
Malamnya, aku dan Angela jalan-jalan ke acara festival di kuil. Festival budaya paling meriah yang diadakan setiap tahunnya, dan digelar pada bulan April. Festival ini bertujuan untuk kesuburan hasil bumi, kelancaran hubungan pernikahan, dan kemakmuran bisnis di tengah ribuan lingga dari semua ukuran, bentuk hingga warna.
Festival yang dinamakan Shimin Matsuri (festival rakyat) ini bertujuan untuk menghidupkan perekonomian daerah dan tidak berhubungan dengan institusi keagamaan.
Aku dan Anggela dengan semangat megikuti arak-arakan mikoshi. Membuat permohonan dan juga membeli Lentera. Setelahnya, aku dan Anggela mencari beragam jajanan nikmat yang banyak dijual di festival itu.
Saat kami sedang menikmati bakso bakar, Anggela mendapatkan telpon dari sang Suami yang meminta dirinya untuk kembali. Anggela terpaksa harus pulang, dan aku sangat tidak rela. Karena waktu berharga seperti sekarang ini, sangat jarang terjadi.
"Apa tidak bisa nanti saja pulangnya. Kita bahkan belum bersenang-senang," kesalku cemberut.
"Dia sudah di jalan, sebentar lagi akan datang." Jawab Anggela sambil melahap bakso bakar yang ada dihadapannya.
"Memangnya ada urusan apa? Sampai-sampai harus merebutmu dariku," Kesalku masih tidak rela.
"Aku juga tidak tau, tapi yang pasti, dia itu sangat romantis. Dia juga begitu baik padaku, jadi aku tidak bisa untuk mengatakan tidak atas apa pun yang dia inginkan," jawab Anggela memuji Suaminya.
"Romantis, sudah tua juga tetap romantis," gumamku terkikik.
"Apa?"
"Tidak, bukan apa-apa," jawabku menggelengkan kepala. "Sepertinya, Suamimu itu ingin anu denganmu," ledekku membuat Anggela menyenggol bahuku.
"Jangan bercanda," saut Anggela.
"Berduaan di dalam kamar, anggur, lingerie, dan—"
"Apa? Memanganya kenapa? Kamu iri, ya? Ayo, kapan kamu dan Tuan Jackson berduaan di dalam kamar," kini giliran Anggela yang meledekku.
"Itu sudah—"
"Nona, Tuan sudah menunggu," seorang pengawal memotong ucapanku yang belum selesai.
__ADS_1
"Ah iya, baiklah. Cecil, aku pergi duluan, ya. Dadah, muach," pamit Anggela lalu pergi bersama dengan pengawal yang menjemputnya.
Sekarang tinggal aku sendiri di festival itu. Aku merasa sepi di tengah keramaian, aku menggigit bakso bakar dengan kasar untuk menyuarakan kekesalan.
Derrt!
Ponselku berdering pertanda ada panggilan yang masuk, dan aku segera menatap layar terang nan pipih itu.
"Jackson menelpon, ah orang ini mengganggu ketenanganku saja," Kesalku mengerutu.
"Iya, hallo tuan Jackson," Sapaku mendekapkan benda pipih itu di telinga kanan.
"Dimana?" Tanyanya begitu pelit kosakata.
"Aku ada di festival Matsuri di kuil xxx, Tuan." Jawabku jujur.
"Dasar pria aneh," Kesalku ketika Jackson memutuskan panggilan sepihak. Aku kembali fokus melahap bakso bakar dengan kasar. Belum selesai aku mengunyah makanan di dalam mulut, ponselku kembali bergetar pertanda ada pesan yang masuk.
Aku meraih ponselku yang aku letakkan di atas meja, lalu membaca sebuah pesan yang masuk.
Isi pesan : Aku di depan kuil.
Aku diam terpaku di tempat, bahkan aku tak sangup untuk mengunyah makanan di mulut. Dengan kasar aku langsung menelannya, lalu minum air putih dengan cepat, tak lupa memberikan selembar uang berwarna merah kepada penjual. Tak kuhiraukan teriakkan sang penjual yang memanggilku, sepertinya ingin mengembalikan sisa kembalian. Tak peduli, aku tetap saja terus berlari keluar melewati lautan manusia.
