Terjerat Nafsu CEO Miliarder

Terjerat Nafsu CEO Miliarder
TNCM S2


__ADS_3

"Apa?" Tanya Nata kaget.


"Iya, Nat. Kita ada urusan mendadak, jadi terpaksa harus nitip Kabut di sini sama kamu dan Jackson. Kamu nggak keberatan, kan?" Saut Nasa menjelaskan pada sahabat yang kini menjadi keponakanya itu.


"Tentu, Bibi Nasa. Tentu aku nggak masalah sama sekali kalau Kabut dititipin di sini, malah aku akan senang. Tapi, Paman sama Bibi mau pergi ke mana?" Tanya Nata penasaran.


"Ada pekerjaan yang harus kita selesaikan berdua. Nggak akan lama kok, begitu selesai kita pasti akan langsung balik lagi ke sini." Pertanyaan Nata di jawab oleh Sang Paman Hadden.


"Perginya sekarang?"


"Iya, Sayang," jawab Hadden.


"Kenapa buru-buru sih? Kan Paman sama Bibi baru aja tiba tadi malam. Masak iya langsung pergi hari ini, nggak jalan-jalan dulu sama aku," ujar Nata manja.


"Jalan-jalan ke mana di pulau terpencil begini?" Sambung Hadden bertanya seraya menyantap sarapannya.


"Ke pantai, kita dinner bareng di pantai."


"Lain kali aja deh, Nat. Urusan penting ini harus diselesaikan secepat mungkin biar cepat selesai. Nanti kalau udah pulang kita pasti jalan-jalan bareng, kok. Tapi, sebelum itu, aku minta kamu jagaian Kabut, ya." Pinta Nasa mengambilkan sarapan untuk Putranya Kabut.


"Urusan Kabut, Bibi tidak perlu khawatir. Apa Bibi lupa aku adalah Mommy-nya Kabut juga. Benar, kan, Sayang?" Tanya Nata pada Kabut yang mulai menyantap makanannya.


"Hu'um ... Eh, no kiss. Aku sudah gede, sudah kelas satu SD," cegat Kabut saat Nata akan mencium pipinya.

__ADS_1


"Tidur aja masih minta di peluk, gede dari mananya?" Goda Nata.


"Mommy tidak mengerti, ini urusan laki-laki," jawab Kabut menggemaskan di usianya yang sudah menginjak enam tahun.


"Baiklah-baiklah, Mommy harus patuh pada anak laki-laki yang tampan ini," ujar Nata menarik hidung mancung Kabut dengan gemas.


"Ini sarapanmu, Sayang," ucap Jackson seraya meletakkan satu gelas besar susu rasa Strawberry dan semangkuk nasi merah.


"Makasih, Sayang." Saut Nata tulus.


"Kamu makan itu, Nat?" Tanya Nasa heran.


"Dia ngidamnya begitu. Selama hamil makanya cuma susu dicampur nasi," Jackson yang menjawab pertanyaan Nasa.


"Enak, kok. Paman mau coba?" Tawar Nata dan Hadden pun menggeleng cepat.


"Memangnya Nasa tidak ngidam aneh begini?" Tanya Jackson penasaran.


"Nasa ngidamnya tidak begitu." Jawab Hadden kembali melahap sarapannya.


"Lalu apa? Mangga?" Sambung Nata juga penasaran.


"Ngidamnya berbeda dengan wanita hamil pada umumnya," Jawab Hadden menggelengkan kepala kala mengingat ngidam Istrinya yang membuatnya tak habis pikir.

__ADS_1


"Apa?" Tanya Nata dan Hadden bersamaan.


"Latihan menembak seminggu dua kali, panjat tebing setiap pagi. Skydiving sekali saat usia kandungan 4 bulan dan masih banyak kegiatan ekstrim lainnya," jawab Hadden memijit pelan keningnya kala mengingat masa sulit itu.


"Be-benarkah? Apa tidak apa-apa itu dilakukan wanita hamil?" Tanya Nata yang tercengang mendengar penuturan Hadden.


"Iya. Itu benar, kok." Jawab Nasa seakan tak berdosa.


"Mommy-ku memang keren," puji Kabut mengamgkat dia jempol untuk Sang Mommy.


"Ngidamnya seorang mafia girl memang beda dari yang lain," ujar Nata kagum.


"Itulah kenapa aku sangat pandai menembak dari balita. Karena belum lahir saja aku sudah pandai," ucap Kabut membanggakan dirinya sendiri.


"Kamu memang luar biasa, Sayang. Apa cita-citamu? Ah, Mommy Nata yakin kamu akan menjadi penerus Ayahmu. Seorang ketua mafia yang ditakuti seluruh negara. Waw, bukankah keren sekali," tutur Nata membayangkan Kabut dewasa yang tampan dan mampesona.


"Mommy jangan sembarangan bicara. Aku tidak ingin menjadi mafia seperti Ayah juga Ibu." Jawab Kabut santai penuh wibawa.


"Benarkah? Jadi, kamu mau jadi apa besar nanti?"


"POLISI." jawab Kabut santai.


"APA!" Teriak Hadden, Nasa, Nata juga Jackson bersamaan.

__ADS_1


__ADS_2