
"Aku tidak tertarik pada wanita cacat, walaupun bisa dipelihara seperti hewan!”
"Jeckson, kamu benar-benar pria bajingan! Akkhh!" Aku berteriak sambil memejamkan mata saat tak sengaja terpeleset karena tempat pijakkan yang licin.
Aku mengira semua akan berakhir, bahkan aku tidak menyesal karena terpeleset. Namun, tidak akan ada akhirnya—kala Jackson menangkapku dengan tepat.
Jackson yang berada cukup dekat denganku, tentu dapat menangkap tubuhku sebelum jatuh ke bawah sana. Senang? Tentu aku tak senang, aku sangat berharap aku terjatuh ke bawah sana. Mengerikan memang. Tapi, lebih mengerikan dipelihara seperti hewan oleh Jacskon.
"Lepaskan aku, Jackson! Lepaskan! Kenapa menangkapku. Biarkan aku mati!" Teriakku terus berontak.
Jackson menarikku dengan mudahnya hingga aku berhasil turun dari jendela. Aku terus berontak saat Jackson masih memelukku dari belakang.
"Tidak semudah itu bila kamu ingin mati, Cecilia."
Ya Tuhan, apa sudah hilang hakku atas hidup ini. Bahkan mati pun harus atas izin pria bajingan ini
"Bila kamu tidak menginginkan aku mati. Maka, biarkan aku pergi, Jackson. Aku sudah tidak ada hubungannya dengan semua masalahmu! Aku mohon, biarkan aku pergi bersama Hadden!" Teraikku tak kuasa menahan tangis.
Jackson membalikkan badanku menghadapnya dengan begitu kasar..
"Hadden bisa menyelamatkan siapa pun di Kota Denpasar ini. Kecuali, orang yang ada dalam genggamanku. Orang itu hanya bisa bebas jika aku bersedia melepaskannya. Jika tidak, maka jangan pernah berharap untuk lepas dariku," ucap Jackson dengan wajah penuh amarah, bisa kulihat kilatan api emosi di mata tajamnya, dia mencekik leherku dengan kuat, hingga aku merasa sangat sesak.
Setetes air mata terjatuh, mengenai tangan Jackson yang mencekik semakin kuat. Dapat kurasakan tangannya yang sedingin es mencengkram leherku begitu.
"Paham?" Teriak suara baritone itu membuatku jadi tegang.
Aku terus berontak, berusaha menepuk-nepuk tangan Jackson yang melingkar di leherku, agar mau melepaskanku. Meski sudah hampir kehabisan napas, tapi aku masih belum menyerah.
"Le-lepaskan a-ku Ja-ckson ... Sam-pai ma-mati pun, a-ku ti-tidak akan ma-u men-jadi sim-pan-anmu!" Ucapku bersusah payah. Bibirku sudah memucat dengan tangan yang tak lagi menepuk Jackson karena telah habis tenaga. Meski begitu, aku tetap bersikeras tidak akan mau jadi simpanan pria manapun, apalagi menjadi simpanan Jackson. Sungguh aku tidak mau walau harus mati sekali pun.
__ADS_1
"Bagus, sangat menarik, Cecilia. Kamu masih berani menantang dan menguji kesabaranku."
Kupandang wajah Jackson semakin memerah. Auranya semakin dingin dengan mata tajamnya yang siap menusuk-nusuk bagian tubuhku hingga terbunuh.
"Lihat bagaimana caraku membuatmu jera!" Teriaknya kencang lalu menghempaskan aku ke atas ranjang dengan sekuat tenaga. Aku pun terhentak ke atas kasur hingga jubah mandi yang aku kenakan tersingkap membuat bagian tubuh sensitifku tereskpos.
Aku tak sempat menurunkannya, karena sibuk terbatuk dan berusaha menghirup udara sebanyak-banyaknya. Saat aku terus terbatuk-batuk, Jackson langsung mengukungku tanpa menahan tubuhnya. Hal itu, tentu membuatku terhimpit hingga kembali merasakan sesak dan sakit.
"Lepaskan aku, Jackson! Lepaskan aku!" Aku hanya dapat berteriak dengan berusaha memukul dada bidang Jackson dengan sisa tenaga yang kupunya.
Jackson tidak mengasihaniku sama sekali. Dia terus menatapku ingin membunuh dan aku semakin ketakutan.
Kulihat Jackson melepaskan satu kancing bagian atas kemejanya. Lalu menarik dasinya dengan sekali tarikan.
