Terjerat Nafsu CEO Miliarder

Terjerat Nafsu CEO Miliarder
Bab 75


__ADS_3

"Sial!" Umpat Jackson yang kaget melihat berkas pentingnya sudah tak lagi berada di dalam brangkas rahasianya.


Jackson berlari, keluar dari ruangan itu lalu menuju meja kerja. Mengutak-atik komputer sebentar lalu muncullah rekaman cctv yang menampakkan jelas adegan di mana Sekretaris Clara mengambil berkas itu.


"Sekretaris Clara, beraninya dia mengkhianatiku!" Teriak Jackson kembali menyibak semua yang ada di atas meja.


"Hallo, cari dan bawa Clara kehadapanku sekarang juga!" Bentak Jackson pada pengawalnya.


***


Empat tahun berlalu, ada bagitu banyak perubahan yang terjadi kepada Jackson. Termasuk penampilannya yang kini lebih dewasa dengan kulit lebih eksotis serta brewoknya yang mampu membuat setiap wanita terpesona.

__ADS_1


Kini, pria yang tampak masih muda di usia matang itu, tampak semakin terlihat berkuasa, kala duduk tepat di hadapan para bawahannya.


"Maaf, Tuan Jackson. Saya menghormati prestasi anda dalam mengembangkan perusahaan ini. Tapi, bukankah ini sudah terlalu lama, Tuan bukanlah pemegang saham tertinggi, bukan juga pewaris sah PT. Samudera Raya. Saya rasa, ini saatnya untuk Tuan menyerahkan perusahaan ini kepada saya. Walau saya hanya memegang saham 15%, tapi saya rasa, saya lebih berhak daripada Tuan. Siapa pemilik 55% saham memang masih menjadi misteri. Sebagai pemegang saham tertinggi kedua, saya merasa ini saatnya untuk Tuan mundur dari jabatan sebagai Presdir," jelas seorang pemegang saham ditengah-tengah rapat bulanan.


"Benar. Kami setuju, ini saatnya Tuan Jackson mundur, karena Tuan Jackson sudah tidak lagi punya hak atas PT. Samudera Raya," sautnya yang lainnya menyetujui.


Suasana menjadi semakin tegang, saat Jackson menanggapi pendapat mereka dengan senyuman smiriknya—yang mampu membuat udara di ruangan menjadi dingin. Semua yang ada di sana mengucurkan keringat dingin.


"Tidak bisa begini Tuan Jackson! Saya pemilik saham terbesar kedua. Saya lebih berhak daripada anda!" Saut pria paruh baya itu dengan nada suara menininggi.


"Kalau bisa, singkirkan aku," lawan Jackson tetap santai.

__ADS_1


"Lihat saja, aku pasti akan menyingkirkanmu!" Bentaknya sambil menunjuk-nunjuk wajah Jackson.


Tahun ini, adalah tahun terakhir Jackson menjadi presidir di PT. Samudera Raya. Siapa Presdir periode berikutnya? Akan kembali dipilih beberapa bulan ke depan. Sistem perusahaan seperti itulah yang membuat Jackson masih menjadi Presdir hingga saat ini. Namun, tidak tau dua bulan ke depan. Bila pemilik saham tertinggi muncul, maka, tidak akan ada lagi kesempatan untuk Jackson memimpin PT. Samudera Raya.


Setelah kepergian semua staff, Jackson mengepalkan tangannya. Emosinya tentu mumuncak karena dia sangat yakin bahwa Hadden-lah yang merebut dan memiliki saham terbesar miliknya. Dan Jackson juga sangat yakin, kalau Hadden akan muncul di saat yang tepat. Yaitu, saat ulang tahun perusahaan yang akan berlangsung minggu depan.


Jackson tak lagi peduli dengan PT. Samudera Raya. Malah, Jackson sangat menantikan hari itu, karena Jackson menduga kalau Cecilia ada bersama Hadden. Jika Hadden muncul, maka Cecilia juga akan muncul, Jackson sangat menantikan hari itu. Hari di mana dia akan kembali bertemu dengan wanita yang paling dia rindukan. Walau hanya dugaan, entah kenapa Jackson begitu yakin akan dugaanya.


Sore harinya, Jackson pulang sendiri dengan mengendarai mobilnya. Karena tidak fokus, Jackson pun menyetir terlalu ke tepi hingga hampir menabrak pembatas jalan. Tak hanya itu saja, Jackson juga tak sengaja menabrak seorang anak kecil yang kira-kira berusia 5 tahun.


"Astaga, sialan?" Umpat Jacskon segera turun dari mobilnya guna menghampiri anak kecil yang kini terjatuh di aspal jalan. Jackson segera mengangkat tubuh anak kecil yang masih tampak kaget.

__ADS_1


__ADS_2