Terjerat Nafsu CEO Miliarder

Terjerat Nafsu CEO Miliarder
Bab 27


__ADS_3

"katanya akan ke klub, ini kenapa malah pergi ke lestoran?" Batinku bertanya heran.


"Apalagi yang kamu tunggu? Apa mau melakukannya di dalam mobil?" Aku bergegas keluar dari mobil karena takut akan ancamannya. Rasa perih di sudut bibir dan juga panas dan hangat di leher masih aku rasakan. Sangat tidak nyaman rasanya.


Kekejaman Jackson benar-benar sangat menakutkan. Sangat berisiko tinggi bila menentang pria satu ini. Sekarang nyawaku ada di tangannya, sudah tidak mungkin lagi menghindar.


Kakiku satunya belum sempat menyentuh tanah, namun Jackson langsung menarikku dengan kasarnya. Aku tercengang sekaligus kagum kala memasuki gedung yang tadinya kukira adalah sebuah lestoran. Ternyata, hanya bagian depan dan satu ruangan pertama yang adalah lestoran, bahkan ada beberapa pelanggan yang makan santai dengan pakaian terbuka khas wanita malam.


Jackson menarikku menuju sebuah ruangan yang begitu luas dengan tiang besar disepanjang perjalanan. Semakin masuk, suara bising dari alunan dj mulai menjadi polusi bagi telingaku. Semakin mendekat, kelap-kelip indah lampu disko yang terus berganti warna menjadi petunjuk bahwa kini aku telah berada di sebuah klub malam yang sangat rahasia.


Klub malam xxxx adalah klub malam yang sangat rahasia, tempat dan keberadannya pun juga dirahasiakan. Klub ini hanya melayani klien yang sangat berkelas, seperti Jackson pastinya. Tidak semua orang kaya dan terpandang bisa berada di klub ini, hanya orang-orang khusus seperti Jackson yang dapat hadir di klub malam special ini.


Lalu, bagaiamana denganku, apakah aku termasuk orang special hingga bisa dibawa ke dalam klub ini. Ah, apa yang sedang aku pikirkan. Sangat tidak mungkin Jackson membalas cintaku, bukan? Pria seperti Jackson hanya akan menganggap uang, kedudukan, dan kehormatannya. Sangat tidak ada untungnya bila saja dia bersanding denganku


Aku melirik sekilas daftar tamu VIP, hanya ada nama belakang saja, tidak ada nama lengkap.


Jackson terus berjalan sambil menarikku hingga ke ruangan paling ujung. Di dalam ruangan telah duduk beberapa orang terpandang lainnya yang menatapku dengan tatapan menginginkan.


"Angin apa yang membawa Tuan Jackson datang kemari. Tumben-tumbenan sekali," seorang pria muda dengan wajah angkuh menyambut kedatangan Jackson.


Jackson berbasa-basi sejenak, lalu mereka kembali membahas perihal bisnis yang diakuisisi oleh Jackson sebelumnya dengan harga 1 triliun. Terakhir pria yang berada di sebelah berkata, "Di sebelah datang penari baru yang bagus. Apa tidak ada yang tertarik untuk bersenang-senang?" Mendengar pertanyaan itu, Jackson hanya tersenyum. Lalu melirikku penuh arti.


"Cecil, kamu bisa menari atau tidak?


"Sedikit, Tuan." Jawabku singkat.

__ADS_1


"Tarikan sebuah sebuah lagu di sini," titahnya dengan tatapan tersirat.


Aku memang sudah membuat Jackson marah hari ini, jadi tidak enak bagiku untuk menolak sekarang.


"Pelayan," panggilnya tanpa mendengar jawabanku lebih dulu.


"Bawa dia untuk berganti baju," titahnya pada seorang pelayan perempuan yang juga berpakaian terbuka.


Setelah berganti pakaian minim berwarna merah yang mengekspos bagian tubuhku. Aku pun mulai menarikan sebuah lagu.



Cecil saat akan menari.


Begitu keluar dari klub, Jackson kembali menyeret paksaku masuk ke dalam mobil.


"Kembali ke Apartemen Cecil." Ujarnya pada sang supir yang selalu setia di kursi kemudi.


25 menit kemudian, kami telah sampai di Apartemenku. Jackson langsung duduk di ruang tamu sambil memainkan ponselnya. Aku sama sekali tidak ingin Jackson menginap di tempatku. Saat menuangkan teh, nada bicaraku sengaja jadi menjauh. 


Begitu ada kesempatan, aku melarikan diri ke dalam kamar mandi, tanpa sepengetahuan Jackson. Aku menelpon Angela dengan maksud meminta Angela menolongku dengan mencari urusan untuk memanggilku keluar dan meninggalkan keadaan yang berbahaya dan canggung ini.


Angela awalnya tidak bersedia membantu, tidak ada yang ingin menyinggung Jackson. Namun, aku terus memohon lagi, hingga Angela setuju.


Dia tidak akan datang, melainkan akan menelponku untuk berakting dihadapan Jackson. Begitu selesai, aku segera keluar dari kamar mandi, lalu membawa teh keluar.

__ADS_1


"Silahkan diminum, Tuan Jackson." Ujarku lembut.


Derrrtttt!


Angela menelpon, aku langsung mengangkat penggilannya, dan membuka speaker agar Jackson juga mendengar.


"Halo Anggela, ada apa?" Tanyaku memulai akting.


"Cecil, cepatlah datang. Nyawaku mungkin tidak akak lama lagi," jawab Anggela lengkap dengan suara seraknya.


"Apa yang kamu katakan, bicara yang benar," jawabku panik. Tentu saja berpura-pura.


"Sekarang aku ada di rumah sakit xxx. Dokter menyatakan kalau aku mengidap kanker ganas stadium akhir. Aku sudah tidak lagi dapat merasakan tubuhku, nyawaku bahkan sangat susah untuk ditarik, sangat sesak rasanya. Hanya kamu satu-satunya temen yang sudah aku anggap seperti saudara sendiri. Aku mohon temani aku di malam terakhir ini, Cecil." Jawab Anggela sambil terisak pilu. Hampir saja aku akan tertawa karena merasa lucu dengan hal yang kini aku lakukan. Sedikit terlintas dalam pikiranku, apakah orang sekarat masih bisa berbicara? Ah sudahlah, setidaknya aku sudah berusaha.


Kulirik Jackson tak sedikit pun bergeming dari posisinya. Jackson menatapku yang kini berakting lewat telepon dengan tatapan dingin.


"Akh! Cecil, sakit sekali!" Ringis Anggela lalu panggilan pun terputus.


Aku segera mendekati Jackson. Duduk tepat disampingnya dengan wajah sepanik mungkin.


"Tuan, saya akan pergi. Saya harus menemani teman saya yang akan meninggal, dia ingin saya menemaninya untuk terakhir kali," Mohonku sambil menangis pilu.


"Teman yang mana? Apa penipu juga? Sekarang sudah jam setengah 11 malam, kalau dia tidak bisa bertahan hingga besok. Maka kamu juga tidak akan bisa bertemu dengannya saat sampai," jawab Jackson santai.


"Ingin menipuku bukanlah hal yang akan dengan mudah untuk kamu lakukan. Malam ini akan kita lalui dengan desah*nmu." Jackson langsung manarik tubuhku masuk dalam pelukannya. Lalu ....

__ADS_1


__ADS_2