Terjerat Nafsu CEO Miliarder

Terjerat Nafsu CEO Miliarder
Bab 28


__ADS_3

Lalu mendekatkan wajahnya ke wajahku, menguasai bibirku tanpa dapat aku tolak. Malam hari yang sunyi dan perasaan campur aduk, racun detak jantung dan suhu tubuh yang mematikan.


n*fsu Jackson semakin membuncah, aku benar-benar tidak dapat menghindar. Aku tidak sekali pun membalas ciumannya, tapi dia terus mengeksplorasi di dalam sana.


Krucuk-Krucuk!


Suara yang berasal dari perutku. Suara yang terjadi akibat adanya pergerakan oleh organ dalam perut, seperti lambung, usus besar dan usus kecil. Dalam ilmu medis, suara ini disebut Borbogimi yang berasal dari bahasa Yunani. Dalam bahasa Indonesia berarti gemuruh, atau bagi orang awam sering disebut Krucuk-Krucuk. Sampai saat ini belum diketahui pasti apa yang menyebabkan perut berbunyi saat lapar mau pun saat kenyang. Tapi yang pasti suara itu bukanlah suara cacing yang minta makan, melainkan pergerakan organ dalam perut. Namun, tidak perlu khawatir, karena suara Krucuk-Krucuk dari perut mengartikan bahwa perutmu normal.


"Suara perutmu?"


"Maaf, Tuan. Saya lapar."


"Terima kasih ya Tuhan. Terima kasih perutku, suara krucukmu menyelamatkanku." Batinku berteriak senang.


"Kalau begitu saya akan ke dapur dulu untuk membuatkan makan malam. Tuan tetap di sini saja." Ujarku langsung bangkit dari rengkuhannya, lalu berlari menuju dapur.


"Huh! Tadi itu hampir saja. Kalau begini terus berbahaya untukku. Dia lagi ngapain, ya. Nggak ngejar aku sampe dapur'kan?" Ucapku yang kini sudah berada di dapur. Sedangkan Jackson masih berada di ruang tamu.


"Ah biarkan saja dia. Lebih baik aku masak lebih dulu, ya ampun aku lapar sekali." Ujarku langsung membuka kulkas, mengambil dua potong daging segar berbentuk pipih bulat lonjong, dengan warna merah segar.


Tak lupa aku juga mengambil daun kale sebagai pelengkap. Tak perlu banyak-banyak berpikir, aku segera mencuci bahan utama. Lalu menghidupkan kompor dengan api sedang, menuangkan sedikit minyak zaitun.

__ADS_1


Seerrr! Seerrr!


Suara minyak yang menolak kehadiran daging, namun mereka tetap kembali menyatu satu sama lain. Menyempurnkan daging yang tadinya mentah, kini daging sudah berubah menjadi makan terlezat dan terpopuler yang bernama steak.


Heeeem ....


"Wangi sekali. Aku sudah seperti chef saja." Ujarku bangga akan hasil karyaku.


"Tinggal dimakan," uacpku lagi ketika menyajikan dua porsi steak ke atas meja.


"Si Tuan Jackson lagi ngapain, ya? Aku harus memanggilnya untuk di ajak makan," sambungku agak ragu. Berjalan menjinjit, aku menuju ruang tamu.


"Apa merindukanku, Hem?"


"Tuan mengagetkan ku," ujarku yang memang begitu terkejut saat Jackson tiba-tiba memelukku dari belakang.


"Apa itu yang nyundul-nyundul? Ah, pria ini selain kejam juga mesum!" Teriakku dalam hati.


"Tuan, ayo kita makan dulu, saya sangat lapar," pintaku dengan mata berbinar.


"Makan dulu, memangnya setelah makan kita akan melakukan apa?"

__ADS_1


"Sial, pria ini sangat pandai membolak-balikkan pernyataanku," Kesalku kembali membatin.


"Tuan, saya sangat lapar. Tolong izinkan saya makan, kalau tidak saya akan menyusul temen saya yang kini sekarat." Jawabku memohon.


Akhirnya Jackson melonggarkan pelukannya, lalu melepaskanku, aku berjalan cepat menuju ruang makan meninggalkannya yang juga mengekor dibelakangku. Entah seperti apa ekspresinya melihat kekakuanku ini, terserah saja padamu wahai tuan Jackson.


"Silahkan, Tuan." Ucapku ramah.


Dia langsung duduk dan dengan lahapnya menyantap steak yang ku masak.


"Bagaimana rasanya, Tuan? Enak bukan?" Tanyaku berbasa-basi.


"Tidak enak," jawabnya membuatku tercengang.


"Seharusnya Tuan bisa sedikit berbohong kepadaku," jawabku kesal sambil memotong daging dengan kasar.


"Aku lebih menyukai tubuhmu daripada daging ini," sautnya membuat tanganku lemas seketika. Aku menaikkan padandanganku menatap mata tajam itu yang kini kembali menusuk hingga ke dalam hati.


"Pria ini ternyata sangatlah mesum. Entah sisi apalagi yang dia sembunyikan selama ini." Batinku heran.


Setelah acara makan selesai, kini aku duduk di ruang tamu tepat disampingnya. Aku ragu untuk waktu yang lama, aku bertanya dengan hati-hati. “Tuan Jackson mau nginap?”

__ADS_1


__ADS_2