
Hallo semuanya🤗
Jangan kaget karena judul dan Covernya Othor ganti plus ada tag END-nya. Tapi, memang hari ini akan Othor publish sampai TAMAT. Semoga kalian suka🥰 Jangan lupa like, komen, vote juga hadiahnya😘 Lope readers semua😍😘😘😘
Jackson memanggil Dokter, apakah dia meragukan hasil testpack itu? Cik! Apa peduliku. Terserah padanya mau bagaimana. Setidaknya kehamilan ini tidak hanya berdampak buruk bagiku, tapi juga ada sedikit harapan sisi baiknya. Semoga dengan bayi ini, aku dapat terlepas dari Jackson.
Jika Peter tau, dia pasti akan membantuku untuk menyingkir dari hidup Jackson. Jackson tidak akan punya pilihan lain, jika memilihku maka dia akan kehilangan posisinya saat ini. Tapi, aku yakin Jackson akan memilih posisinya. Memangnya siapa aku bagi Jackson? Aku hanyalah wanita pemuas nafsunya, bila sudah tidak dibutuhkan lagi, maka aku yakin dia akan melepaskanku.
Dengan begitu, aku dapat pergi dan hidup hanya bersama anakku kelak. Tenang nak, ibu tidak akan menyingkirkanmu bila ayahmu mau melepaskan Ibu. Bila tidak, Ibu mohon maafkan Ibu bila harus membuatmu pergi. Ibu melakukannya karena tidak ingin kamu turut menderita. Ibu sangat menyayangimu meski kamu adalah anak dari bajingan yang sayangnya Ibu cintai. Pikiranku terus berkecamuk, aku menangis terisak-isak. Jackson hanya menatapku tak suka.
Tak lama kemudian, Dokter yang Jackson panggil pun datang. Dokter muda nan tampan, tapi masih jauh lebih tampan Jackson. Dokter dengan kulit putih itu terlihat mempesona dengan jubah khas dokter yang melekat ditubuhnya yang sedikit berotot.
Jackson menyambut dokter itu masih dengan wajah dinginnya. Kemudian keduanya mendekat kepadaku.
"Apakah Nona adalah Istrinya Tuan Jackson?" Tanya dokter itu penasaran. Sepertinya dokter ini tidak mengenal siapa Jackson, hingga tidak mengetahui siapa yang sebenarnya Istri Jackson.
Aku menatap Dokter Winardi dengan dingin lalu menjawab dengan jujur, "Saya bukan Istrinya, dokter. Tapi saya adalah wanita simpanannya," aku sengaja mengatakan kalau aku adalah simpanan Jackson.
"Jangan dengarkan ucapannya. Cepat, periksa saja dia," saut Jackson meminta Dokter Winardi untuk mengabaikan perkataanku barusan.
Dokter Winardi mulai memeriksaku dengan menempelkan entah alat apa di dadaku, kemudian memeriksa perutku dengan saksama. "Kapan terakhir kali Tuan dan Nona berhubungan intim?" Tanya Dokter Winardi.
"Sekitar beberapa hari yang lalu, Dokter," aku menjawab cepat.
"Untuk saat ini, belum bisa dipastikan apakah Nona sedang hamil atau tidak, karena sepertinya masih di minggu awal. Kita lihat seminggu kedepan, saya perlu waktu seminggu lagi agar dapat memeriksa kembali dan mamastikannya." Jelas Dokter Winardi masih ragu apakah aku hamil dan perlu menunggu seminggu lagi untuk diperiksa kembali.
Kulihat Jackson memijat kening, pembantu mengantar dokter Winardi keluar.
***
Malamnya Cecilia terlihat sangat gelisah, Jackson yang baru selesai berpakaian langsung menghampiri Cecilia yang terbaring di atas ranjang.
"Kamu kenapa?" Tanya Jackson heran kala melihat rambut bahkan selimut yang lembab karena keringat.
__ADS_1
"Aku ... Aku sangat sakit, tolong lepaskan aku, sakitt, aku kesakitan. Tolong ... Tolong lepaskan aku," Jackson mengerutkan dahi mendengar racaua Cecilia.
Jackson duduk di pinggir ranjang. Kemudian meletakkan telapak tanganya di atas kening wanita simpanannya.
"Sial! Kenapa malah demam tinggi," umpat Jackson terlihat sangat khawatir.
