
Arka tidak berhenti karena perkataannku itu.
Plaakkk!
Dia menampar wajahku, hingga aku merasa sangat panas dan sakit, tapi aku tidak peduli, sekarang yang ada di otakku adalah, Arka dan Jackson akan bermain kartu bersama. Saat ini aku harus bisa membujuk Arka agar hal yang sebelumnya tidak sampai ke telinga Jackson.
Aku sama sekali tidak takut pada Arka. Aku berdiri lalu merapikan rambut dan lipstikku.
"Aku adalah kesayangan Tuan Jackson. Sekarang, apa kau berani menyakitiku. Coba saja saja Menyentuhku kalau kalau kau berani." Ancamku membohonginya.
"Kau kira aku percaya!" Bentaknya padaku. Wajar bila dia tidak percaya padaku secepat itu. Aku yakin Arka mengenal Jackson, dia tau kalau Jackson tidak menyukai wanita. Mana mungkin dia percaya secepat saat aku mengatakan kalau aku adalah wanita Taun Jackson.
"Terserah padamu ingin percaya atau tidak. Tapi kau boleh Menyentuhku kalau kau ingin melihat sisi lain dari Tuan Jackson."
"Lihat saja penampilanku. Aku dibawa langsung olehnya ke tempat ini. Kau tau dia bukan, dia belum pernah membawa wanita ke tempat ini bukan. Bahkan Nyonya Zea Istrinya tidak pernah dia bawa ke tempat ini." Sambung ku mengarang cerita untuk mengelabuhi ya.
Aku yakin Arka tidak akan percaya dan pasti masih sangat mencurigaiku. Tapi aku berharap dengan cerita karangan ku ini dia terkelabuhi olehku. Dan benar saja, aku sangat beruntung ketika dia langung masuk kedalam ruangan tanpa mengancam ku ataupun memukul ku lagi.
Tapi hatiku tetap tidak tenang. Aku tau Arka, dia adalah pria pendendam. Aku yakin dia tidak akan melepaskanku. Tapi setidaknya dia tidak akan membocorkan aib-nya sendiri di depan umum. Bagaiamana pun kelakuannya juga sangat memalukan.
__ADS_1
Tiba didalam ruangan, Arka dan Jackson tampak saling menyapa seperti biasa. Aku berdiri di samping Arka dengan wajah kusut ku. Arka tersenyum sinis melirikku, sepertinya dia sangat senang melihat ku ketakutan dengan keringat dingin ku terus bercucuran.
Aku mendekat pada Arka, lalu melaksanakan tugasku menuangkan teh untuk Arka.
Namun, tiba-tiba saja Arka membuang teh yang aku taungkan untuknya. Lalu dengan santainya dia menghinaku dengan raut wajah liciknya.
"Dasar wanita murahan! Apa kau tidak bisa menuangkan teh dengan baik. Teh ini jelas masih panas. Oh iya, wajar sih kalau kau tidak becus. Kau kan memang adalah wanita yang tidak pandai melayani dengan baik dalam hal ini. Bisa mu hanya hanya melayani para pria di atas ranjang. Dan kau sangat handal dalam menipu para pria kaya sepertiku terutama Tuan Jackson yang menjadi terget mu kini." Ucap Arka menghinaku kasar.
Mendengar hinaa-nya, aku berusaha untuk tetap tenang dan tidak menggubrisnya sama sekali.
Aku melirik pada Jackson. Aku harap dia tidak mencurigai apa yang Arka katakan. Tapi aku salah, Jackson bukanlah orang bodoh. Dari raut wajahnya, aku bisa menebak isi hatinya yang mengatakan bahwa ada masalah yang tidak beres antara aku dan Arka.
"Sial!" Umapatku dalam hati.
"Hem, nama baru yang indah." Singgung Arka sambil menatapku sinis.
Kini, Arka terlihat kebingungan akan menjawab apa. Bagaimana pun, masa lalunya adalah aib yang akan membuat malu dirinya sendiri bila terbongkar.
"Saya mengenalnya, tapi tidak akrab." Jawab Arka membuatku menghela napas lega.
__ADS_1
"Kau mengenal Tuan Arka, kau cukup hebat. Tidak kusangka kau bisa dengan mudah mendekati seorang Tuan Arka." Tutur Jackson sambil menjalankan kartunya dengan santai.
Arka diam sambil berpikir menatap kartunya yang tersusun. Lalu dengan senyuman bahagia di mengeluarkan kartunya. Dia berpikir dia akan menang kali ini. Tapi perhitungannya salah, Jackson bukanlah lawan yang dapat dikalahkan dengan mudah. Dengan santai Jackson membuka kartunya. Dan pada akhirnya permainan Kartu kali ini, di menangkan oleh Jackson dengan hadiah uang sebesar 4 Milyar. Angka yang membuatku tercengang. Hampir saja bola mataku copot ketika melihat surat berharga yang begitu banyak digit nolnya.
"Ada peribahasa, jangan membangunkan macan yang sedang tertidur. Bagaimana menurut Tuan Arka?” Arka tampak terkejut. Tapi pada akhirnya dia kembali berkata.
"Saya hanya ingin mengingatkan Tuan Jackson untuk berhati-hati pada Nona Ki-ya." Jawabanya menekan nama samaranku.
Setelah permainan kartu berakhir. Kini, aku dan Jackson telah berada di dalam mobil.
Jackson langsung melontarkan pertanyaan pada ku.
"Apakah dulu kau pernah menggoda Arka?" Tanya Jackson.
Aku tidak tahan akan tekanan yang diberikannya dan akhirnya aku pun “mengakui”nya. Tapi, aku berbohong pada Jackson. Aku mengatakan,
"Dulu Arka pernah menggangguku. Dan aku sangat ketakutan padanya, Arka sangat murka dan tidak terima penolakanku. Dan akhirnya aku melaporkan hal itu kepada Istrinya. Sejak saat itu Arka jadi dendam padanku. Dan hingga saat ini dia masih ingin menggangguku." Jelas ku berbohong. Air mataku yang mengalir deras menjadi poin aktingku yang begitu menyedihkan. Usahaku tidak sia-dia, Jackson terlihat mempercayai keseluruhan karangan ceritaku.
"Siapa lagi yang pernah kau singgung?" Tanya Jackson padaku.
__ADS_1