
“Aduh sakit .…” ringisku manja. Erwin langsung berjalan ke hadapanku sambil memandangi tubuh menggodaku. Dia menatapku dengan tatapan seperti binatang kelaparan.
Erwin mengira sudah menabrakku, Aku segera memanfaatkan kesempatan untuk mulai menggoda Erwin.
"Apa Nona terluka?" Tanya Erwin sambil memelukku dari samping.
"Sepertinya kakiku terkilir. Ah, sial sekali nasibku hari ini, diputusin pacar sekarang malah terkilir dan tidak bisa berjalan," keluhku berakting menyedihkan.
"Sebelumya saya minta maaf karena telah membuat kaki Nona terkilir. Saya berjanji akan bertanggung jawab dengan cara memijitnya juga membuat Nona bersenang-senang dan saya pastikan Nona akan melupakan kesedihan nona hari ini." Tawar Erwin membuatku begitu jijik.
"Cik! Suami macam apa ini?" Umpatku dalam hati. Entah semua lelaki memang buaya, atau aku yang terlalu mempesona. Yang pasti, menggoda mereka semua sangatlah mudah. Kecuali Jackson.
"Bagaimana kalau 60 juta untuk seminggu?" Ujarku memberikan harga murah.
Erwin merasa kegirangan karena bisa bersenang-senang dengan wanita cantik dengan hemat. Dia segera memelukku dan menggendongku. “Aku punya kamar suite di atas, ada bathub yang besar dan kita bisa mandi bersama.”
"Ide yang bagus," jawabku menggoda.Aku naik ke atas bersama Erwin, dengan digendong.
"Ayo kita mandi bersama," ajaknya sambil mengeryangi tubuhku.
__ADS_1
"Bagaimana kalau Tuan duluan, aku akan menyiapkan kejutan untuk Tuan," jawabku mencari alasan.
"Aku menuggu kejutan darimu, Sayang," jawabnya, kemudian berlalu masuk ke dalam kamar mandi.
Selagi Erwin mandi, aku mencari cara untuk menjebak Erwin. Aku tersenyum senang kala orang suruhanku sudah mendapatkan foto saat aku dipeluk, digendong hingga masuk kedalam kamar. Untuk privasi, photografer yang kusewa hanya menampakkan wajah Erwin, sedangkan wajahku tertutupi. Dengan bukti yang diperlukan, aku segera keluar dari kamar, dan aku segera meninggalkan kota itu dan pulang malam itu juga.
Beberapa hari berlalu begitu saja. hari ini aku membuat janji dengan Nyonya Tina untuk bertemu. Aku mengendarai mobil menuju tempat kami bertemu. Begitu sampai, aku langsung masuk ke dalam restoran. Lambaian tangan Nyonya Tina menyambutku ketika tiba di dalamnya.
"Maaf sudah membuat Nyonya menunggu lama," Sapaku lalu duduk di hadapann Nyonya Tina.
"Tidak Nona, memang saya yang datang lebih awal karena terlalu bersemangat," ujar Nyonya Tina ramah.
"Ini buktinya, Nyonya. Dengan bukti ini, saya yakin Nyonya akan menang dalam sidang perceraian nanti," ujarku begitu yakin.
Nyonya Tina menggeleng, “Nona Cecilia, Erwin sangat kejam dan dia mengancamku hari ini. Dulu ada pelakor yang menipunya dan dia langsung mematahkan kaki wanita itu sampai cacat selamanya. Saya takut, Nona," ucapnya menundukkan wajah dalam.
Aku tidak tega melihat kondisi Nyonya Tina. Dan akhirnya, aku mengeluarkan uang 60 juta yang aku dapatkan dari Erwin semalam, dan uang itu aku berikan pada Nyonya Tina, karena bagaimana pun, Nyonya Tina lebih berhak.
"Apa ini, Nona?" Tanya Nyonya Tina heran.
__ADS_1
"Jaga diri Nyonya baik-baik. Pakaialah uang itu untuk kebutuhan Nyonya kedepannya."
"Terima kasih banyak, Nona cecilia. Saya berjanji akan membalas budi baik nona suatu hari nanti." Saut Nyonya Tina.
"Sama-sama Nyonya. Sesama manusia sudah seharusnya saling membantu. Kalau begitu saya pulang lebih dulu, karena masih ada urusan yang harus saya selesaikan." Pamitku.
"Baiklah, Nona Cecil. Sekali lagi terima kasih," aku mengangguk sopan, kemudian langsung keluar dari restoran.
Aku mengemudikan mobil ke klinik kecantikan. Sudah lama tidak memanjakan diri, membuatku ingin melakukannya sekarang. Sekalian pemulihan akibat ulah Jackson. Tiba di klinik aku langsung memarkirkan mobil, kemudian segera masuk ke dalamnya. Begitu masuk, aku langsung disambut oleh beberapa pelayan, karena sudah langganan aku langsung diantar menuju tempatku biasanya.
Aku ingin memulai dengan pijitan seluruh tubuh. Akhir-akhir ini tubuhku terasa begitu kaku. Aku diantar masuk ke dalam ruangan khusus pijit. Dan betapa terkejutnya aku kala melihat seseorang wanita yang aku kenal juga berada di sana.
Wanita itu menyipitkan mata lalu mengenaliku, “Kamu Cecilia?”
Emosiku langsung memuncak. walaupun aku berusaha menahan, tapi api amarahku terus melonjak keluar. Brigita, wanita ini adalah musuh terbesar dalam hidup hidupku. Dia adalah dalang dari semua yang terjadi kepadaku. Termasuk pekerjaan yang kini aku lakukan, semua ini karena perempuan ular Brigta. Aku sangat membenci wanita satu ini, dia adalah induk musuhku, dia adalah musuh terbesar dalam hidupku, dan aku tidak akan melepaskannya.
"Kamu wanita ular!" Teriakku mendekat padanya. Aku ingin memberinya pelajaran, tapi aku masih bisa menahan diri. Namun, sekuat apa pun aku menahan diri, aku tak mampu ketika adegan di masa lalu terputar begitu saja di pikiranku.
Aku dan Brigta mulai bertengkar dan akhirnya berkelahi. Sama seperti dulu, Brigita bukan tandinganku dan tidak sanggup menghadapi seranganku yang kejam. Sudut mata Brigita tercakar oleh kuku-ku dan berdarah.
__ADS_1
Brigita emosi, “Berani sekali menyentuhku! Pacarku adalah pejabat pemerintah! Kamu jangan merasa hebat karena ada Jackson yang melindungimu, Jackson bukan siapa-siapa tanpa keluarga Liandra! Aku ingin lihat dia sehebat apa,kamu tunggu saja masuk penjara!”