
"Bagaimana?" Tanya Jackson singkat.
"Semua normal dan baik-baik saja, Tuan. Hanya mungkin Nona akan sering merasakan nyeri di kedua pay*daranya. Untuk masalah itu, saya akan mengajari Tuan cara memijatnya. Apa Tuan bersedia?"
"A-apa!?" Sentak Nata kaget.
"Tentu saja, tentu saja saya bersedia," jawab Jackson antusias.
"Ta-tapi—"
"Sudahlah, Sayang. Tenang saja, aku ahlinya soal pijat memijiat. Tidak hanya atas, sampai bawah aku juga ahlinya. Kamu tidak perlu meragukanku," potong Jackson cepat.
"Tapi aku ... Dokter Dera, ajari aku sendiri saja. Aku bisa melakukannya sendiri, lagipula hanya memijat bagian ini saja, bukan?" cela Nata yang tek setuju bila Jackson yang memijat pay*daranya.
"Tidak apa-apa, Nona. Lebih baik Tuan Jackson saja yang melakukannya, itu baik untuk Nona, Karana dapat memberikan efek yang bagus. Dengan Tuan Jackson yang memijatnya, Nona akan lebih merasa rileks," jelas dr. Dera membuat wajah Nata berubah pucat dan tampak pasrah.
"Apanya yang rileks? Bukankah itu akan membuatku semakin depresi," ujar Nata dalam hati.
"Bagus, Dera." Batin Jackson seraya mengedipkan sebelah matanya dan dibalas acungan jempol secara diam-diam oleh dr. Dera.
"Bonus menanti!" batin Dr. Dera berteriak senang.
"Tuh, Sayang. Ikuti saja apa kata dr. Dera, dia adalah Dokter yang hebat, tidak mungkin salah," Jackson mendekat dan duduk di pinggir ranjang sebelah kanan.
"Ayo Dokter Dera, ajarkan aku bagaimana caranya memijat yang benar dan tepat?" Jackson melepaskan kancing kemeja yang ada di tangannya, menyingsing lengan baju itu perlahan hingga tampaklah otot-otot tangannya yang kekar.
"Baiklah, Tuan," dr. Dera duduk di pinggir ranjang sebelah kiri.
"Maaf, Nona. Selimutnya saya singkap dulu," sambung dr. Dera meminta izin lebih dulu.
"A ... Anu, Dokter ... Anu ...." gagap Nata.
"Iya, Sayang. Kita akan Anu nanti malam. Sekarang kita cari solusi untuk nyerimu dulu, ya." Bujuk Jackson membantu dr. Dera menyingkirkan selimut yang membungkus gundukan Nata—hingga selimut itu tergeletak tak berdaya di lantai. Melemparkan selimut sepertinya adalah keahlian seorang Jackson Baldev.
Meski setiap hari melihat gundukan Istrinya yang menantang, tetap saja si junior masih tak terbiasa. Jelas dia terus berontak ketika melihat benda kenyal itu.
"Bagaimana caranya, Dera?" Tanya Jackson telah siap lahir dan batin.
"Begini, Tu—"
"Tu ... Tunggu dulu!" sergah Nata.
"Ada apa lagi, Sayang?"
"Itu ... Tutupi wajahku," pinta Nata memejamkan mata guna meminimalisir rasa malu.
"Baiklah, jika itu membuatmu merasa aman dan nyaman," ujar Jackson mengambil baju Nata yang agak transparan agar Istrinya itu masih leluasa bernapas.
"Apa sudah bisa dimulai, Nona?" Tanya dr. Dera.
__ADS_1
"I-iya, lakukan pelan-pelan," pinta Nata yang wajahnya telah tertutup. Melihat hal itu kedua manusia jail hanya bisa menahan tawa.
"Ayo mulai, Dera!" Titah Jackson tak sabaran. Bagaimana pun, menyentuh, meraba, termasuk memijat adalah bagian yang suka dia lakukan kepada tubuh ideal Istrinya.
"Begini, Tuan. Kita baluri dulu dengan minyak zaitun," terang Dokter Dera memulai langkah pemijatan.
Jackson menuangkan beberapa tetes minyak zaitun pada gundukan Istrinya yang sebelah kanan. Dia melakukannya persis seperti yang dr. Dera lakukan.
"Selanjutnya?"
"Kemudian, mulailah memijat lembut dengan pola melingkar. Pelan saja, Tuan. Tidak perlu menggunakan tenaga," jelas dr. Dera.
"Begini?"
"Benar, Tuan. Memutar dari arah luar pay*dara menuju ke dalam. Bagus, lakukan sebanyak dua kali, lalu pindah lagi ke sebelah kiri. Begitulah seterusnya, pijat secara bergantian."
