
Baru saja Zea selesai menuliskan cek, dia pun melihat Jackson tepat saat mengangkat kepala, dia jadi panik hingga menjatuhkan amplop di atas meja.
Jackson menajamkan penglihatannya. Aku melihatnya menatap lama foto yang terlihat setengahnya. Aku mengikuti arah pandangannya yang tepat memandang setengah foto yang memperlihatkan tanda lahir di pergelangan kakiku.
Apakah semalam Jackson melihat tanda lahir itu? Aku ingat, dia menciumi kakiku, apakah yang dia cium adalah tanda lahir itu dengan sekujur tubuh yang dibasahi keringat.
"Nona Cecilia. Maaf, aku menjatuhkan barangmu. Ini, ambillah." Ucap Zea bertindak cepat memungut amplop lalu memberikannya kepadaku. Aku langsung memasukkan amplop itu kembali ke dalam tasku.
Zea berpura-pura sangat tenang, lalu mulai membicarakan urusan rumah tangga dengan Jackson.
"Sayang ingat jangan lupa pulang ke kediaman besar pada tanggal 2 Januari untuk makan." Ujar Zea mengingatkan suaminya. Keduanya berbincang seperti sangat akrab. Hanya Zea saja, karena Jackson lebih acuh dan sangat dingin.
"Kamu kenapa bisa ada di sini, Sayang?" Tanya Zae masih berpura-pura tenang.
"Kebetulan bertemu klien di lantai atas," jawab Jackson singkat. Keduanya berbasa-basi sebentar. Begitu selesai.
"Aku pergi lebih dulu, ada pekerjaan yang harus aku lakukan." Pamit Jackson berdiri lalu berjalan keluar dari cafe.
Tak lama setelah kepergian Jackson. Aku pun segera berpamitan dengan Zea, aku berlari mengejar keluar cafe, tanpa mempedulikan teriakan Zea yang menginginkan bukti.
__ADS_1
Sampai di luar, aku melihat mobil Jackson di sebuah jalan yang paling terpencil.
Aku melihat Jackson merokok dari seberang jalan.
Supir melambaikan tangan kepadaku. Aku pun berjalan menghampiri dan masuk ke dalam mobil, sedangkan supir menunggu di luar mobil.
“Tuan Jackson.” panggilku pelan.
Jackson membuka dasinya, lalu melemparnya sembarangan di kursi co-pilot.
Tubuhku menegang ketika melihat ekspresi wajahnya yang murka, dengan napas menderu dan urat leher yang kencang. Sangat menakutkan.
Dia mengeluarkan selembar cek dari dalam amplop, dan melihat video berdurasi 1 jam yang telah aku edit menjadi 8 menit lebih.
“Mau kabur ya?”
"Ti-tidak, Tuan. Aku ... Aku hanya—" Aku terbata karena sangat ketakutan hingga tak berani menatap wajahnya dengan mata tajam itu.
"Tidak apa, ha!" Bentaknya membuat jantungku berdebar lebih cepat.
__ADS_1
“4 miliar cukup?”
Aku menundukkan wajahku dalam, aku benar-benar sangat ketakutan, bahkan aku berkeringat dingin hingga telapak tanganku juga berkeringat menandakan kegugupan yang amat sangat menyelimutiku.
“Cecilia, kamu mau main muka dua denganku, ya?” Tanyanya menggenggam daguku kencang, hingga membuatku memejamkan mata meringis Manahan sakit.
Aku sangat ketakutan, aku telah melakukan hal yang paling tabu bagi Jackson. Penipuan, jebakan, kebohongan, aku melanggar tiga batas kesabarannya dalam semalam dan tertangkap basah.
Jackson mengencangkan ganggamannya pada daguku hingga membuat mulutku terbuka otomatis. Dia menatap lidahku yang merah cerah dan tidak membiarkanku menutup mulut.
“Sudah ku peringatkan kepadamu, apa pun yang kamu dapatkan, Zea juga tidak akan menang. Cerai dan menghancurkanku tidak semudah yang kalian bayangkan.” ucapnya menekan kalimat itu dengan dibaluti emosi kemarahan. Aku berusaha menahan mataku agar tak lagi terpejam. Karena sedikit saja aku terpejam, maka buliran bening yang berusaha kutahan aku lolos saat itu juga.
Aku sangat membenci yang namanya menangis. Aku bisa saja menangis, tapi tidak di depan orang lain, apalagi di depan Jackson. Aku sangat tidak ingin dicap sebagai wanita lemah, yang akan mencoreng citra beraniku. Untuk itulah aku sangat jarang menangis sesulit apa pun hidup yang aku jalani.
“Mulutmu ini suka sekali berbohong, menurutmu apa aku tega, Cecil?”
Kemarahan tergambar jelas di wajah Jackson, dan sekarang dia semakin acuh tak acuh. aku sangat ketakutan.
Puas menggenggam daguku, tangannya kekarnya berpindah mencekik tenggorokanku erat. Membuatku tidak bisa bersuara sama sekali, bahkan untuk menelan ludah saja sulit. Apalagi bila harus berbicara. Sangat tidak mungkin.
__ADS_1
Aku mengeluarkan beberapa patah kata dari tenggorokannya. “Kak Jackson .…” ucapku sendu karena hampir kehabisan napas.