"Lepaskan, jangan sentuh aku! Dasar psycho bajingan, brengesk, kejam, tidak punya hati! Berhenti membuatku menderita!" Jackson menangkap kedua tangan Cecilia yang terus memukulnya.
"Sakit, lepaskan, tanganku sakit, bajingan!" Racau Cecilia lagi membuat Jackson menghela napas kasar.
Jackson keluar dari kamar meninggalkan Cecilia seorang diri. Tak lama kemudian, Jackson kembali dengan membawa semangkuk air panas dengan handuk kecil. Tak lupa Jackson juga membawa satu tablet obat penurun panas.
Jackson meletakkannya mangkuk dan pil di atas nakas. Kemudian kembali duduk di samping Cecilia. Dilihatnya Cecilia yang sudah mulai tenang, namun tak berhenti gelisah dan terus menggelengkan kepalanya dengan air mata yang terus mengalir dari kedua sudut matanya.
"Sakitt, sakit, sakittt." Gumam Cecilia pelan.
Jackson segera mengambil pil yang tadi dia siapkan, lalu memasukkan obat itu ke mulut Cecilia.
"Cuih! Jangan menambah pahit penderita hidupku, bajingan!" Teriak Cecilia meludahi obat itu ke wajah Jackson.
Setelah itu, Cecilia kembali tenang. Dan Jackson mulai mengompres kening Cecilia dengan air hangat yang tadi dia bawa.
Tak lama kemudian, demam Cecilia mulai turun. Cecilia pun terlelap dengan nyenyak. Jackson membuka selimut, kemudian melepaskan pakaian Cecilia yang telah lembab.
Mengelap wajah dan badan Cecilia dengan sisa air hangat. Setelah selesai, Jackson menuju lemari, mengambil piyama, lalu memasangkannya ke tubuh Cecilia. Jackson tidak istirahat karena menjaga Cecilia semalaman.
***
Keesokan harinya, aku bangun dan merasa sangat nyenyak tidur semalam. Namum, adegan di mana aku mengumpat Jackson terputar bak film yang menari-nari di pikiranku. Apa yang Jackson lakukan semalam? Jackson benar-benar pria yang sulit ditebak. Terkadang baik, terkadang juga kejam.
Aku segera bangkit dan turun ke bawah. "Nona sudah baikan, sarapan Nona sudah siap di meja," Sapa seorang pembantu.
"Kamu mau ke mana?" Tanyaku cepat.
__ADS_1
"Mengantarkan teh ini ke ruang kerja Tuan Jackson, Nona."
"Jeckson tidak kerja?"
"Bukan, Nona. Tuan sudah berangkat pagi-pagi sekali. Tapi, barusan sudah pulang kantor lebih awal," jawabnya sopan.
"Berikan tehnya kepadaku, biar aku yang mengantarkannya," ucapku meminta teh itu.
"Baik, ini, Nona." Jawab pembantu mengulurkan teh dan aku menyambutnya segera. Aku pergi menggantikan pembantu mengantarkan teh untuk Jackson.
Saat masuk ke ruang kerja. Jackson baru selesai rapat online, Jackson melihatku sekilas namun tidak berkata apa pun.
"Tuan Jackson, aku ingin keluar setelah ini," ucapku sambil meletakkan teh di hadapan Jackson.
"Mau ke mana?" Tanya Jackson singkat.
"Mau mencari pria lain di klub malam," jawabku sengaja memancing emosi Jackson.
"Cik!" Jackson berdecak dengan senyuman smirik.
"Kenapa? Tuan tidak suka? Aku minta Tuan Jackson jangan mengurusi diriku karena Tuan bukanlah suamiku," jawabku asal.
“Kamu mulai berulah karena aku memanjakanmu, ya?” Jackson menjambak rambutku kebelakang.
"Kenapa? Apa aku salah mengatakan kalau Tuan bukanlah suamiku. Aku hanya mengatakan sebuah kenyataan, tapi Tuan langsung menjambakku," ucapku berontak.
"Cecilia, jangan menguji kesabaranku lagi!" Bentak Jackson melepaskan cengkramannya.
"Tuan yang menguji kesabaranku! Aku tidak bisa bersama dengan Tuan bila hanya dijadikan simpanan. Lepaskan aku!" Teriakku kembali menangis.
"Diam!" Teriak Jackson.
Derrtt....
__ADS_1
Ponsel Jackson bergetar. Jackson menjawabnya dengan speaker, aku menyeka kasar air mata dan mendengarkan percakapan keduannya.
"Jackson, aku hamil."