"Berapa lama?"
"Sampai Tuan puas," bisik dr. Dera mengukir senyuman penuh arti di bibir sensual Jackson.
.
.
.
Guys, ada rekomendasi novel terbaru dan seru bangat nih. jangan lupa mampir, ya, Guys😍😍😍
****
Bagaimana Arya tidak fokus ke arah bagian tubuh Anna yang menantang, dia hanyalah laki-laki normal yang terjebak dalam situasi yang sangat memungkinkan dirinya untuk terbangun gairahnya.
Apalagi Arya memang diam-diam mengagumi sosok sekretarisnya yang cerdas, cakap, pintar, perhatian, kadang sedikit manja meski tidak terlalu kentara, membuat dia lambat laun jatuh dalam pesona Anna yang menawan.
"Ehem," Anna berdehem saat sudah berhasil naik ke atas ranjang karena Bos di sampingnya masih fokus pada gunung kembarnya yang kini makin terlihat jelas.
Arya pun segera mengalihkan pandangannya ke arah lain dan mereka berdua bersiap tidur.
Keduanya tidak bisa memejamkan kedua mata mereka.
"Pak," panggil Anna lirih.
"Iya," sahut Arya cepat.
"Aku kira Bapak udah tidur, hehe," tawa Anna pelan.
"Belum kok. Aku nggak tau kenapa ga terlalu ngantuk," dan adik kecilku juga sekarang tidak bisa ditidurkan, lanjutnya dalam hati. "Kamu kenapa belum tidur juga?" tanya Arya balik.
__ADS_1
"Aku pun nggak bisa tidur, Pak."
Suasana hening sesaat.
"Pak,"
"An,"
Keduanya memanggil satu sama lain.
"Hahaha," tawa renyah pun terbit dari keduanya.
Kini mereka berdua saling berpandangan.
"Kamu mau ngomong apa, An?"
"Bapak tadi mau ngomong apa?" tanya Anna yang malah membalikkan pertanyaan.
"Aku cuma mau tanya kalau jam segini biasanya kamu ngapain kalau ga bisa tidur?"
Anna terlihat berpikir, "Aku ga pernah kayak gini sih, Pak. Ini baru pertama kalinya. Mungkin efek karna tidur seranjang sama lawan jenis."
"Kamu nggak nyaman sama kehadiran saya?" tanya Arya dengan nada bicara tidak enak dan juga tersirat getar kecewa karena Anna tidak nyaman berada dekat dengannya.
Anna langsung menyampingkan tubuhnya dengan gerakan yang panik. "Nggak, Pak. Aku nggak ngerasa kayak gitu kok." gelengnya kuat-kuat.
Arya pun ikut menyampingkan tubuhnya dan menghadap ke arah Anna.
"Lalu kalau bukan itu alasannya, trus karena hal apa?"
"Aku ini udah lama kehilangan sosok seorang ayah, Pak, dari jaman masih kecil, jadi aku tuh ngerasa kehadiran Bapak di samping aku kayak menggantikan sosok ayah. Gitu lho, Pak," jelas Anna yang malah membuat ngilu hati Arya karena dirinya hanya dianggap sebagai sosok ayah.
"Kenapa aku kok malah kecewa ya?" batin Arya.
"Aku pengen kayak anak gadis lain yang bisa curhat sama ayahnya pas mereka masih kecil. Makanya aku ga bisa eh lebih tepatnya ga mau tidur karena pengen rasain pengalaman yang sama."
"Ya udah kalau gitu kamu anggap aku sebagai ayah kamu aja." pasrah Arya meski dalam hati menangis pilu cuma dianggap ayah.
"Makasih ya, Pak," senang Anna yang dengan refleks memeluk laki-laki dewasa itu.
Serrr ....
Arya makin berkobar ga*rahnya saat anggota badan kenyal dan lembut milik Anna dengan sangat nyata dan terasa menempel pada tubuhnya.
Adik kecilnya yang sedari tadi dia usahakan untuk tidur kini malah semakin bertambah rewel ingin diluapkan segala hasrat yang tertahan.
"Eh, maaf, Pak," ucap Anna yang sadar kalau dirinya telah kelewatan batas.
Arya tak menjawab dan saat Anna ingin menjauhkan tubuhnya, tangan lelaki itu mencekal lengan Anna agar tak segera menjauh darinya.
__ADS_1
Keduanya saling bertatapan dengan sangat dalam dan karena memang sudah terbawa suasana wajah Arya mulai mendekati wajah Anna yang hanya berjarak beberapa puluh centi saja dari posisinya.
Lanjut baca di novelnya, ya, Guys🤗