Terjerat Nafsu CEO Miliarder

Terjerat Nafsu CEO Miliarder
Bab 54


__ADS_3

"Kita mau ke mana, Tuan?" Tanyaku yang kini berada di samping Jackson. Kulihat Jackson tetap fokus menatap jalan raya di depan sana dan mengemudi dengan serius, terlihat semakin tampan. Lagi dan lagi aku terpesona dengan ketampanannya, sepertinya imanku benar-benar lemah hingga dapat dengan mudah—tergoda dengan pria berwajah malaikat berhati Iblis seperti Jackson.


"Istirahatlah, perjalanan kita masih jauh. Nanti kamu akan tau kalau sudah sampai," jawab Jackson melihatku sesat lalu kembali fokus mengemudi.


Aku mencebikkan bibir kesal karena Jackson tak memberitahu ke mana dia akan membawaku. Namun, aku memilih patuh dan tidur dengan nyaman. Setidaknya aku merasa senang karena Jackson mengerti aku masih kelelahan karena ulahnya tadi malam.


Entah sudah berapa jam perjalanan. Tapi, Jackson membangunkanku ketika telah berada di luar kota, tepatnya di resort pribadi miliknya, yang berada di pinggir pantai.


"Tuan, kita—" aku melihat Jackson dengan raut wajah penuh tanya. Jackson hanya mengangguk membuatku bingung.


"Kita akan meeting di tempat ini, Tuan?" Tanyaku heran.


"Dasar bodoh," geram Jackson mencubit hidungku hingga memerah.


"Sakit, Tuan!" Kesalku menghentakkan salah-satu kaki sambil mengelus hidungku.


"Kamu memang bodoh. Ayo masuk!" Ajak Jackson lalu menarik tanganku dan masuk menuju sebuah resort penginapan yang berada di pinggir pantai.


Begitu mewah dan megah, di lokasi khusus yang indah nan luas itu, hanya terdapat satu rumah berukuran sedang dengan desain tradisional yang penuh unsur seni.


"Apa kita akan menginap di sini, Tuan?" Tanyaku lagi ketika kami telah berada di ruang tamu penginapan. Aku duduk di sofa yang terbuat dari rotan.


"Tentu, apa kamu tidak suka?"


"Tentu saya sangat senang, Tuan. Tapi ... Bukankah kita tidak membawa pakaian?" Tanyaku bingung.


"Tidak perlu pakai baju juga tidak apa-apa, aku juga suka kamu tidak pakai apa-apa, lebih cantik, seksi, dan menggoda. Lagi pula ini resort pribadiku, tidak akan ada yang berani datang tanpa seizinku." Jawab Jackson santai lalu melipat kakinya duduk di sampingku.


"Tuan jangan gila! Kalau tiba-tiba ada yang nyasar bagaimana? Bagaimana kalau dia melihat tubuh indahku ini? Apa Tuan mau ganti rugi?"


"Apakah harganya juga satu miliar?" Goda Jackson sambil merem*s salah satu gundukkanku.


"Tuan jangan macam-macam. Bukankah kita ini liburan, mari kita bersenang-senang di luar sana." Aku bangkit demi menghindari kebuasan Jackson.


"Baiklah, ganti dulu pakaianmu." Ujar Jackson ikut bangkit, lalu melepaskan celananya.


"Tuan mau apa?" Tanyaku langsung mengambil ancang-ancang.


"Apa? Kita akan bermain di pantai. Tentu aku hanya akan mamakai cd," ujar Jackson.


"Oh ... Lalu saya bagaimana, Tuan? Saya tidak punya baju renang." Keluhku.


"Ya kamu telanj*ng saja,"

__ADS_1


"Tuan!" Teriakku sambil menyilangkan kedua tangan di dada.


"Masuklah ke dalam kamar, di lemari ada banyak pilihan bikini, kamu bisa mamakai yang manapun kamu suka. Cepatlah, aku tunggu di luar." Ujar Jackson lalu ke luar.


Aku berjalan cepat masuk ke dalam kamar, begitu membuka pintu, aku berhenti sejenak. Aku tercengang kala melihat kamar itu begitu indah. Ada banyak kelopak bunga mawar di mana-mana. Ah, kenapa tempat ini terkesan seperti tempat pasangan berbulan madu. Aku menggelengkan kepala cepat—kala bayangan akan menghabiskan malam bersama Jackson di ranjang memenuhi pikiranku.


Aku terburu-buru menuju lemari, membukannya dengan cepat. Bola mataku seakan keluar karena kaget akan isi di lemari itu. Di dalamnya hanya ada tiga pilihan bikini yang semuanya memiliki lubang kecil. Kalau saja aku kenakan, tentu semua bagian sensitif tubuhku akan terlihat. Apa bedanya dengan tidak memakai bikini. Jackson benar-benar gila.


Aku meraih salah satu bikini berwarna merah, warna kesukaanku. Cantik sekali, namun apa daya dia terlalu terbuka. Ha, sudahlah, lagi pula tubuhku bagian mana yang tidak Jackson lihat. Daripada mendapat hukuman darinya, lebih baik aku turuti keinginannya.


Dengan segala rasa keterpaksaan, aku pun memakai bikini itu. Aku menuju kamar mandi berharap menemukan jubah mandi di sana. Aku tersenyum sambil melompat-lompat gembira kala menemukan jubah mandi berwarna putih. Dan aku gunakan jubah mandi itu untuk menutupi tubuhku yang telah terbalut bikini kurang bahan yang seski.


