
"Di bagian bawah sini, Sayang," jawab Jackson sambil menunjuk ke arah bawah sana tepat pada senjatanya yang masih terbungkus celana.
"Di ba-wah sana, yang be-nar saja?" Tanya Nata terbata-bata.
"Iya, Sayang. Dia menggigit senjataku. Ah, apa yang harus aku lakukan sekarang? Bagaimana kalau senjataku mati rasa? Bagaimana kalau senjataku tidak lagi berfungsi? Bagaiamana caraku untuk memuaskan Istriku nanti?" Jackson menjatuhkan tubuhnya berbaring di sofa seraya mengapit kedua pangkal pahanya seakan menahan sesuatu yang sangat sakit.
"Astaga, kamu bicara apa Sayang? Tunggulah di sini, aku akan panggilkan Dokter untukmu!" Tegas Nata akan segera keluar dari kamar.
Baru selangkah Nata berjalan, tapi langkahnya seketika berhenti kala mendengar ucapan Jackson yang mengatakan kalimat—yang mampu membuatnya merasa tidak rela.
"Sayang, di pulau ini hanya ada dr. Perempuan. Bagaiamana mungkin kamu merelakan perempuan lain menyentuhnya? Ah, gatal sekali aku akan menggaruknya saja!" Ujar Jackson sengaja ingin mengerjai Istrinya sendiri.
"Ah, kamu benar juga sayang. A-aku juga tidak rela milikmu di lihat perempuan lain, walau hanya dr. Dera sekali pun," jawab Nata segera berbalik badan dan segera duduk di samping Jackson yang masih terbaring di atas sofa.
__ADS_1
"Ah, gatal sekali sayang. Bagaimana ini? Aku sudah menggaruknya tapi tetap saja masih sangat gatal," keluh Jackson.
"Jangan! Jangan menggaruknya lagi, Sayang. Kalau begitu aku saja yang akan mengoleskannya salep ini. Sebentar aku buka celanamu dulu," Nata mendekat, meraih resleting celana Jackson dan mencoba membukanya dengan perlahan.
"Pelan-pelan saja, Sayang. Hati-hati terjepit, ah, kenapa gatal sekali? Semut sialan!" Jackson benar-benar mengerjai Nata. Lihatlah bagaimana dia bisa berakting se-apik itu tanpa membuat Nata merasa curiga sedikit pun.
"Jangan langsung ditarik, Sayang! Dia sudah berdiri, tekan dulu agar tidak terjepit resleting!"
"Baiklah, aku akan berhati-hati. Aku sudah biasa melakukan ini," jawab Nata benar-benar menekan pelan senjata Suaminya yang telah mengeras sempurna.
"Tenanglah," ujar Nata panik.
Beberapa detik kemudian, Nata pun berhasil membuka resleting celana Jackson.
__ADS_1
"Angkat sedikit pahamu," titah Nata dan Jackson pun segera mengangkat pahanya. Ketika Jackson telah mengangkat pahanya, Nata pun langsung menurunkan celana yang Jackson kenakan.
Begitu selesai, Nata menelan saliva. Bagaimana pun, ini adalah pertama kalinya dia akan memegang dan menyentuh senjata Suaminya. Ya, selama dirinya hamil besar, Nata tak lagi pernah menyentuh senjata Suaminya itu. Jacksonlah yang selalu memanjakannya. Dirinya hanya perlu meyinding dan membuka kedua paha saja.
6 bulan berlalu, dan inilah pertama kalinya dia akan kembali menyentuh benda keras itu. Meski sudah biasa melihatnya, entah kenapa Nata masih saja merasa asing serta gugup.
"Ada apa, Sayang?"
"Ti-tidak ada apa-apa," jawab Nata menggelengkan kepalanya, Jackson hanya dapat menahan tawa melihat pemandangan malu-malu Istrinya yang begitu menghibur dirinya.
"Cepat buka cd-ku, Sayang. Sangat gatal," keluh Jackson sengaja ingin mendesak Nata.
"Ba-baiklah, akan aku lakukan!" Jawab Nata segera melepaskan CD berwarna hitam milik Jackson, dan terlihatlah sebuah benda mirip Terong tapi tidak ungu, mirip pisang tapi tidak lembek, mirip jagung tapi rambutnya tidak pirang, mirip ular tapi tidak berbisa dan mirip ekor buaya tapi Suaminya bukan buaya.
__ADS_1
Nata mengedipkan mata beberapa kali—kala menatap benda aneh Istimewa itu. Benda perkasa yang mampu membuatnya tak berdaya itu kini telah berdiri tegap seakan siap untuk bertempur.
"Apa yang kamu lihat, Sayang. Ayo, segera periksa!"