Terjerat Nafsu CEO Miliarder

Terjerat Nafsu CEO Miliarder
Bab 16


__ADS_3

"Saya sangat yakin Nona Sesil pasti tau darimana aku mendapatkan foto ini," tebaknya sambil memarkan foto itu ke wajahku.


"Tentu saja aku tidak tahu. Aku bukanlah seorang peramal yang padai menebak-nebak." Jawabku berusaha untuk tetap mempertahankan ekspresi santaiku. "Memangnya dari mana Tuan Hadden mendapatkan foto itu?" Tanyaku masih keukeuh untuk tidak mengakui.


"Aku tidak akan mengatakan siapa orangnya. Hanya saja, aku ingin mengatakan kalau seseorang yang saat ini Nona pikirkan adalah benar, dialah orangnya. Apa Nona Sesil tidak menginginkan foto-foto ini. Wajah Jackson terlihat jelas disini, bukankah keponakanku Zea sangat membutuhkan bukti ini." Jawabnya lembut. Pria ini, dia sangat pandai mencari keuntungan dibalik kesulitanku.


"Tapi sayangnya aku tidak suka kalau orang lain ikut campur dalam urusanku. Aku lebih menyukai mendapatkan segalanya dengan usahaku sendiri." Tolakku mentah-mentah.


"Hem, sepertinya akan sangat menarik bila aku berikan foto ini kepada Zea." Sautnya membuatku menegang seketika. Semua rencanaku dan Jackson akan hancur berantakan bila saja Zea mendapatkan foto ini. "Tapi Nona Sesil tenang saja, bekerja samalah denganku. Dan Nona akan mendapat dua keuntungan sekaligus. Termasuk Jackson." Sambungnya lagi.


"Aku adalah perempuan yang tidak pernah menempatkan hati dan perasaan ketika menjalankan misi." Tegasku.


"Ingatlah Nona, yang sangat Nona perlukan saat ini hanyalah tempat berlindung. Jackson tidak pernah menganggap wanita serius. Dia akan membuang wanita yang sudah tidak dibutuhkan lagi.


"Kalau Jackson adalah pria yang tidak menganggap wanita serius, saya juga sama. Saya juga akan membuang pria yang sudah tidak lagi saya butuhkan." Jawabku yakin. Hadden tampak diam, dia hanya tersenyum samar. Sepertinya dia tidak lagi bisa membalas perkataanku. "Ngomong-ngomong, bagaimana bisa Tuan Hadden mendapatkan foto ini?" Tanyaku menyingkirkan jemarinya dari daguku perlahan agar tidak menyinggungnya. Aku juga bertanya karena aku sangat penasaran ada hubungan antara Hadden dan Andreas.


"Sama seperti kita saat ini. Hubunganku dan Andreas pun juga belum Special." Jawabnya asal. Dan zonk, aku tidak mendapatkan bocoran apa pun antara Hadden dan Andreas. Tapi aku sangat yakin kalau mereka berdua bekerjasama untuk menjatuhkan Jackson.


"Aku akan pergi," ucapku berdiri dari kuris siap untuk pergi.


Ketika membuka setengah pintu, aku begitu kaget melihat Jackson dan Jenny keluar dari ruangan, ruangan Jackson dan ruanganku dan Hadden berseberangan, aku kembali menutup pintu, karena kalau aku keluar, sudah dipastikan Jackson akan melihatku. Aku segera bersembunyi ketika Jackson masuk ke ruangan Hadden.


"Hallo Jackson, tidak disangka kau berada disini juga. Masuklah," Sambut Hadden langsung berdiri tapi tetap berada di posisinya semula.

__ADS_1


Jackson segera masuk dan duduk tepat dihadapan Hadden. Dimana kursi itu menjadi tempat dudukku sebelumnya.


"Hubungan Jenny dan Peter semakin membaik. Peter sangat terpesona oleh Jenny belakangan ini. Jika ada orang yang melukainya, dia hanya akan semakin menyayangi Jenny. Jadi, aku harap kau tidak membongkar identitas jenny yang sebenarnya." Ucap Jackson tidak panik sama sekali. Dengan santainya dia membujuk Hadden untuk menjaga rahasianya.


