Terjerat Nafsu CEO Miliarder

Terjerat Nafsu CEO Miliarder
BAB 11


__ADS_3

"Sial! Aku rasa Bianca tidak akan melepaskanku kali ini." Umpatku langsung masuk kembali kedalam ruangan Jackson.


Keesokkan harinya


"Hallo Nyonya Baldev. Aku ingin mengatakan sesuatu kepada Nyonya." Ucapku kepada ponsel.


"Ada apa Nona Sesil. Katakan saja apa yang ingin kamu bicarakan," jawab Nyonya Baldev.


"Nyonya, aku tidak sengaja bertemu dengan musuh bebuyutan. Dia mengancamku, karena hal ini, aku sudah membuat keputusan untuk tidak bisa melanjutkan misi kali ini." Jawabku jujur.


"Aku bisa mengatasinya bila ini mengenai uang." Jawab Nyonya Baldev.


"Tidak Nyonya. Ini bukan tentang bayaranku atau tentang menyuap musuhku. Dia tidak akan melepaskanku, karena yang dia inginkan bukanlah uang tapi nyawaku, Nyonya." Tuturku sedikit ketakutan. Bagaiamana pun aku juga tidak ingin mati sia-sia. Apalagi Nasa sedang tidak ada bersamaku. Nasa pergi ke Inggris karena dia juga mendapatkan misi dari Gengster mafianya.


"Kau bisa saja untuk tidak lagi melanjutkan misi ini. Tapi jangan harap untuk hidup tenang. Karena aku tidak akan membuatmu hidup tenang." Ancam Nyonya Baldev.


"Apa maksud Nyonya?" Tanyaku.


"Coba saja kau batalkan transaksi, tapi aku akan menyebarkan vidio dan potomu saat bersama Jackson. Bukan itu saja, aku akan mengungkap wajah aslimu ke media." Ancam Nyonya Baldev membuatku menelan salivanya bersusah payah.


"Sial, kenapa malah aku yang terjebak. Apa yang harus aku lakukan. Bila menolak misi ini, sama saja aku menyerahkan diri ke polisi. Tapi bila aku melanjutkan misi kali ini, aku yakin Bianca akan melakukan segala cara untuk menghancurkan aku. Tapi setidaknya aku masih punya Jackson sebagai bekengian. Setidaknya aku masih bisa bersembunyi di belakang Jackson." Batinku


Setelah berbagai macam pertimbangan, akhirnya aku memutuskan untuk melanjutkan misi. Selama masih ada Jackson bersamaku, tidak ada yang berani melakukan apa-apa kepadaku sekarang.


Aku mengeluarkan foto yang kuambil di kolam renang secara rahasia dari laci. Jackson sangat waspada, tidak ada wajah depannya di antara foto-foto yang ada, juga tidak ada tindakan yang dia lakukan secara inisiatif. Jelas di Poto ini akulah yang berinisiatif.


Ini jugalah yang membuat aku merasa Jackson sangat menakutkan, dalam kondisi seperti itu, dia masih bisa menyadari arah kameranya serta menghindar dengan akurat.


Aku memutuskan untuk memberitahu Zea adanya foto tersebut, Zea sangat senang.


"Kau serius? Bagus. Besok kirimkan poto-poto itu kepadaku." Jawab Nyonya Baldev senang.

__ADS_1


"Baik, Nyonya." Jawabku.


"Oh iya, kau mengikuti meeting kemarin bukan. Ceritakan padaku bagaimana sikap Jackson kepada Andreas?" Tanyanya antusias. Aku kebingungan, aku tidak tahu kenapa Nyonya Baldev mengungkit Andreas.


"Tuan Andreas teman Nyonya? Sepertinya mereka punya perbedaan pendapat." Nyonya Baldev hanya diam dan tidak banyak bicara.


***


Aku tiba di lapangan tembak, Jackson berdiri di lapangan tembak berjarak 200 mΒ², menarik pelatuk dan menembak tepat di tengah target.


Hadden turun dari atas ke bawah untuk menilai kemajuan tembak Jackson kalau dia pasti berusaha sangat keras. Jackson tidak mau mengalah, keduanya kembali membahas kasus akuisisi.


"Nona Kiya, kemarilah." Pinta Hadden.


"Ada apa Tuan Hadden memanggil saya?" Tanyaku dengan memamerkan senyuman paksa.


"Cobalah," pinta Hadden sambil mengulurkan pistol berjenis colt kepadaku.


"Tidak apa-apa Nona Kiya. Mari saya ajarkan." Ucap Hadden langsung berdiri di belakangku bersiap untuk mengajariku.


"Pria sialan!" Umpatku dalam hati.


Ini pertama kalinya bagiku untuk menembak, aku agak gugup, Hadden memanfaatkan kesempatan untuk mengusikku. Dia menempelkan badannya di punggungku, belakang leher, rambut, dan menggodaku dengan mesra.


Terakhir Hadden memberikanku kode.


"Jackson tidak tahu caranya menyayangi wanita. Aku mengerti saat ini Nona sedang membutuhkan bekingan yang kuat sebagai tempat berlindung. Jackson tidak akan berguna dalam hal ini. Aku lebih bisa diandalkan daripada Jackson." Ucap Hadden lantang dan pastinya terdengar oleh Jackson.


"Ck! kau bahkan belum bisa mengalahkanku dalam hal apa pun." Sela Jackson.


"Aku menginginkannya. Apa yang kau inginkan agar bisa memberikan Nona Kiya kepadaku?" Tanya Hadden menawarkan Jackson.

__ADS_1


"Sayang sekali, Nona Kiya adalah perempuan bodoh, tidak pintar, dan tidak penurut." Jawab Jackson.


"Pria ini, masih saja bisa merendahkanku!" Umpatku dalam hati.


"Tidak perlu itu semua untuk menjadi wanitaku. Bagiku cantik saja sudah cukup," saut Hadden.


"Kiya, pergilah dan buatkan teh." Titah Jackson padaku. Aku tau dia menggunakan alasan untuk menyuruhku keluar.


"Maaf, Tuan Hadden. Aku masih ingin tetap tinggal di sisi Jackson. Tampan juga masih menjadi prioritas utamaku." Jawabku lalu pergi.


"Sepertinya menang dariku masih menjadi mimpimu yang masih belum terwujud hingga saat ini." Ucap Jackson tersenyum licik.


Hadden mengerutkan dahinya.


"Apa maksudmu?" Tanyanya.


"Angkasa grup berkhianat kepadamu. Kau memberikannya 1 triliun, tapi dia juga menerima satu triliun dariku. Dari propil kecerdasanku dan kamu. Tentu saja dia akan memilihku. Dan akulah pemenangnya."


Setelah pergi, Jackson menarikku ke dalam mobil, "tidak cukup hanya denganku sampai kamu ingin mengundang Hadden?"


***


Maaf up nya telat. Othornya lagi dropπŸ˜ͺ


yang like sama yang komen beda jauh ya, tapi makasih banyak yang udah komen, Othor selalu baca kok komenan kalian, apalagi yang komennya panjang banget. terharu banget bacanya. Terim kasih Sudah support novel ini. semoga kalian sehat selalu.


Othor juga minta maaf ketypoan yang tiada Tara. maklum ini pertama kalinya Othor nyoba buat cerita pake POV 1 (aku). jadi maafin kalau terkada suka POV Sesil kadang nyasar jadi POV AuthorπŸ™


Othor minta semangatnya dong. sumbangkan kopi atau nawarnya, votenya juga ya. sepi juga ini lapakπŸ˜’πŸ™πŸ™πŸ™


lopeeeee all reader 😍😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2