"Tuan, saya sudah siap," ucapku.


"Ternyata kamu tidak sebodoh yang aku kira." Imbuh Jackson..


"Sudah pasti, kalau saya bodoh, mana mungkin Tuan akan tergoda." Sautku menerima uluran tangan Jackson.


Jackson membawaku sambil berlari menuju pantai di sana. Aku kaget kala ada sebuah kapal pesiar di sana. Jackson membawaku masuk dan kini kamu sudah berada di dalamnya.




Jackson memaksaku untuk melepaskan jubah mandi ketika kapal pesiar sudah berlayar. Tentu aku menolak keinginan Jackson, ada beberapa pengawal pria di sana, tentu aku tidak akan memenuhi keinginannya.


"Sekarang sudah aman," ujar Jackson.


Aku tak menjawab, tapi aku menggelengkan kepala sambil menatap tiga orang pelayan perempuan yang berdiri di samping kami.


"Kalian juga masuklah," usir Jackson dengan mata tajamnya yang kesal. Tiga orang pelayan itu pun masuk tanpa berkata apa-apa.


"Bukalah sekarang, jangan menguji kesabaranku." Kesal Jackson membuatku pasrah karena tidak lagi menemukan alasan yang tepat.


"Begitu lebih baik," ujar Jackson tak puas memandang tubuh polosku. Tentu saja polos karena bikini sialan itu.


"Matamu ke mana-mana wahai Tuan Jackson," Kesalku dalam hati.


Tak dapat aku hindari, pergelutan panas terjadi di tempat itu.


"Tuan, ini bukan kamar. Saya mohon jangan di sini. Tolakku halus.


"Tidak ada siapa pun yang akan dapat melihat," ujar Jackson meraih sebuah remot lalu menekan tombol berwarna merah. Tak lama kemudian, sebuah kaca raksasa berbentuk bulat menutupi tempat aku dan Jackson berbaring.

__ADS_1


"Akan buram bila melihat dari luar, tapi kita tetap bisa melihat dengan jelas dari dalam." Jelas Jackson membuatku pasrah—kala dia kembali mengukung tubuhku.


"Pelan-pelan saja, Tuan. Berhenti berbuat kasar," keluhku saat Jackson dengan buasnya memberi tanda kepemilikan di sekujur tubuhku.


"Baiklah," jawab Jackson membuatku lega. Pria ini punya hasrat yang sangat tinggi, jika saja tidak aku ingatkan, sudah dapat dipastikan aku akan kembali merasakan perih hingga kesulitan berjalan.


"Ah ah, Jackson faster." Pintaku tanpa sadar.


Jeckson tersenyum bangga, lalu dia pun mengikuti keinginanku.


"Ahh, sa-kit, ahh, Jack, hem ...." Erangku tanpa henti ketika Jackson semakin mempercepat gerakannya.


Entah sudah berapa lama Jackson menguasai tubuhku di dalam kaca raksasa itu. Yang pasti, dia tetap tidak mendengarkanku ketika meminta sudahi. Rasa perih harus kembali aku rasakan, Jackson benar-benar buas. Sangat berbahaya bila saja aku menikah dengannya. Astaga, apa yang aku pikirkan. Menikah dengan Jackson, itu sesuatu yang sangat mustahil terjadi.


Setelah pergelutan berakhir, Jackson memasangkan kembali jubah mandi padaku. Lalu, Jackson meminta pelayan yang berdiri di koridor untuk mengantarku ke kolam berendam.


Pelayan memberi isyarat agar aku mengikutinya. Aku pun berdiri lalu berjalan dengan perlahan dan bersusah payah.


"Em, pelayan, tunggu sebentar, ya, aku ingin ke toilet itu sebentar saja." Aku membuat alasan untuk ke toilet dan diam-diam kembali ke tempat semula.


Aku berhenti di koridor dan mendengar percakapan Jackson dengan Jenny. Aku kaget karena Jenny juga ada di kapal ini.


Jenny berkata, ”Tuan Jackson, aku tidak berguna sampai Peter sudah mulai mencurigaiku. Malam itu aku masuk ke ruang baca dan hampir berhasil, Peter terbangun dan menangkap basah keberadaanku. Aku berusaha keras dan berhasil membuatnya percaya, tapi Peter mengunci ruangan belajarnya sejak itu. Lalu bagaimana dengan rencana anda?”


Jackson tiba-tiba melihat Jenny.“Bagaimana pendapatmu tentang Cecilia?”


Aku menyipitkan mata dan merinding seperti ada air es yang menyirami badanku.


Jenny juga terpaku, Jackson tersenyum, “Bagaimana kalau menghadiahkan Cecilia pada Peter? Cecilia itu pelakor kelas kakap dan lebih hebat darimu.”


.


.


.


.


Jangan lupa like, komen, hadiah yang banyak, juga vote-nya, ya, sayang semua 😘😍😍


Komen yang banyak juga menarik ya, nanti yang paling banyak komen dan menarik, bisa ss ke Othor. Nanti komenan kalian kirim ke Othor saat novel ini tamat. Dua orang komen terbanyak akan mendapatkan novel cetak my boss is my husband gratissssss😱🙌😍😍


Syaratnya yang utama, tentu dia harus reader yang benar-benar membaca karya ini, ya🙌💞

__ADS_1


Visual Cecilia ganti ke ini ya guys🙈😍



__ADS_2