Terjerat Nafsu CEO Miliarder

Terjerat Nafsu CEO Miliarder
Bab 67


__ADS_3

67


Keesokan paginya, aku terbangun dan tidak melihat di mana keberadaan Cecilia. Aku panik, sangat panik. Napasku seakan terasa sesak, aku terus berlari, kasak-kusuk mencari di dalam kamar mandi, setiap sudut kamar. Tapi, tetap saja aku tidak menemukan keberadaan Cecilia sama sekali.


Ceciliaku tidak ada di kamar, aku menyadarkan diri akan hal itu. Keluar dari kamar, masuk ke dalam lift dan turun ke bawah.


"Di mana Cecilia?" Tanyaku panik pada pembantu.


"Nona Cecilia berada di taman belakang, Tuan. Ada pada pengawal juga yang menemaninya," jawab pembantu ramah.


Mendengar itu, aku pun kembali tenang. Cintaku kepadanya semakin hari semakin besar, hingga aku tidak bisa mengontrol diri. Ini bukanlah aku yang biasanya, aku berubah menjadi lelaki yang entah seperti apa sekarang ini. Apa peduliku, yang penting dia harus tetap berada di sisiku apa pun yang terjadi.


Aku kembali berlari pelan menuju halaman belakang. Tiba di sana, benar saja, dia tengah duduk di sebuah kursi yang terbuat dari besi berpola bunga matahari. Persis seperti buang yang kini tengah mekar mengelilingi kursi itu. Dia berjemur di bawah terik matahari pagi. Dia berada di tengah-tengah, sedangkan dua pengawal berada di samping kiri dan kanannya. Kulihat dia menengadah ke atas, menikmati sinar matahari yang menyinari dirinya.


"Selamat pagi, Tuan," sapa kepala pengawal.

__ADS_1


"Apa dia sudah lama di sana, Alex" Tanyaku mengabaikan sapaan Alex. Alex adalah salah satu orang kepercayaanku.


"Sudah, Tuan. Saya sudah mengajak Nona untuk kembali dan sarapan. Tapi, dia menolak. Nona bilang, dia akan kembali dan sarapan jika Tuan yang menjemputnya langsung."


Aku kembali mengabaikan Alex, dan langsung berjalan cepat menuju tempat Cecilia berada. Tiba di sana, aku memberi kode meminta para pengawal untuk pergi. Setelah mereka pergi, aku duduk tepat di samping Cecilia yang masih betah menengadah.


"Tuan datang," ucapnya tanpa melirikku.


"Apa yang kamu lakukan di sini? Apa kamu sedang menyusun rencana untuk pergi lagi dariku?"


"Ke mana saya akan pergi? Ke akhirat saja tidak berhasil saya lakukan. Apa lagi bila hanya pergi ke luar kota atau pun negeri. Ke lubang semut sekali pun, Tuan masih dapat menemukan saya. Jadi, ke mana saya akan pergi?" Ujarnya terdengar sang pilu hingga mampu menusuk hati.


"Wanita simpanan atau pelakor. Tidak adakah pilihan lain, seperti Istri sah misalnya. Huh, bukankah hidupku terlalu berat. Di depan sana, tidak ada akhir yang terlibat bahagia."


"Tetaplah di sisiku, setidaknya itulah yang terbaik."

__ADS_1


"Apakah Tuan akan menyayanginya dan tidak membedakannya?" Setetes buliran beningnya jatuh, dia menangis sambil mengelus perut datarnya. Aku mengerti maksudnya.


"Tentu saja, bukankah dia darah dagingku."


"Bisakah Tuan buktikan?"


"Apa kamu menginginkan sesuatu? Katakan saja."


"Aku ingin pergi yang jauh, bisakah Tuan mengabulkannya?" Tanyanya membuat aku tanpa sadar mencengkram dagunya kuat.


"Aku tidak bahagia, aku tidak bahagia hidup bersama, Tuan. Aku sangat sakit," ujarnya dengan bersusah payah. Aku segera melepaskan tanganku yang mencengkram dagunya. Warna merah membekas di sana.


"Sungguh menyedihkan hidupku. Aku di siksa tapi tidak ada satu pun orang yang bisa membantuku. Aku hidup seorang diri, tidak punya satu pun anggota keluarga. Dari kecil aku sudah menderita, menjadi pelakor membuatku bahagia, ada beberapa orang yang menyayangiku, seperti Angela dan Nasa. Aku tidak lagi menderita selama menjadi pelakor, hidupku berkecukupan. Tidak lagi kelaparan, tidak lagi tidur di bawah jembatan, tidak lagi dikejar-kejar orang jahat. Cukup sedih karena penderitaan dulu kembali aku rasakan. Rasanya sangat lelah, sangat lelah hingga aku ingin mengakhiri segalanya." Dia terlibat sangat rapuh dan menyedihkan.


"Menjadi simpanan juga akan membuatmu bahagia, bukan?"

__ADS_1


"Bahagia untukku, tapi tidak untuknya. Memikirnya menderita, aku akan menderita berpuluh-puluh kali lipat darinya," dia kembali mengelus perutnya.


"Aku tidak akan membiarkanmu pergi."


__ADS_2