak saling mengganggu, tapi pastinya tidak akan bercerai. Aku sadar, bahwa menjadi kekasih para bos bisnis seperti Jackson tidak akan mendapatkan status sah bahkan sampai tua sekali pun.
Aku merasa diriku tidak boleh berhubungan **** dengan Jackson, apa pun itu pokonya tidak boleh. Selama ini aku hanya menggodanya demi misi ini. Tapi, tidak dengan memberikan tubuhku.
"Ja-jackson!" Aku terperanjat kaget ketika menatap Jackson yang keluar dari kamar mandi.
"Sial, kenapa pria ini begitu sangat tampan dan menggoda," umpatku dalam hati.
Jackson keluar dari kamar mandi, dia menggunakan sikat gigiku, memakai jubah mandiku yang agak besar. Wajahku memanas ketika melihatnya yang begitu seksi dengan jatuhan air dari rambutnya. Ah, itu sangat seksi.
Jackson mendekat, dia berjalan perlahan dengan penuh pesona menggoda. Apa sekarang terbalik? Kenapa malah dia yang menggoda dan aku yang terpesona.
Jackson tidak berjalan ke arahku, tapi dia menuju nakas. Menuangkan anggur, kemudian barulah mendekat padaku.
"Minumlah," ujarnya menyuapiku anggur di tangannya.
"Ah, suara baritone itu kenapa sangat seksi," batinku menerima anggur darinya.
"Uhhukk!" Aku tersedak karena terlalu gugup. Pria satu ini benar-benar berbahaya.
__ADS_1
"Santai saja, kenapa kamu sangat tegang? Bukankah bisa bersama denganku di malam hari, di dalam kamar dengan ranjang dan anggur adalah impianmu sejak lama?" Ujarnya. Dengan seluruh kegugupan membara dalam hati, aku berusaha untuk tetap tersenyum.
"Tentu saja, Tuan Jackson. Bisa bersama lelaki tampan dan mapan seperti anda, adalah impian terbesarku sejak lama. Sekarang, aku tidak perlu lagi menggodamu, karena kamu sudah jatuh hati kepadaku, bukankah begitu?" jawabku dengan memamerkan senyuman manis namun kecut.
"Ahaha ...." Jackson melihat kekakuanku, dia menertawakanku kala aktingku adalah yang terbaik di saat pria tidak terpancing. Tapi, ketika pria sudah terpancing, maka aku yang angkat tangan.
"Menurutmu, apa kamu sanggup menyamai kekuatanku. Lihatlah, minum sedikit anggur kamu sudah mau pingsan."
"Tuan meragukanku? Jangankan satu lawan satu. Aku bisa menyamai kekuatan dua sampai tiga pria sekekar Tuan sekali pun," aku mengumpat kebodohanku dalam hati, tiga pria sepertinya, bisa-bisa aku tidak akan bisa berjalan selama sebulan atau bahkan berbulan-bulan.
Glek!
Darahku seketika berdesir ketika melihat senyumannya yang sangat mempesona. Bisa kalian bayangkan, betapa manisnya seorang pria maskulin tersenyum begitu lepas. Ah, sungguh sangat tampan dengan gigi rapi putih nan bersih, dia seorang pria tangguh bak pengeran di negeri dongeng.
"Benarkah, apa yang kuat dari wanita rubah sepertimu? Coba kulihat secantik apa dirimu," ujarnya mengangkat daguku lembut.
Deg!
Jantungku berdetak lebih kencang dari sebelumnya. Aku mengerjabkan mata, entah semerah apa kedua pipiku sekarang? Yang pasti, wajahku memanas saat mataku beradu pandang dengan mata elangnya yang menusuk hatiku hingga ke akar-akarnya.
"Ternyata kamu lumayan juga, apa kamu pandai bermain di atas?"
"Gila?" umpatku dalam hati.
Lagi-lagi ucapan pria ini mampu membuatku begitu ketakutan. Bermain di atas katanya, yang benar saja. Aku ini adalah perempuan yang masih bersegel. Tidak mungkin pertama kali melakukan langsung di atas. Dasar pria arogan, dingin, kejam, plus mesum.
Setelah saling menggoda untuk beberapa saat. Di tengah-tengah itu, Jackson menerima sebuah telepon dan mengirim sebuah email terenkripsi. Menangani pekerjaannya sambil memeluk aku yang kini berada di atas pangkuannya.
"Apa kamu tidak mandi?" Jackson bertanya kepadaku.
Baru saja aku akan melangkah, dia langsung menarikku kembali ke pelukannya.
__ADS_1
"Sudah tidak ada waktu lagi," ujarnya langsung menindihku di atas kasur. Tubuhku menegang seketika.