"Jackson apa yang kamu lakukan? Lepaskan!" Aku berontak saat Jackson mengikat kedua tanganku dengan dasi itu. Ikatan yang sangat-sangat kuat hingga membuat pergelangan tanganku tampak merah di pinggirannya.
Tidak puas hanya mengikat tanganku dengan dasi. Jackson bangkit, membuka laci yang ada di meja samping ranjang. Meraih sebuah tali, lalu dia ikatkan tali itu ke tanganku. Masih belum cukup sampai di situ, Jackson juga menghubungkan dan mengikat tali yang tersisa ke kepala ranjang.
"Sakit? Bukankah mati lebih sakit. Akan aku tunjukkan kepadamu, bagimana sakit yang sesungguhnya!" Bentak Jackson, lalu menciumku dengan rakus, ada kebencian di balik ciuman rakus dan kasarnya.
Jackson menggigit bibirku, hingga aku meringis sakit, darah segar mengalir dari sudut bibirku yang Jackson gigit.
Aku merasa sangat jijik pada Jackson yang sekarang ini. Seluruh tubuhku jadi kaku saat tangan nakalnya merem*a gundukkan yang tereskpos. Aku terdiam dan hanya bisa memelototi Jackson.
Jackson menatapku dengan tersenyum, "Masih punya nyali juga?"
Tok, tok, tok ....
Seorang pembantu mengetuk pintu. Jackson menyingkir dariku, lalu membuka sedikit pimtu.
__ADS_1
"Tuan Jackson. Di luar ada Tuan Hadden ingin bertemu dengan Tuan," ucap pembantu itu memberitahu kalau Hadden kemari.
"Suruh pengawal untuk mengusirnya," kata Jackson yang tidak ingin bertemu dengan Hadden.
Setelah itu, Jackson yang masih berdiri di dekat pintu, menatapku dengan mata tajamnya. Aku mengalihkan pandangan tak ingin bertatapan dengan pria kejam sepertinya.
Tak lama, suara pintu terkunci terdengar. Aku di kunci di dalam kamar seharian. Sedangkan Jackson pergi keluar, mungkin ke ruangan kerjanya.
Di kamar seorang diri, aku menatap ke sembarang arah. Cukup lama aku sendirian di kunci di kamar. Hingga akhirnya Jackson kembali. Aku tak ingin menatap ke arah pintu. Kudengar langkah kaki Jackson mulai mendekat.
Seharian Jackson tidak meninggalkan Spring Mansion sama sekali. Apalagi masuk kantor ke PT. Samudera Raya. Aku tau kenapa Jackson melakukan itu, apalagi kalau bukan, tidak ingin memberi kesempatan bagi Hadden untuk menyelamatkanku. Dan juga berjaga-jaga bila pembantu berhati lunak dan melepaskanku.
Jackson benar-benar ingin membuatku tidak punya pilihan lain, selain tetap berada di sisinya sebagai wanita simpanan.
Cukup lama aku tak lagi mendengar suara apa pun. Aku pun menoleh ke arah Jackson. Ternyata, dia telah tidur di sofa.
Aku menatap Jackson lama, dia sangat tampan dan damai ketika terlelap. Namun, kenapa dia menjadi iblis ketika membuka mata. Dan dia sangat kejam kepadaku. Aku kembali terisak, semakin lama terikat, tanganku terasa sangat perih. Apalagi kepalaku sangat berat, sangat pusing. Tapi tidak bisa di bawa terlelap.
Sekitar 20 menit kemudian barulah Jackson terbangun. Dia mendekat, kemudian melepaskan ikatan di tanganku.
Aku masih tak ingin memandang wajah Jackson. Melihat wajahnya apalagi matanya, aku sudah seperti melihat hantu. Sangat menyeramkan dan menakutkan.
Tanganku membekas jadi biru karena darah yang tidak bisa mengalir dengan lancar. Aku merasa sangat sedih.
"Kamu tidak akan bisa mengancamku lagi, Cecilia," ucapnya membuatku pasrah dan terdiam.
Tidak lama kemudian, pembantu masuk mengantar bubur hangat untukku.
Entah kenapa aku merasa sangat mual kala wangi dari bubur itu tiba di indera penciumanku. Perutku terasa seperti diaduk-aduk, ada sesuatu yang terus meronta ingin keluar, hingga akhirnya aku langsung muntah hebat karena mencium bubur itu.
__ADS_1
Bukannya membantuku, Jackson malah menatapku heran "Sudah berapa lama?"