Terjerat Nafsu CEO Miliarder

Terjerat Nafsu CEO Miliarder
Bab 59


__ADS_3

“Cecilia, aku sudah lama menunggumu" ucap Jackson mengerikan


Jackson berlutut di hadapanku yang terduduk gemetar di atas aspal. “Cecilia, nyalimu sungguh tak kuduga akan sebesar ini.”


"Taun Jackson, a-aku—"


Jackson memotong ucapanku dengan tertawa keras, dia terlibat sangat puas—bisa menangkapku. “Kamu berterima kasih pada Hadden dan sangat benci padaku, kan?”


"Bukan seperti itu Jackson. Kenapa kamu tidak bertanya apa alasanku melakukan semua ini dan berusaha ingin pergi darimu? Kamu pikir aku wanita yang sehina apa? Aku meminta bantuan Hadden untuk pergi karena aku tidak mau mati ditanganmu. Apa kamu menyadari kalau aku sangat mencintaimu? Aku sangat mencintaimu Jackson, aku sangat-sangat mencintaimu hingga aku ingin pergi darimu. Aku takut cinta ini akan membuatku kehilangan nyawaku sendiri. Aku takut rasa kecewaku akan semakin besar ketika sedikit demi sedikit aku mulai menyadari kalau aku tidak berarti apa-apa bagimu, Jackson. Apa kamu kira aku tidak terluka saat mengambil keputusan ini. Andai kamu tau betapa besarnya cinta yang aku punya untukmu. Aku tidak ingin cinta ini semakin besar, aku mohon biarkan aku pergi," tangsiku pecah, aku mengatakan semua isi hatiku kepada Jackson.


Dan benar saja, Jackson tetaplah seorang Jackson. Tidak peduli bagaimana aku berusaha menjelaskan perasaan kepadanya. Dia tetap tidak mempercayai ucapanku, di mata Jackson, aku tetaplah seorang rubah yang terus berbohong ke sana kemari.


"Menggunakan cinta agar aku mengasihanimu. Cecilia, tidakkah kamu menghitung ini kebohinganmu yang keberapa kali," Jackson sampai sekarang tetap merasa kalau aku berbohong.


Tidak lama kemudian, pengawal Jackson memberitahu Jackson kalau mobil Hadden sudah sampai.


Jackson pergi meninggalkanku yang dihadang oleh para pengawalnya. Dari kejauhan, aku dapat melihat mobil Hadden yang datang dengan beberapa mobil dibelakangnya. Hatiku semakin kalut—kala melihat Hadden keluar dari mobil mewahnya. Mobil Lamborghini keluaran terbaru dan hanya dia di dunia berhasil Hadden milikku.


Tubuh kekar Hadden terbalut pakaian kerja yang begitu rapi. Dia terlihat sangat hebat kala di salah satu tangannya memegang sebuah pistol berjenis ckit.

__ADS_1


Jackson tidak menampilkan ekspresi saat melihat Hadden. Hadden turun dari mabil, berjalan cepat menuju Jackson. Hadden langsung menarik kerah baju Jackson dengan raut wajah yang terlihat begitu marah.


POV Author.


"Lepaskan Cecilia!" Bentak Hadden murka.


"Apa hakmu?" Lawan Jackson menepis kasar tangan Hadden.


Kedua kubu bersiap-siap berkelahi.


"Tuan Jackson, lebih baik kita mundur. Saya rasa kita tidak akan menang dari Hadden, karena anggota Hadden sangat hebat." Bisik seorang pengawal yang mendekat pada Jackson.


Jackson berkata, “Aku bisa mengatasinya, bawa Cecilia pulang ke Spring Mansion.” Balas Jackson ikut berbisik.


Seorang pengawal membantuku berdiri, membawaku masuk ke dalam mobil yang terparkir di pinggir jalan. Beberapa pengawal mendorong mobil hingga benar-benar jauh dari Hadden dan Jackson. Setelahnya, dua orang pengawal masuk ke dalam mobil. Supir mulai menghidupkan mesin dengan sangat berhati-hati agar tidak ketahuan oleh Hadden yang berada di kejauhan.


Lewat jendela kaca mobil, aku melihat Hadden yang perlahan menghilang dari pandangan setelah mobil berbelok di persimpangan.


Tiba di Mansion, pengawal itu membawa paksa diriku masuk ke dalam kamar. Mereka mengurungku di dalam kamar. Dari jendela aku dapat melihat ada banyak pengawal yang berjaga.

__ADS_1


Aku memilih masuk ke dalam kamar mandi, dan berendam dalam buthub. Rasa perih dari luka tak lagi aku rasakan, karena perihnya tak sebanding dengan perih yang kurasakan di lubuk hati.


Aku sangat berharap dapat pergi dari Jackson, dan kembali menjani hidupku dengan normal. Tapi, ternyata aku salah. Pergi dari Jackson tidaklah dapat aku lakukan dengan mudah.


Pergi ke ujung dunia sekali pun, Jackson pasti akan dapat menemukanku dengan mudah. Aku lelah dengan semua yang terjadi dalam hidup ini, aku menangis terisak-isak hingga tak sadarkan diri di dalam buthub.


Ketika terbangun, aku telah berada di atas ranjang lengkap dengan jubah mandi. Aku memegang kepalaku yang sudah terbalut perban. Tadinya, aku mengira Jackson-lah yang melakukan semua ini. Namun, ternyata para pelayanlah yang membantuku.


"Syukurlah Nona sudah sadar. Ini, silahkan di makan makanannya agar Nona segera pulih." Ucap Pelayan itu, lalu pergi meninggalkanku seorang diri.


Aku menatap ke sembarang arah dengan pandangan yang kosong. Mencintai seorang pria yang sama sekali tidak mencintaimu. Rasanya sangat sesak hingga aku kembali terisak pilu.


Malamnya, Jackson kembali ke Spring Mansion. Saat Jackson masuk ke dalam kamar, aku tengah duduk di pinggir ranjang masih dengan jubah mandi. Makanan di atas nakas masih utuh karena tak aku cuil sama sekali. Jackson mendorongku hingga terbaring di atas ranjang.


"Ini adalah kesalahan terbesar yang kamu buat, Cecilia," ujar Jackson menggengam daguku kasar.


Tanpa Jackson sadari, aku meraih gelas di nakas. Lalu aku semburkan air di dalamnya ke wajah Jackson.


Begitu ada kesempatan, aku keluar dari kukungan Jackson. Aku segera berlari ke arah jendela, naik ke atas sana dan siap melompat.

__ADS_1


"Aku lebih memilih mati daripada harus menerima hukuman kasar yang sangat menjijikkan darimu, Tuan Jackson! Biarkan aku mati, bukankah itu hal yang Tuan inginkan!" Teriakku semakin maju, sedikit saja aku bergerak, maka hidupku akan benar-benar berakhir.


Jackson memperingatiku dengan berkata, “Aku tidak tertarik pada wanita cacat walaupun bisa dipelihara seperti hewan!”


__ADS_2