Terjerat Nafsu CEO Miliarder

Terjerat Nafsu CEO Miliarder
TNCM S2


__ADS_3

"Mommy Daddy cepat pulang, ya," ujar Kabut kala melepas kepergian Hadden dan Nasa.


"Tentu, Sayang. Kamu jangan nakal, jadi anak yang baik dan nurut sama Mommy dan—"


"Om jahat," potong Kabut.


"Katanya sudah dewasa, kok manggilnya masih kekanakan gitu, Sayang," saut Nasa tak suka Putranya sembarang memanggil orang.


"Tidak apa-apa. Om jahat adalah panggilan khususnya padaku, itu tidak masalah," sambung Jackson.


"Ya sudah, kalau begitu kami pergi. Titip Kabut, Jackson, Nata." Ucap Hadden menggenggam tangan Nasa lalu masuk ke dalam jet pribadinya. Lambaian tangan Jackson, Nata dan Kabut melepas kepergian Hadden dan Nata. Kabut terlihat begitu keras kepala tetap ingin manahan tangisnya.


"Ayo kita masuk, Sayang," ajak Nata dan Kabut pun menganggukkan kepalanya.


Saat akan masuk ke dalam Villa, Jackson menatap Kabut yang terus melirik para pengawal yang tengah berlatih tembak.


"Kamu mau ikut berlatih menembak, Kabut?" Tanya Jackson.


"Kok, Om jahat tahu."

__ADS_1


"Ayo kita ke sana!" ajak Jackson.


"Beneran, Om?" Tanya Kabut antusias.


"Beneran dong. Sayang, kamu kembali sendiri tidak apa-apa, kan?" Tanya Jackson pada Istrinya. Nata pun mengangguk karena mengerti apa tujuan Jackson mengajak Kabut berlatih.


"Terima kasih, sayang. Setelah mengantarkan Kabut aku akan kembali," janji Jackson lalu pergi membawa Kabut untuk berlatih menembak sekaligus agar Kabut melupakan kesedihan di tinggal oleh kedua orangtuanya.


Nata menatap kepergian Jackson dan Kabut tersenyum manis. Namun, senyumannya berubah kecut kala mulai merasakan dadanya mulai terasa nyeri. Nata pun segera masuk ke dalam Villa dan langsung menuju kamarnya di lantai atas.


"Ah syukurlah Dokter Dera meninggalkan pompa Asi ini untukku," ujar Nata langsung membuka baju untuk memompa Asi-nya yang terus merembes.


"Aw! Kenapa memompa bisa sesakit ini?" Ringis Nata yang kini berusaha memompa Asi-nya dengan bersusah payah.


"Kamu ... Bukannya berlatih menembak bersama Kabut?" Tanya Nata pasrah.


"Aku hanya mengantarnya, Sayang. Dia aku titipkan kepada pengawal. Kamu lagi pompa asi, apa sakit lagi?" Tanya Jackson Nata hanya mengangguk dengan raut wajah tersenyum kecut.


"Biar aku yang lakukan, kamu bersandar saja," Ujar Jackson langsung meraih pompa Asi di tangan Nata.

__ADS_1


"Aku mulai, ya?" Izin Jackson dan Nata pun kembali mengangguk.


"Aw!" pekik Nata kesakitan.


"Maaf, Sayang."


"Tarik tuasnya pelan saja, sakit sekali kalau kuat," pinta Nata akhirnya menangis karena lagi-lagi harus merasakan sakit itu.


"Baik, Sayang," jawab Jackson kembali memompa lagi.


"Cukup, Sayang. Sakit sekali aku tidak tahan lagi. Kamu mau kan his*p lagi?" Tawar Nata langsung merebahkan dirinya cepat.


"Tentu, Sayang. Akan aku lakukan," jawab Jackson langsung menghis*p choco chip milik Istrinya.


Sepuluh menit berlalu, barulah Nata merasa baikan. Kini, Jackson mengoleskan minyak zaitun pada gundukan Istrinya. Setelahnya, Jackson memulai pijat dengan lembut persis seperti yang dokter Dera ajarkan kepadanya.


Nata pun merasa begitu menikmati hingga tanpa sadar terlelap dengan tenangnya. Melihat Nata yang telah tertidur pulas, Jackson meraih selimut dan menyelimuti seluruh tubuh Istrinya agar tetap hangat.


"Maafkan aku, Sayang. Aku berjanji tidak akan membuatmu Hami lagi, agar kamu tidak akan merasakan sakit ini lagi."

__ADS_1


Jackson mengecup kening Nata penuh kasih Sayang, tak lupa Jackson juga mencium perut buncit Nata. Setelahnya, Jackson kembali lagi ke tempat latihan menembak untuk menemani Kabut.


Jackson kembali menyusul Nata karena sebelumnya tak sengaja melihat raut wajah kesakitan Sang Istrinya kala masuk ke dalam Villa. Jackson tentu paham apa yang tengah dialami Nata, untuk itulah dia kembali demi membantu Istrinya itu. Dan sekarang, dirinya harus kembali lagi untuk melihat Kabut yang tadinya dia tinggalkan.


__ADS_2