Tiba di halaman kuil, aku berhenti sejenak, membungkukkan tubuh dengan kedua tangan di paha agar tubuhku tetap seimbang. Dengan rakus aku menghirup oksigen kemudian menyeka keringat yang bercucuran di wajahku.
Merasa lebih baik, aku mengangkat kembali tubuhku, pandanganku lurus ke depan. Di seberang sana, tampak Jackson keluar dari mobil Lamborghini dengan kacamata hitam melindungi matanya. Aku menelan Saliva bersusah payah—kala pesona ketampanan Jackson membuat jantungku berdetak tak beraturan, bunga-bunga bermekaran di dalam hatiku, aku seakan terbang di udara.
Bukan hanya aku yang terpesona akan ketampanan Jackson, tapi juga semua pengunjung yang berada di depan kuil. Semua perempuan yang ada di sana melemparkan senyuman manis ke arah Jackson. Bahkan ada yang hampir menabrak tiang saking fokusnya melihat Jackson.
Aku perlahan berjalan ke arah Jackson, tiupan lembut angin membelai rambut indahku, menembus kulitku, membuat rasa dingin aku dapatkan.
__ADS_1
"Tuan," sapaku ketika sudah berada tepat di hadapannya.
"Kamu bersenang-senang di sini," ujarnya dengan seukir senyum smirik di wajah arogan itu.
"Aku hanya ingin berdoa, Tuan. Ada urusan apa Tuan mencariku?"
"Dokumen yang kamu inginkan ada di dalam mobil," jawabnya kembali dengan wajah serius.
"Terima kasih, Tuan Jackson," jawabku senang seketika.
"Lebih baik aku ajak dia bersenang-senang, siapa tau dapat mengurangi wajah kakunya itu," batinku berkata.
lalu kami berdua jalan-jalan di kuil karena akan ada acara tarian. Jackson menjepit rokok di mulutnya dan terdiam. Aku berdendang sambil mengelilingi Jackson, Jackson sangat senang dan mengeluarkan sebuah kartu dari dalam jaket kulitnya. Jackson menggoyangkan kartu itu di hadapanku. “Lumayan juga tarianmu.” ujarnya membuatku semakin semangat meliukkan tubuh menggoda Jackson.
"Jackson, kamu mungkin tidak mencintaiku, dan aku tidak mungkin bisa memilikimu. Asal bisa bersama denganmu. Maka, biarkan tetap begini, aku yang akan bersama denganmu walau tanpa status," batinku pilu.
"Apa hanya uang, Tuan. Apa tidak ada hal lain yang ingin Tuan berikan kepadaku?" Tanyaku sambil menari.
"Aku memberimu uang karena kamu menyukai uang." Jawab Jackson langsung menangkap tubuhku lalu memelukku dengan erat.
"Apakah Tuan mau menjadikan aku simpanan?" Tanyaku dengan manja.
"Kamu mirip seseorang." Jawab Jackson penuh arti.
"Benarkah? Siapa?" Tanyaku membelai pelan garis rahangnya. Jackson tidak menjawab dan aku pun berkata, “Aku bukan tandingan Tuan Jackson dalam hal strategi, tapi aku sangat menyesal menerima request dari Nyonya Baldev karena tidak mengetahui kemampuan diriku sendiri.” jawabku dengan suara menja, namun mata berkaca-kaca.
Jackson memandang ke kejauhan, dari awal Jackson tahu kalau aku tidak bermaksud jahat terhadapnya. Malah sebaliknya, aku yang dimanfaatkan Jackson agar dia bisa pisah dengan Istrinya.
__ADS_1
Setelah selesai menonton pertunjukan, Jackson mematikan rokoknya dan membawa aku pergi. Aku merasa tidak ada pria lain yang lebih menarik selain Jackson.