Rupanya Hadden telah mengutus orang untuk membuntuti Jackson selama setengah tahun, dan hari ini akhirnya membuahkan hasil.


Selesai berdiskusi, keduanya keluar dari ruangan satu per satu. Begitu Jackson dan Hedden tidak lagi di ruangan, aku pun bernapas lega. Keluar dari persembunyian dan segera pergi meninggalkan ruangan itu lalu mencari keberadaan Angela.


Angela sudah mabuk ketika aku temukan. Walau begitu dia masih tetap tersadar.


"Angela, pokoknya kamu harus bantu aku kali ini." Pintaku padanya.


"Bantu apa ha?" Jawabnya dengan suara tak jelas karena sudah mulai hilang kendali.


"Salin rekaman cctv di lantai ini untukku," jawabku singkat.


"Iya," jawabku cepat.


Saat itu juga, Angela langsung menelpon kantor pengawas dan meminta salinan rekaman itu.


Aku tahu yang ingin aku lakukan dengan rekaman ini. Jackson pasti akan menyuruh orang untuk menyalin rekaman cctv, Angela tidak memberikannya, tapi aku yang memberikannya, memberikan pria ini kejutan setelah membuatnya kesal.


Malamnya, saat aku baru saja selesai mandi, bel pintu berbunyi. Hadden yang sudah kebanyakan minum datang berkunjung.

__ADS_1


Pria berusia lebih tuan dariku ini, terlihat tampan. Tapi jelas lebih tampan Iackson. Dengan bau alkohol yang begitu menyengat dia menebarkan senyuman padaku.


"Apakah aku boleh masuk?" Tanyanya dengan suara khas orang mabuk.


Aku membuka pintu lebar, sudah biasa bagiku membiarkan pria masuk ke dalam ruamhku.


Tiba di ruang tamu, Hadden langsung duduk di sofa tepat disebelahku. Aku beringsut menyingkir memberikan jarak satu meter.


"Ada apa kamu kemari?" Tanyaku singkat.


"Ingin mengantarkan anting-antingmu yang tertinggal." Jawabnya. "Tapi sebelum itu aku sangat ingin mendengarmu berkaty dengan lembut “Hadden, panas banget nih.” Di atas sofa, Hadden menyentuh tahi lalat di sekitar mataku. "Suka nangis?" Aku merasakan aura di sekujur tubuh Hadden yang terlihat berpengalaman, aku percaya dengan penilaian Jackson terhadap Hadden.


"Mana anting-antingku?" Pintaku ketus lalu menyingkirkan tangan nakalnya dari wajahku. Jackson tetap tersenyum aneh. Lalu meraba sakunya dan mengelurkan anting-antingku yang tidak sengaja terlepas ketika berada di restoran Angela.


"Kamu adalah wanita paling menawan yang pernah aku temui di dunia ini."pujinya membuatku mengerutkan dahi. Lalu berkata,


"Sepertinya kamu sudah sangat mabuk, mari aku antarkan keluar." Ucapku memang berniat Inging mengusirnya. Hadden tidak mencegah saat aku mengantarkannya hingga keluar.


Setelah Hadden pergi, aku baru menyadari kalau pemantik api milik Hadden ketinggalan di sofa.


Saat bersamaan, ada yang mengetuk pintu. Aku mengira Hadden kembali untuk mencari pemantik api.


"Dasar pria aneh, datang ke rumahku dalam keadaan mabuk." Ucapku bergumam sendiri.

__ADS_1


"Hadden, kamu meninggalkan—" Kalimatku terpotong ketika Terkejut saat membuka pintu yang kulihat bukanlah Hadden melainkan Jackson.


Jackson menatap pemantik api pria di tanganku. Aku butuh waktu lumayan lama untuk merespon, aku sangat terkejut hingga suaraku serak, "Tu-tuan Jackson,"


__ADS_2