Terjerat Nafsu CEO Miliarder

Terjerat Nafsu CEO Miliarder
Bab 26


__ADS_3

"Kak Jackson .…" ucapku sendu karena hampir kehabisan napas. Dengan sengaja aku menyebutkan panggilan itu untuknya, panggilan sendu yang sama ketika aku berada di bawah kukungan tubuh kekarnya, semalam.


Uhuk! Uhuk!


Aku terbatuk Ketika Jackson melepaskan leherku dan menghempaskan tubuhku kasar, hingga aku tersentak ke dinding badan mobil. Masih terbatuk aku memegangi leherku yang kini sudah memerah karena ulah Jackson.


Aku sangat ketakutan melihat Jackson yang kini berubah bak menjadi serigala yang siap mencabik-cabik kulitku. Aku perlahan meringsut ketika Jackson kembali mendekatiku dengan tatapan mata tajamnya.


Glek!


Bersusah payah aku menelan Saliva, saat Jackson kembali menjerat tubuhku hingga mentok di dinding mobil. Aku menundukkan wajah ketika tatapan elangnya kembali menusuk mata, membekukan hingga mengkristalkan hati.


Jarak wajahnya hanya seperkian senti dari wajahku, membuat dadaku sesak seperti tidak ada oksigen sedikit pun dalam mobil mewah itu. Aku dapat mencium aroma mint menyegarkan dari napasnya yang menderu. Aku menciutkan wajahku ketika mengira kalau Jackson akan kembali mencekik leherku.


Aku merasa lega—kala Jackson hanya mengangkat wajahku dengan lembut.


“Cecilia, aku sudah beri kamu kesempatan.” ujar Jackson kembali menggenggam erat daguku hingga membuatku kembali meringis.

__ADS_1


"Aku sudah memberikanmu kesempatan, dan kamu masih berani melawanku. Apa kamu bosan hidup hingga berbuat seperti itu. Dengar, Cecil. Apa yang kamu lakukan kini sangatlah sia-sia." Sambung Jackson tak melepaskanku sama sekali.


Aku sangat ketakutan. Tapi, karena Jackson masih terus menjeratku di sini, maka tidak lagi ada kesempatan untukku mengelak.


Sekarang hanya satu yang bisa aku lakukan yaitu, mengalah. Aku cukup mengalah, maka Jackson tidak akan sampai memaksaku semakin masuk ke jalan buntu.


"Tuan, sungguh, tidak ada sedikit pun niat untukku mengkhianati, Tuan. Tuan telah salah sangka kepadaku. Video, foto, dan apa pun itu, tidak akan aku berikan kepada Zea. Aku menggunakan cara seperti ini demi melindungi diriku sendiri. Aku hanya takut Zea akan melakukan cara lain untuk melukaiku, bila saja aku mengabaikannya, hiks ... Karena itulah aku mau menemuinya. Sungguh, aku tidak berniat mengkhianatimu, hiks, hiks," Aku membohongi Jackson dengan berlinangan air mata dan tampang sangat menyedihkan.


"Haruskah aku percaya pada mulut rubahmu ini!?" ucap Jackson yang tidak percaya sama sekali kepadaku.


"Rubah juga bisa merasakan sakit," balas Jackson menyeka darah di sudut bibirku dengan tangan satunya. Merasa geram dengan bibir ranumku, dia langsung ***** kasar bibirku.


"Hemp, Tuan." Aku berusaha mendorong dada kekarnya, kala hampir kehabisan napas. Tapi, percuma karena tenagaku tidak akan mampu menandingi tenaganya yang sangat kuat.


Huffff ....


Aku segera mengambil napas dalam ketika dia melepaskanku. Beberapa detik kemudian Jackson kembali ******* bibirku dengan tangannya yang berkeliaran mencari apa saja yang dapat dia rem*s.

__ADS_1


Dia tak melepaskan bibirku, tapi satu tangannya mulia akan melepaskan kancing bajuku.


"Emh ... Tuan, jangan di sini," cegatku menghentikan gerakan tangannya.


"Jadi maunya di ranjang, westafel, buthub, atau ruang tamu? Atau, kamu suka bermain di hotelmu?" Tanya Jackson sambil tersenyum licik.


"Bu-bukan begitu, ma-makksudku ...."


"Sial. Sudahku duga, pasti akan ada kali kedua, ketiga, dan seterusnya. Apa yang akan aku lakukan sekarang?" Batinku frustasi sambil mengancingkan kembali dua kancing yang berhasil Jackson lepas.


"Supir!" Panggil Jackson berteriak, membuatku kaget.


"Iya, Tuan." Jawab sang supir, lalu tanggap masuk ke dalam mobil tepatnya di bangku kemudi.


"Kemana, Tuan?" Tanya sang supir yang mulai menjalankan mobil dengan begitu halus.


"Klub xxxx"

__ADS_1


__ADS_2