Terjerat Nafsu CEO Miliarder

Terjerat Nafsu CEO Miliarder
Bab 57


__ADS_3

“Tuan Hadden, tolonglah aku," aku memohon kepada Hadden dengan menyatukan kedua telapak tangan.


Hadden berdiri lalu merapikan pakaian dan mengancingkan kembali kancing bajunya yang telepas. Hadden berjalan ke arah sofa.


"Duduklah dulu, Nona," ujar Hadden menepuk sofa di sampingnya. Aku berjalan ke arah Hadden dan duduk tepat di sampingnya.


"Apa yang terjadi Nona Cecilia?" Tanya Hadden.


"Tuan Hadden, aku tak sengaja mendengar pembicaraan antara Jackson dan Jenny. Aku mendengar dengan telingaku sendiri kalau Jackson ingin melemparkanku kepada Peter. Dia ingin membunuhku, aku tidak tau lagi apa yang harus aku lakukan saat ini selain meminta bantuan kepada Tuan Hadden. Jadi, aku mohon tolonglah aku Tuan. Aku mohon bantu aku untuk pergi dari Jackson, aku mohon," aku mengatakan semua yang kudengar tentang percakapan Jackson dengan Jenny.


Bibirku terasa kering dengan wajah pucat pasi, aku merasa kakiku begitu lemas.


"Aku mohon sembunyikan aku Tuan, aku mohon bawa aku pergi ke luar dari kota ini agar Jackson tak dapat menemuiku lagi. Aku akan memulai hidup baru di sana, aku mohon bawa aku pergi Tuan Hadden," Aku terjatuh berlutut dan terus memohon pada Hadden untuk membawa diriku keluar dari kota ini untuk memulai hidup baru.


Hadden membantuku berdiri sambil berkata, "Aku banar-benar tidak menyangka Jackson akan senekat ini."


Aku menengadah menatap Hadden, kulihat ada banyak keraguan di matanya, karena mungkin Jackson akan membuat perhitungan mati-matian dengan dirinya.


"Tuan, aku tau Tuan Hadden lebih hebat dan lebih pintar dari Tuan Jacskon. Aku yakin Tuan Jackson tidak akan berani pada Tuan. Apalagi Tuan adalah Paman dari Zae, untuk itu aku mohon tolonglah aku agar terlepas dari Jackson," aku terus berusaha meyakinkan Hadden untuk membantu.

__ADS_1


Hadden menyalakan sebatang rokok untuk berpikir sebentar. "Baiklah, ayo ikut aku," aku hanya mengikuti ke mana Hadden membawaku.


Saat sampai, aku baru menyadari kalau Hadden memutuskan membawaku ke mansion besar milik keluarga Liandra.


"Tuan Hadden," aku mencegat tangan Hadden saat dia menyuruhku untuk keluar dari mobil.


"Percayakan semuanya kepadaku, Nona Cacil."


Aku memutuskan untuk menuruti keinginan Hadden, entah apa yang akan dilakukannya nanti. Aku pasrah.


Masuk ke dalam Mansion besar itu, suara Peter yang sedang memarahi Jenny semakin terdengar.


"Tidak ada, Tuan. Saya melakukan semua ini karena memang saya sangat mencintaimu, Tuan."


Walaupun sudah ketahuan, Jenny tetap terus pura-pura mencintai Peter.


"Aaakkhh!" Teriak Jenny kesakitan saat Peter memukulnya sampai hampir pingsan.


Saat ini, kulihat Jackson berada di seberang pintu dan menyadari keberadaan Hadden, Jackson tersenyum, ”Hadden, kamu kok bisa ada di sini?”

__ADS_1


Hadden mengabaikan Jackson dan melihatku sekilas agar aku mengikuti dirinya ke ruang tamu.


Saat ini, Jenny menangis dengan semakin keras sambil berkata, "Baiklah, saya akan mengakui semuanya. Sebenarnya, Direktur Sutanto di PT Samudera Raya yang mengutusku, Sutanto ingin merebut posisi Tuan Jackson dan menugaskan saya di sisi Tuan Peter agar bisa menguasai PT Samudera Raya."


“Lancang!” bentak Peter, lalu memerintah beberapa pengawal untuk menyeret Jenny keluar.


Kulihat Hadden tercengang, tampak sekali di raut wajahnya, kalau dia tidak menyangka jika Jackson akan menggunakan trik ini. Karena Sutanto adalah pemegang saham ketiga tertinggi di PT Samudera Raya, dia adalah musuh bebuyutan Jackson.


Jenny tidak mohon ampun pada Peter juga tidak minta tolong pada Jackson. Jenny hanya menerima nasibnya sendiri.


Setelah tenang, Peter duduk di sofa kebesarannya. "Hadden, apa kau sudah tahu kalau berita tentang Jackson dan Cecilia yang tertangkap paparazi di kuil saat itu adalah benar dan bukan karena terpaksa. Bahkan Jackson menghabiskan banyak uang untuk menutupi berita tersebut."


"Benar atau tidak. Tapi, Cecilia memang sudah jujur kepadaku." Hadden sama sekali tidak tegang.


"Cecilia, sekarang katakan sekali lagi apa yang sebenarnya terjadi antara kamu dan Jackson." Hadden memintaku mengatakan apa yang terjadi.


Aku mengarti apa maksud Hadden, aku mulai memainkan peran. Mataku memerah lalu berkata, “Tuan Jackson yang memaksaku untuk menjadi simpanannya. Walau aku tidak setuju dan sudah bilang pada Tuan Jackson kalau akan timbul masalah besar jika sampai aku menjadi simpanannya. Tapi, Tuan Jackson tidak mendengarkanku. Dia malah memaksa dan mengancamku dengan mengatakan akan memecatku bila menolak keinginannya." Ucapku sambil menunjuk ke arah Jackson.


Jackson tidak berekspresi sama sekali, pandangannya setajam es di musim dingin.

__ADS_1


__ADS_2